PKU VIII Bertandang ke Ar-Rohmah Putri Malang dan IAIN Jember

PKU VIII Bertandang ke Ar-Rohmah Putri Malang dan IAIN Jember

MALANG–Pada hari Senin (16/2), salah satu peserta PKU VIII yang membahas tentang “Liberalisasi Kurikulum Pendidikan”, M. Aqil Azizy, diminta menyampaikan materinya di Ar-Rohmah Putri Islamic Boarding School, Malang. Sehari sebelumnya, di tempat ini juga diadakan workshop PKU VIII bertemakan “Problem Pendidikan Keluarga Berwawasan Gender (PKBG)” oleh Saiful Anwar, dihadiri siswi-siswi dari SMA Ar-Rohmah Putri Islamic Boarding School. Kali ini, pesertanya dikhususkan untuk guru-guru Ar-Rohmah Putri.

Pada waktu bersamaan, beberapa peserta PKU VIII rombongan Tapal Kuda juga menggelar workshop di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember. Pada kesempatan ini, empat peserta PKU VIII secara bergantian mempresentasikan pembahasan mereka di hadapan mahasiswa-mahasiswi IAIN Jember. Pembahasan menarik dari keempat pembicara tersebut membuat mereka sangat antusias mengikuti workshop.

Salah satu pembahasannya berjudul “Problem Penyimpangan Orientasi Seksual”, disampaikan oleh Ayub. Menyeruaknya aktivitas kaum lesbian, gay, biseksual, dan transgender atau biasa disingkat dengan LGBT, benar-benar meresahkan umat Islam. Menurut Ayub, penyimpangan orientasi seksual ini bukanlah fitrah manusia yang bisa dilegalkan. Ini adalah kesesatan yang harus diluruskan. Ayub juga memaparkan fakta-fakta yang menyatakan bahwa LGBT merupakan penyakit sosial yang bisa disembuhkan dan harus dilenyapkan, bukan dilestarikan.

Tema yang tidak jauh berbeda disampaikan oleh Zuhdi Abdillah. Peserta PKU VIII yang satu ini membahas “Kritik terhadap Pemikiran Homoseksual Irshad Manji”. Zuhdi mencoba menguak dan mengkritisi pemikiran penulis buku “Allah, Liberty and Love” dari Kanada ini. Tulisannya di buku itu menggugat ketentuan-ketentuan Islam tentang kebebasan individu. Menurut Zuhdi, Manji ingin melegalkan aktivitas homoseksual, terutama untuk kaum lesbian. Manji tidak ingin agama membatasi kebebasan seseorang. Pemikirannya inilah yang menurut Zuhdi telah keluar dari syariat Islam dan harus diberantas.

Pembicara lainya, Kali Akbar, mengupas tentang “Hermeneutika vs Takwil”. Dia menjelaskan bahwa Islam tidak mengenal metode hermeneutika untuk menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an. Metode ini ciptaan orang-orang Barat yang sebelumnya diterapkan untuk penafsiran Bibel. Kemudian mereka mencoba menawarkan kepada Islam untuk tujuan yang sama pada Al-Qur’an. Tidak sedikit intelektual muslim yang terpesona dengan metode ini hingga tergila-gila menerapkannya pada Al-Qur’an. Padahal, Islam sudah memiliki metode tafsir dan takwil tersendiri, warisan ulama-ulama terdahulu yang otoritatif dan terpercaya. Menurut Kali, metode hermeneutika ini hanyalah akal-akalan Barat untuk menghancurkan Al-Qur’an dan menyesatkan umat Islam.

Tak kalah menarik, pembicara keempat, Mahmud Budi Setiawan, menjelaskan tentang “Analisa Kritis Studi Hadis Kaum Feminis”. Gerakan feminisme yang telah menyeruak di kalangan kaum perempuan Indonesia belakangan ini mulai menggila. Bahkan, untuk membenarkan paham mereka tentang persamaan antara laki-laki dan perempuan, mereka berani mengutip hadis-hadis yang dipelintir sedemikian rupa hingga seakan-akan mendukung gerakan mereka. Mahmud memberikan kritiknya dengan menyingkap kesalahan-kesalahan studi hadis mereka. Dia juga menjelaskan bahwa Islam memiliki konsep keadilan antara laki-laki dan perempuan, yang membuat perempuan terjaga kehormatannya dan memiliki derajat yang sama di sisi Allah dengan keimanan dan ketakwaan masing-masing.*elk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *