Pembukaan Kajian CIOS: “Menelaah Orientalisme dan Oksidentalisme”

Pembukaan Kajian CIOS: “Menelaah Orientalisme dan Oksidentalisme”

UNIDA Gontor – “Semua Orang Islam harus memahami Islam, bukan hanya mengamalkan. Mengamalkan itu sudah suatu kewajiban, tetapi memahami Islam sebagai sebuah agama dan peradaban ini penting. Supaya Islam ini tahan terhadap peradaban lain, kita belajar peradaban lain seperti apa yang menjadi tantangan Islam, adalah peradaban Barat, peradaban Barat itu harus dibaca dari perspektif Islam”. Ujar Dr. Hamid Fah

my Zarkasyi, M.Ed, M.Phil saat membuka acara kajian rutin Center for Islamic and Occidental Studies (CIOS) Tahun Akademik 1438 H / 2017 di Hall CIOS UNIDA Gontor, pada Sabtu, (02/08/2017).

 

Acara pembukaan kajian rutin Centre for Islamic and Occidental Studies (CIOS) ini dilaksanakan pada hari Sabtu malam, 5 Agustus 2017 yang bertepatan dengan 12 Dzulqo’dah 1438 H. dihadiri oleh 220 orang, yang terdiri dari Mahasiswa Program Kaderisasi Ulama (PKU) Angkatan ke 11, Mahasiswa Pascasarjana UNIDA Gontor dan Pengurus serta Anggota dari Junior Reseacher.

Peserta Program Kaderisasi Ulama XI Berpose Bersama Dr Syamsuddin Arif, M.A. Usai Acara.

Acara ini dilanjutkan dengan Public Lecture oleh Direktur eksekutif Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSIST) Dr. Syamsuddin Arif, M.A dengan tema “Orientalisme dan Oksidentalisme”. Didalam presentasinya, Dr. Syamsuddin banyak memaparkan tentang bagaimana cara kerja daripada Orientalis yang mendekonstruksi sesuatu sebelum akhirnya direkonstruksi kembali berdasarkan yang mereka inginkan. Seperti merekonstruksi Mushaf Al-Qur’an, sejarah Islam, biografi riwayat hidup nabi Muhammad S.A.W, dan semua yang berhubungan d

engan Islam.

Lanjut, Dr. Syamsuddin menyebutkan bahwa Orientalis didalam memandang Al-Qur’an bukan sebagai wahyu melainkan sebagai karya sastra layaknya novel yang kemudian mereka kaum orientalis simpulkan bahwa Al-Qur’an itu adalah pantulan daripada persepsi dan juga konteks dari pengarangnya, konteks sosial, storis, psikologis, mungkin juga politik.

Yang selanjutnya dalam studi sirah beliau juga menyebutkan bahwa (kaum orientalisme) cenderung mencari sesuatu yang bisa untuk dieksploitasi guna menghina dan menjatuhkan pribadi Rasulullah S.A.W, sebagaimana dalam pribahasa Arab yang diartikan kedalam bahasa Indonesia “apabila perbuatan seseorang itu baik, maka prasangka yang keluar daripadanya juga akan baik”, kaum orientalis mengangap bahwa apa yang nabi Muhammad lakukan sama dengan apa yang mereka lakukan. Begitu juga dalam pandangan Orientalis, bahwa mereka memandang Islam bukan sebagai agama melainkan sebagai objek penelitian. Yang akhinya mereka tidak mementingkan apakah Islam itu kebenaran atau bukanlah kebenaran, atau apakah Islam itu petunjuk, pedoman hidup atau bukan. Yang membuahkan istilah Islam sebagai objek teologis atau Islam sosiologis.

Setelah selesai dengan pembahasan apa itu orientalis, metode yang digunakan orientalis bagaimana, sampai dengan cara kerja daripada orientalis itu bagaimana. Dr. Syamsuddin Arif melanjutkan pembahasan mengenai Oksidentalis yang beliau sebut dengan Orientalisme terbalik, yaitu apabila orientalisme adalah paradigma yang dipakai oleh orang-orang barat untuk mengkaji bahasa, budaya dan masyarakat peradaban timur, maka oksidentalisme adalah sebaliknya atau wacana tandingan dari pada orientalisme itu sendiri.

Diakhir penyempaian materi Dr. Syamsuddin Arif, M.A tidak lupa memberi beberapa nasehat, diantaranya beliau menyarankan bagi setiap peserta kajian untuk membaca setelah penyampaian materi dan kemudian nantinya ditulis. Kemudian didalam mengkaji barat hendaknya kita kritis, objektif serta komparatif. Kita tidak membenci, kita tidak agresif, serta tidak distortif. [Akbar Zulfia]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *