Universitas Darussalam Gontor

Penelitian Limbah Kayu Putih oleh Dosen Agroteknologi UNIDA Gontor: Proses Pemanfaatan Limbah Hingga Hasil Yang Lebih Ramah Lingkungan.

UNIDA Gontor (13/10/20) – Dengan didukung oleh Dana hibah Kementrian Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi, dan melalui program Penelitian Kerjasama antar Perguruan Tinggi (PKPT), Dosen Agroteknologi Universitas Darussalam Gontor Bersama Tenaga Ahli Universitas Negeri Surakarta melakukan penelitian terkait Potensi Limbah Industri Kayu Putih sebagai Kompos di salah satu pabrik kayu putih Sukun, Ponorogo.

Tanaman Kayu Putih merupakan salah satu jenis tanaman yang mempunyai peranan cukup penting dalam industri minyak atsiri. Di Ponorogo sendiri, tanaman kayu putih sudah lama diberdayakan oleh Perum Perhutani BKPH Sukun KPH Madiun yang bekerjasama dengan masyarakat di sekitar hutan. kegiatan pabrik di lokasi tersebut memang terbilang sudah cukup lama, dan banyak terjadi penimbunan limbah yang tak banyak terselamatkan, baik limbah padat maupun cair. Menurut pemaparan Ustadzah Umi Isnatin, ketika pertama kali datang ke lokasi, awalnya limbah padat kayu putih ini terlihat menggunung dan tidak banyak dimanfaatkan, hanya saja sebagian sering digunakan sebagai bahan bakar proses penyulingan, namun tidak seberapa yang digunakan. Bahkan dengan melihat di sekitaran lokasi banyak tanaman-tanaman juga yang menguning akibat penumpukan limbah tersebut. hal ini disebabkan, limbah tersebut mengandung senyawa lignin yang sulit dihancurkan dan bersifat meracun bagi tanaman sekitarnya. Dengan permasalahan tersebut, Dosen Agroteknologi UNIDA Gontor, Ustadzah Umi Isnatin, SP. MP, Ustadz Dr. Parwi ,SP.MP, Muhammad, SP.MP, dan Tim berinisiatif untuk melakukan penelitian terkait pemanfaatan limbah Kayu Putih tersebut untuk dijadikan kompos yang bermanfaat sebagai pupuk organik kedepannya.

Tim Peneliti meninjau lokasi limbah Kayu Putih yang terlihat menumpuk

Proses Awal Penelitian

Melalui kerjasama dengan pihak perusahaan serta beberapa mitra terkait, Tim Peneliti mengajukan Proposal ke Kemenristekdikti dan alhamdulillah disetujui. Sebagai asumsi awal, Tim peneliti berharap bahwa penelitiannya kelak bisa kembali pada pemanfaatan limbah yang lebih baik dan membantu petani dan warga sekitar, agar bisa memanfaatkan kompos dari limbah tersebut sebagai pupuk alternatif bagi tanaman mereka. Penelitian ini memakan waktu selama kurang lebih 2 tahun (2018 hingga 2019). Dalam perjalanannya, tim peneliti awalnya berusaha mencari formula bagaimana limbah kayu putih ini berhasil dijadikan kompos. Hal ini disebabkan, melalui berbagai literatur yang tim peneliti kumpulkan, limbah kayu putih memang tergolong sebagai limbah yang sulit terdekomposisi dan bisa memakan waktu tahunan. Dengan fakta di lapangan, limbah yang ditemukan banyak yang masih utuh dan hanya kering, diakibatkan senyawa yang terkandung pada limbah kayu putih tersebut. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan memotong limbah dedaunan tersebut hingga ukuran terkecil. Selain itu juga untuk menghancurkan atau mempercepat proses dekomposisi, menurut pemaparan ustadzah Umi, pihak tim mencari dan memanfaatkan microbia, bacteri di sekitaran lokasi, dan bukan dari luar lokasi. Hal ini dikarenakan pemanfaatan limbah tersebut, utamanya akan dikembalikan ke daerah tersebut lagi sebelum proses pengembangan lebih lanjut. Melalui proses yang Panjang, akhirnya tim peneliti mampu mendapatkan formula yang mampu mendukung proses percepatan dekomposisi limbah.

Uji Senyawa Limbah Kayu Putih

Uji Coba Tanaman oleh Kompos hasil Limbah.

Dalam uji coba terhadap tanaman, tim peneliti memanfaatkan tanaman kedelai sebagai objek penelitian. Dan untuk lokasi penelitiannya tim peneliti memilih tiga lokasi yang berbeda dengan jenis tanah yang berbeda pula, diantaranya lahan berkapur, lahan berpasir, dan lahan tererosi. Dengan kesimpulannya bahwa secara analisis produksi, pemanfaatan limbah kayu putih dapat meningkatkan hasil tanaman kedelai. Dan secara analisis ekonomi usaha tani, pemanfaatan kompos limbah kayu putih untuk meningkatkan hasil kedelai layak di lahan tererosi, dan tidak layak di lahan berpasir maupun berkapur.

Harapan Kedepan terkait hasil penelitian.

Dengan hasil penelitian yang dilaksanakan, dirangkum dari pemaparan ustadzah Umi Isnatin, tim peneliti berharap bahwa kedepannya dengan sosialisasi-sosialisasi yang dilakukan, kompos limbah kayu putih ini bisa bermanfaat dalam mendukung pertanian kelompok masyarakat atau para petani. Namun kelemahan yang ditemukan, pada umumnya memang pupuk organik ini terbilang lebih lama dalam segi proses penyerapannya dibanding pupuk kimia atau anorganik, sedangkan melihat kondisi di lapangan, para petani pada umumnya lebih banyak memilih yang instan dan cepat proses penyerapannya (dalam hal ini pupuk unorganik) dibanding pupuk organik. Untuk itu pupuk organik masih sedikit diminati diantara kalangan petani. Untuk itu menurut beliau, dalam proses yang saat ini masih pada masa penelitian, diharapkan kedepannya berlanjut pada masa pengabdian (dalam hal ini dengan melakukan proses sosialisasi berkelanjutan terkait pupuk akternatif yang sudah diteliti sebelumnya). Padalah jika dilihat dari dampaknya sendiri, pupuk organik dinilai lebih ramah lingkungan dan tidak merusak komposisi tanah dibanding pupuk kimia. “melalui proses pengabdian dan sosialisasi yang dilakukan, selain mampu merubah mindset berfikir petani bahwa organik itu memang waktunya lama, akan tetapi kan positifnya ke tanah, ke tanahnya itu kan juga baik” tutur Ustadzah Umi Isnatin. “seperti manusia kan kalo kimia cepet, tapi efek ke organ-organnya nggak bagus, seperti itu juga tanah kan seperti itu” imbuh beliau.

Pada hasilnya, pemanfaatan limbah kayu putih sebagai pupuk organik sangatlah diperlukan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku pupuk organic. Dengan ketersediaan sumber limbah industri kayu putih yang melimpah bisa dijadikan sebagai salah satu alternative pembuatan pupuk organic. Dan dari hasil penemuan di lapangan, aplikasi limbah kayu putih yang sudah diolah menjadi kompos, dan bisa meningkatkan hasil tanaman dan peningkatan kesuburan tanah. [Ragil Tri Sambodo]

Ragil

Ragil

Leave a Replay