Penerapan PHT Menuju Sustainable Agriculture

Penerapan PHT Menuju Sustainable Agriculture

UNIDA Gontor –  Sejak “Green Revolution” sekitar tahun 1980-an Indonesia melalui presiden Soeharto melakukan usaha untuk mempertahankan pertanian Indonesia dengan melakukan penanaman varietas unggul, subsidi pupuk, pestisida dan irigasi. Pencapain Indonesia dibilang maksimal, hingga mendapat pujian sebagai Negara Berdaulat Pangan oleh FAO (Food Agriculture Organization).

Akan tetapi gelar tersebut tidak bertahan lama. Selang beberapa tahun, terjadi serangan Brown planthooper (wereng coklat) yang mengakibatkan kegagalan panen diseluruh Indonesia. Hal ini menjadi keterpurukan bangsa Indonesia kala itu. Penyebab serangan hama wereng coklat disebabkan karena resistensi wereng akibat aplikasi pestisida yang berlebihan.

Penerapan PHT (Pengendalian Hama Terpadu) merupakan pengendalian hayati yang memanfaatkan makhluk hidup disekitar tanaman induk. PHT di Indonesia diatur dalam INPRES 3/1986; 7, tentang pelarangan penggunaan insektisida pada tanaman padi.

Pilar Ekosistem Pertanian

Pilar Ekosistem Pertanian

Menurut Ir. Hari Purnomo, M.Sc. P.h D., DIC, bahwa dari keseluruhan serangga dan atrhopoda yang ada didunia, 98% adalah menguntungkan dan hanya 2% saja yang dikategorikan sebagai hama. Dosen dan Kaprodi Agrotek Universitas Jember ini mengatakan kunci dari PHT adalah memamanfaatkan musuh alami (predator) dan tanaman refugia sebagai rumah singgah dari predator tersebut.

“Saya pernah di korea 4 bulan, disana belalang dan walang sangit digoreng lalu dimakan. Sebenarnya, mereka dalam satu jalur apabila dilihat dari klasifikasi makhluk hidup, berarti manusia juga bisa sebagai pengendali hama”, ungkap Ir. Hari yang diiukiti dengan decak suara tertawa dari peserta kuliah umum yang dihadiri oleh penyuluh pertanian, ketua kelompok tani Ponorogo dan Mahasiswa Agrotek UNIDA Gontor, Selasa (9/10) di Hall Shiroh.

Keprihatinan dirasakan Ir. Hari dengan melihat penggunaan pestisida yang melampaui batas. Padahal pestisida hanya bertahan seketika dan mengakibatkan hal negatif seperti kerusakan ekosistem lingkungan, mengancam keanekaragaman hayati dan bagi petani pastinya input biaya produksi yang tinggi.

Dalam proses diskusi yang dilakukan diakhir acara Kuliah Umum dengan tema “Penerapan PHT Menuju Pertanian Berkelanjutan”, dari kelompok tani Ponorogo tertarik dengan pemaparan Ir. Hari. Mereka berkomitmen untuk menerapkan PHT dan meminta bimbingan dan UNIDA dan Ir. Hari terhadap kelompoknya.

Pertanian dunia menyumbang kerusakan alam terbesar. Jangan biarkan perilaku petani kita, ikut merusak keseimbangan alam ini. [Iqbal]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *