PKU VIII Berbagi Keilmuan dalam Workshop Pemikiran Islam di Tazakka dan STAIN Pekalongan

PKU VIII Berbagi Keilmuan dalam Workshop Pemikiran Islam di Tazakka dan STAIN Pekalongan

BATANG–Kedatangan rombongan Program Kaderisasi Ulama (PKU) VIII Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor di Batang dan Pekalongan mendapat sambutan hangat, baik dari para santri dan guru Pondok Modern Tazakka maupun dari segenap dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pekalongan. Mereka tiba di Tazakka pada Rabu (25/2) sore, setelah menempuh perjalanan jauh dari Kota Semarang. Esoknya, Kamis (26/2) pagi, rombongan dibagi dua untuk menggelar workshop mengenai tantangan pemikiran Islam di Tazakka dan STAIN Pekalongan secara bersamaan.

Workshop PKU VIII di STAIN Pekalongan

Workshop PKU VIII di STAIN Pekalongan

Didampingi seorang dosen pembimbing, Khaerul Umam, M.Ec., tiga peserta PKU VIII ditentukan mengisi workshop di hadapan santri-santri Pondok Modern Tazakka. Mereka adalah M. Shohibul Mujtaba, Abid Ikhwan Alhadi, dan Muryadi. Sedangkan tiga pembicara lainnya didampingi oleh H. Adib Fuadi Nuriz, M.A., M.Phil., menggelar workshop yang dihadiri para dosen dan mahasiswa Program Pascasarjana STAIN Pekalongan. Ketiga pembicara tersebut adalah Ahmad Kali Akbar, Ayub, dan Ahmad Khaerurrozikin.

Dalam workshop yang digelar di dua tempat berbeda tersebut, Mujtaba menjelaskan konsep ikhtilaf dalam Islam, mengingat banyaknya perselisihan pendapat yang cenderung menjadi penyebab perpecahan umat. Ia memaparkan batasan-batasan ikhtilaf yang tidak menyentuh pokok-pokok agama sebagaimana dipraktikkan para ulama terdahulu. Sehingga, umat ini tetap bersatu dalam perbedaan.

Sedangkan Abid menjelaskan tuduhan-tuduhan Syi‘ah terhadap para ulama Sunni hanyalah rekayasa belaka. Berbagai tuduhan Syi‘ah yang tertuang di buku “Syi‘ah Menurut Syi‘ah” karangan Tim Ahlulbait Indonesia itu berhasil dimentahkan oleh Abid. Salah satunya adalah tentang tahrif Al-Qur’an. Syi‘ah menyimpulkan adanya penyelewengan ayat-ayat Al-Qur’an oleh ulama Sunni. Ternyata, setelah ditelusuri, Abid mengatakan bahwa tuduhan Syi‘ah ini tidak benar. Ulama Sunni tidak melakukan tahrif Al-Qur’an, melainkan naskh yang sesuai dengan kaidah ilmu Al-Qur’an.

Sementara Muryadi menjelaskan tata cara berijtihad dalam menetapkan hukum syariat Islam. menurutnya, banyak orang yang asal-asalan dalam menghukumi suatu permasalahan tanpa melihat situasi dan kondisi yang tengah terjadi.

Lain halnya dengan Kali Akbar, ia menegaskan metode hermeneutika yang dikenal dengan metode tafsir kontemporer itu tidak bisa digunakan untuk menafsirkan Al-Qur’an. Menurutnya, jika hermeneutika digunakan untuk memahami Al-Qur’an, maka penafsirannya akan sangat jauh dari apa yang telah diriwayatkan oleh Rasulullah Saw dan para sahabatnya.

Kemudian Ayub berbicara mengenai penyimpangan orientasi seksual yang makin marak terjadi di mana-mana, seiring dengan menjalarnya paham liberalisme. Hal ini jelas menyalahi fitrah manusia dan melanggar hukum agama. Ayub ingin menyadarkan semua orang bahwa homoseksual itu penyakit sosial yang bisa disembuhkan.

Berikutnya, Khaerurrozikin menerangkan problem pluralisme agama di Indonesia. Paham ini, katanya, telah menghilangkan batas-batas toleransi beragama. Pluralisme telah membuat kabur dan samar perbedaan antaragama. Intinya, pluralisme ingin menyamakan agama-agama dan membuat umat Islam ragu-ragu terhadap kebenaran mutlak agamanya karena toleransi kebablasan yang telah mengikis keimanan.*elk

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *