PKU VIII Sampaikan Kajian Ilmiah di UMS hingga ke Ta‘mirul Islam dan STIM Ngruki

PKU VIII Sampaikan Kajian Ilmiah di UMS hingga ke Ta‘mirul Islam dan STIM Ngruki

SURAKARTA–Pada hari kedua menggelar workshop di Solo, Sabtu (21/2), Program Kaderisasi Ulama (PKU) VIII Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor memiliki jadwal padat dari pagi hingga sore. Pagi hari, sebagian peserta PKU VIII bersama Khoirul Umam, M.Ec. mampir di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Sedangkan Dr. Kholid Muslih membawa rombongan ke Pondok Pesantren Ta‘mirul Islam. Setelah itu, kedua rombongan bersama-sama menuju Sekolah Tinggi Islam Al-Mukmin (STIM) Ngruki untuk menggelar kajian ilmiah dalam dua sesi, siang hingga sore.

Workshop di UMS diisi tiga pembicara dari peserta PKU VIII. Mereka adalah Ahmad Kali Akbar, Harisman, dan Muryadi. Pembicara pertama membahas kerancuan hermeneutika yang sama sekali tidak bisa digunakan untuk menafsirkan Al-Qur’an. Harisman sebagai pembicara kedua menyampaikan tentang kedudukan wanita dalam pandangan Syi‘ah. Sedangkan Muryadi menerangkan pembahasannya yang berkenaan dengan ijtihad dalam menerapkan hukum syariat.

Sesi diskusi menarik. Karena peserta yang hadir terdiri dari dosen-dosen UMS. Beberapa dosen yang sebagian telah bergelar doktor itu mengajukan pertanyaan-pertanyaan seputar Syi‘ah dan hermeneutika, serta ijtihad. Namun, ketiga peserta PKU tersebut dengan tangkas menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Maka, tidak heran jika orang-orang yang hadir di ruang pertemuan UMS itu mengaku salut dengan kemampuan PKU yang mampu melahiran kader-kader ulama berkualitas.

Pada saat yang sama, Ahmad Sofyan Hadi, Ahmad Fauzan, dan Syamsi Wal Qamar, tiga peserta PKU VIII lainnya, mengisi workshop di Ta‘mirul Islam. Sofyan menekankan pembahasannya pada problem multikulturalisme dalam pendidikan keagamaan Islam, sedangkan Fauzan mengkritisi pemikiran Nasr Hamid Abu Zaid yang menyatakan bahwa Al-Qur’an itu produk budaya. Sementara Syamsi lebih condong mengkritisi pemaknaan kata Islam yang salah dari orientalis dan liberal. Menurut Syamsi, memaknai Islam sebagai kata yang hanya bermakna “berserah diri” jelas tidak sesuai dengan firman Allah yang menyatakan bahwa Islam itu jelas-jelas nama agama.

“Orang-orang orientalis dan kaum liberal memaknai Islam ‘berserah diri’. Mereka ingin menyebut orang-orang di luar Islam sebagai ‘muslim’ jika mereka juga berserah diri, sehingga tidak perlu memeluk Islam untuk menjadi muslim. Padahal, Allah secara eksplisit telah menyebut Islam sebagai nama agama yang dibawa oleh Rasulullah Saw. Kalau seseorang tidak memeluk Islam sebagai agamanya, maka dia bukanlah seorang muslim,” jelas Syamsi.

Pada siang hari, di STIM Ngruki, pembicara sesi pertama adalah Ahmad Kali Akbar yang kembali membawakan materi tentang hermeneutika sehabis presentasi di UMS. Ia bersanding dengan Qaem Aulassyahied yang mengkritik konsep sunah Muhammad Syahrur. Sedangkan sesi kedua, setelah Ashar, diisi dua pembicara lainnya dari peserta PKU VIII yang menyampaikan tema tentang pendidikan. Pada kesempatan ini, Ahmad Sofyan Hadi kembali diminta memaparkan materi sebagaimana yang ia sampaikan di Ta‘mirul Islam pagi harinya. Ia ditemani M. Aqil Azizy yang membeberkan adanya liberalisasi kurikulum pendidikan melalui buku-buku sekolah.

“Mari kita telusuri buku-buku bermuatan liberalisme, pluralisme, dan paham-paham Barat lainnya di sekolah. Saya menemukan sebuah buku yang mengajari anak-anak untuk berpacaran. Padahal mendekati zina saja sudah dilarang dalam Islam. Ini adalah upaya merusak akhlak dan kepribadian generasi muda kita agar Islam tidak lagi memiliki kader penerus perjuangan yang bisa jadi tumpuan umat,” kata Aqil mengakhiri paparannya.*elk

PKU VIII Sampaikan Kajian Ilmiah di UMS hingga ke Ta‘mirul Islam dan STIM Ngruki

PKU VIII Sampaikan Kajian Ilmiah di UMS hingga ke Ta‘mirul Islam dan STIM Ngruki

SURAKARTA–Pada hari kedua menggelar workshop di Solo, Sabtu (21/2), Program Kaderisasi Ulama (PKU) VIII Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor memiliki jadwal padat dari pagi hingga sore. Pagi hari, sebagian peserta PKU VIII bersama Khoirul Umam, M.Ec. mampir di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Sedangkan Dr. Kholid Muslih membawa rombongan ke Pondok Pesantren Ta‘mirul Islam. Setelah itu, kedua rombongan bersama-sama menuju Sekolah Tinggi Islam Al-Mukmin (STIM) Ngruki untuk menggelar kajian ilmiah dalam dua sesi, siang hingga sore.

Workshop di UMS diisi tiga pembicara dari peserta PKU VIII. Mereka adalah Ahmad Kali Akbar, Harisman, dan Muryadi. Pembicara pertama membahas kerancuan hermeneutika yang sama sekali tidak bisa digunakan untuk menafsirkan Al-Qur’an. Harisman sebagai pembicara kedua menyampaikan tentang kedudukan wanita dalam pandangan Syi‘ah. Sedangkan Muryadi menerangkan pembahasannya yang berkenaan dengan ijtihad dalam menerapkan hukum syariat.

Sesi diskusi menarik. Karena peserta yang hadir terdiri dari dosen-dosen UMS. Beberapa dosen yang sebagian telah bergelar doktor itu mengajukan pertanyaan-pertanyaan seputar Syi‘ah dan hermeneutika, serta ijtihad. Namun, ketiga peserta PKU tersebut dengan tangkas menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Maka, tidak heran jika orang-orang yang hadir di ruang pertemuan UMS itu mengaku salut dengan kemampuan PKU yang mampu melahiran kader-kader ulama berkualitas.

Pada saat yang sama, Ahmad Sofyan Hadi, Ahmad Fauzan, dan Syamsi Wal Qamar, tiga peserta PKU VIII lainnya, mengisi workshop di Ta‘mirul Islam. Sofyan menekankan pembahasannya pada problem multikulturalisme dalam pendidikan keagamaan Islam, sedangkan Fauzan mengkritisi pemikiran Nasr Hamid Abu Zaid yang menyatakan bahwa Al-Qur’an itu produk budaya. Sementara Syamsi lebih condong mengkritisi pemaknaan kata Islam yang salah dari orientalis dan liberal. Menurut Syamsi, memaknai Islam sebagai kata yang hanya bermakna “berserah diri” jelas tidak sesuai dengan firman Allah yang menyatakan bahwa Islam itu jelas-jelas nama agama.

“Orang-orang orientalis dan kaum liberal memaknai Islam ‘berserah diri’. Mereka ingin menyebut orang-orang di luar Islam sebagai ‘muslim’ jika mereka juga berserah diri, sehingga tidak perlu memeluk Islam untuk menjadi muslim. Padahal, Allah secara eksplisit telah menyebut Islam sebagai nama agama yang dibawa oleh Rasulullah Saw. Kalau seseorang tidak memeluk Islam sebagai agamanya, maka dia bukanlah seorang muslim,” jelas Syamsi.

Pada siang hari, di STIM Ngruki, pembicara sesi pertama adalah Ahmad Kali Akbar yang kembali membawakan materi tentang hermeneutika sehabis presentasi di UMS. Ia bersanding dengan Qaem Aulassyahied yang mengkritik konsep sunah Muhammad Syahrur. Sedangkan sesi kedua, setelah Ashar, diisi dua pembicara lainnya dari peserta PKU VIII yang menyampaikan tema tentang pendidikan. Pada kesempatan ini, Ahmad Sofyan Hadi kembali diminta memaparkan materi sebagaimana yang ia sampaikan di Ta‘mirul Islam pagi harinya. Ia ditemani M. Aqil Azizy yang membeberkan adanya liberalisasi kurikulum pendidikan melalui buku-buku sekolah.

“Mari kita telusuri buku-buku bermuatan liberalisme, pluralisme, dan paham-paham Barat lainnya di sekolah. Saya menemukan sebuah buku yang mengajari anak-anak untuk berpacaran. Padahal mendekati zina saja sudah dilarang dalam Islam. Ini adalah upaya merusak akhlak dan kepribadian generasi muda kita agar Islam tidak lagi memiliki kader penerus perjuangan yang bisa jadi tumpuan umat,” kata Aqil mengakhiri paparannya.*elk

PKU VIII Sampaikan Kajian Ilmiah di UMS hingga ke Ta‘mirul Islam dan STIM Ngruki

PKU VIII Sampaikan Kajian Ilmiah di UMS hingga ke Ta‘mirul Islam dan STIM Ngruki

SURAKARTA–Pada hari kedua menggelar workshop di Solo, Sabtu (21/2), Program Kaderisasi Ulama (PKU) VIII Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor memiliki jadwal padat dari pagi hingga sore. Pagi hari, sebagian peserta PKU VIII bersama Khoirul Umam, M.Ec. mampir di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Sedangkan Dr. Kholid Muslih membawa rombongan ke Pondok Pesantren Ta‘mirul Islam. Setelah itu, kedua rombongan bersama-sama menuju Sekolah Tinggi Islam Al-Mukmin (STIM) Ngruki untuk menggelar kajian ilmiah dalam dua sesi, siang hingga sore.

Workshop di UMS diisi tiga pembicara dari peserta PKU VIII. Mereka adalah Ahmad Kali Akbar, Harisman, dan Muryadi. Pembicara pertama membahas kerancuan hermeneutika yang sama sekali tidak bisa digunakan untuk menafsirkan Al-Qur’an. Harisman sebagai pembicara kedua menyampaikan tentang kedudukan wanita dalam pandangan Syi‘ah. Sedangkan Muryadi menerangkan pembahasannya yang berkenaan dengan ijtihad dalam menerapkan hukum syariat.

Sesi diskusi menarik. Karena peserta yang hadir terdiri dari dosen-dosen UMS. Beberapa dosen yang sebagian telah bergelar doktor itu mengajukan pertanyaan-pertanyaan seputar Syi‘ah dan hermeneutika, serta ijtihad. Namun, ketiga peserta PKU tersebut dengan tangkas menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Maka, tidak heran jika orang-orang yang hadir di ruang pertemuan UMS itu mengaku salut dengan kemampuan PKU yang mampu melahiran kader-kader ulama berkualitas.

Pada saat yang sama, Ahmad Sofyan Hadi, Ahmad Fauzan, dan Syamsi Wal Qamar, tiga peserta PKU VIII lainnya, mengisi workshop di Ta‘mirul Islam. Sofyan menekankan pembahasannya pada problem multikulturalisme dalam pendidikan keagamaan Islam, sedangkan Fauzan mengkritisi pemikiran Nasr Hamid Abu Zaid yang menyatakan bahwa Al-Qur’an itu produk budaya. Sementara Syamsi lebih condong mengkritisi pemaknaan kata Islam yang salah dari orientalis dan liberal. Menurut Syamsi, memaknai Islam sebagai kata yang hanya bermakna “berserah diri” jelas tidak sesuai dengan firman Allah yang menyatakan bahwa Islam itu jelas-jelas nama agama.

“Orang-orang orientalis dan kaum liberal memaknai Islam ‘berserah diri’. Mereka ingin menyebut orang-orang di luar Islam sebagai ‘muslim’ jika mereka juga berserah diri, sehingga tidak perlu memeluk Islam untuk menjadi muslim. Padahal, Allah secara eksplisit telah menyebut Islam sebagai nama agama yang dibawa oleh Rasulullah Saw. Kalau seseorang tidak memeluk Islam sebagai agamanya, maka dia bukanlah seorang muslim,” jelas Syamsi.

Pada siang hari, di STIM Ngruki, pembicara sesi pertama adalah Ahmad Kali Akbar yang kembali membawakan materi tentang hermeneutika sehabis presentasi di UMS. Ia bersanding dengan Qaem Aulassyahied yang mengkritik konsep sunah Muhammad Syahrur. Sedangkan sesi kedua, setelah Ashar, diisi dua pembicara lainnya dari peserta PKU VIII yang menyampaikan tema tentang pendidikan. Pada kesempatan ini, Ahmad Sofyan Hadi kembali diminta memaparkan materi sebagaimana yang ia sampaikan di Ta‘mirul Islam pagi harinya. Ia ditemani M. Aqil Azizy yang membeberkan adanya liberalisasi kurikulum pendidikan melalui buku-buku sekolah.

“Mari kita telusuri buku-buku bermuatan liberalisme, pluralisme, dan paham-paham Barat lainnya di sekolah. Saya menemukan sebuah buku yang mengajari anak-anak untuk berpacaran. Padahal mendekati zina saja sudah dilarang dalam Islam. Ini adalah upaya merusak akhlak dan kepribadian generasi muda kita agar Islam tidak lagi memiliki kader penerus perjuangan yang bisa jadi tumpuan umat,” kata Aqil mengakhiri paparannya.*elk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *