PKU VIII Jadi Tamu Istimewa di UMJ dan UNJ

PKU VIII Jadi Tamu Istimewa di UMJ dan UNJ

JAKARTA–Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dan Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) menerima rombongan tamu istimewa pada Selasa (3/3) pagi. Mereka adalah para peserta Program Kaderisasi Ulama (PKU) VIII Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor. Hari itu, mereka dijadwalkan menggelar workshop bertema pemikiran dan peradaban Islam.

Workshop PKU VIII di UMJ

Workshop PKU VIII di UMJ

Acara yang dilaksanakan di kedua universitas tersebut berlangsung secara bersamaan. Karena itu, rombongan terbagi dua kelompok. Masing-masing dibimbing dua dosen. Peserta PKU VIII yang melaksanakan workshop di UNJ ditemani Hasib Amrullah, M.Ag. dan Harda Armayanto, M.A., sedangkan di UMJ didampingi Dr. Dihyatun Masqon, M.A. dan Setiawan Bin Lahuri, M.A.

Sambutan penuh kekeluargaan diterima PKU VIII di kedua tempat tersebut. Kedatangan rombongan di UMJ langsung disambut rektornya, Dr. H. Syaiful Bakhri, S.H., M.H. Sang rektor yang lahir di Kotabaru, Kalimantan Selatan, ini merasa sangat senang denga kehadiran tamu dari Gontor. Ia berharap kerja sama ini terus berlanjut dan membuka pintu selebar-lebarnya bagi alumni Gontor untuk melanjutkan studi dalam bidang apapun di salah satu perguruan tinggi milik Muhammadiyah tersebut.

Selanjutnya, di hadapan seluruh mahasiswa dan mahasiswi Fakultas Agama Islam UMJ, tiga pembicara dari peserta PKU VIII menyampaikan pembahasan mereka. Tema yang dibawakan ketiga pembicara tersebut berkaitan dengan pluralisme dan multikulturalisme, dua paham yang mulai membudaya di kalangan masyarakat umum, serta tentang ijtihad dalam menetapkan hukum syariat.

Selain itu, sambutan meriah diberikan pihak UNJ kepada PKU VIII. Workshop digelar di sebuah auditorium besar dan megah. Acara pun disiapkan dengan persiapan yang matang. Para mahasiswa dan mahasiswi tampak antusias mengikuti tema demi tema yang disampaikan para pembicara.

Pembahasan menarik tentang hermeneutika dibahas di sini. Metode penafsiran yang pada awalnya digunakan untuk menafsirkan Bibel ini ingin diterapkan dalam menafsirkan Al-Qur’an, dengan mengesampingkan kaidah tafsir yang telah digariskan ulama terdahulu. Pembahasan lainnya tentang upaya salah seorang tokoh muslim yang berpikiran liberal, Abdullahi Ahmed An-Na‘im, dalam merombak hukum syariat Islam. Ia menggunakan metode yang sangat bertentangan dengan tradisi keilmuan Islam, sehingga usahanya jelas untuk menghancurkan Islam dari dalam.

Satu pembahasan lagi berkenaan dengan beragam penistaan Al-Qur’an yang terjadi di berbagai belahan dunia karena pemikiran salah satu tokoh muslim liberal lainnya, yaitu Nasr Hamid Abu Zaid. Pemikirannya yang menyatakan Al-Qur’an merupakan produk budaya telah membuat Al-Qur’an dianggap tidak sakral lagi. Karena itu, pemikiran ini tidak bisa ditolerir dan harus dikritisi agar kemurnian dan kesucian Al-Qur’an tidak ternodai.*elk

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *