PBA UNIDA GONTOR Menjadi  Salah Satu Perintis Proyek Korpus Lingustik Arab DI Indonesia

PBA UNIDA GONTOR Menjadi Salah Satu Perintis Proyek Korpus Lingustik Arab DI Indonesia

Bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur’an dan Umat Islam, selalu dipelajari dan dikembangkan dari waktu ke waktu, terlebih dengan kemajuan teknologi seperti sekarang ini, pengembangan linguistik bahasa arab semakin lebih modern. Salah satu buah dari persingungan antara teknologi dan bahasa arab adalah korpus linguistik Bahasa Arab atau المدونة النصية العربية , atau disingkat dengan korpus Arab. Korpus Arab merupakan Koleksi teks bahasa Arab yang disusun berdasarkan tujuan dan kriteria tertentu agar dapat menjadi representasi dari khazanah dan pemakaian variasi bahasa Arab.

Di Indonesia, korpus Arab belum banyak dikenal dan dipelajari oleh para akademisi dan praktisi bahasa Arab di Indonesia. Padahal di Indonesia terdapat banyak kitab-kitab dan manuskrip berbahasa Arab yang ditulis oleh ulama-ulama Indonesia yang mencerminkan kekhasan bahasa Arab yang ada di Indonesia. Kekhasan tersebut, ditambah dengan penggunaan Bahasa Arab yang aktif di beberapa pesantren dan institusi di Indonesia. Hal itu semua seharusnya menjadi bahan kajian korpus yang tidak ada habisnya. Namun kenyataannya hal itu semua belum terjamah oleh kajian korpus Arab secara spesifik. Berangkat dari hal inilah, penyusunan korpus Arab di Indonesia menjadi suatu hal yang mutlak harus segara dilakukan.

Untuk menuju cita-cita tersebut, Pada hari jumat, 11 Agustus 2017 diselenggarakanlah Lokakarya korpus Linguistik Arab di Indonesia yang pertama kali oleh 8 Institusi perintis korpus Linguistik Arab di Indonesia, salah satunya adalah Prodi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor bekerjasama dengan Markazul Buhus wat Tawashul Ma’rifi dan Ittihadu Mudarrisi Al-Lughoh Al-Arabiyah (IMLA) Indonesia. Lokakarya ini bertempat di Aula Ampitheater Gedung KH. Ibrohim Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, yang dihadiri oleh para dosen, akademisi dan praktisi Bahasa Arab dari berbagai Universitas se-Indonesia.

Dalam lokakarya tersebut, UNIDA gontor mengutus Yoke Suryadarma, M.Pd.I dan Luthfi Muhyiddin, MA sebagai wakil untuk menjadi panitia bersama dengan ke 7 insitusi lainnya, sekaligus menunjuk  Yoke Suryadarma, M.Pd.I menjadi moderator di sesi pertama menggunakan bahasa Arab.

Hadir sebagai pembicara pertama Dr. Aly Ma’youf Al-Ma’youf, dosen senior King Saud University, Riyadh, sekaligus salah seorang dewan penasehat Markazul Buhus wat Tawashul Ma’rifi di Riyadh dan Penasehat Ittihadu Mudarrisi Al-Lughoh Al-Arabiyah (IMLA) Indonesia,  yang menyampaikan makalah tentang korpus Arab, Peranan dan arah kedepannya.

Beliau menceritakan betapa pentingnya korpus arab ini dengan mengatakan bahwa sesungguhnya korpus arab ini sudah dilakukan sejak awal masa Islam, yang mana ditandai dengan pengumpulan naskah-naskah Al-Qur’an yang kemudian di kumpulkan menjadi satu dan ditulis kembali (tadwinul Qur’an), dijaga, dirawat melalui proses hafalan dan sanad yang sangat ketat sampai zaman sekarang ini.

Hanya saja, tentunya proses ini akan sangat memakan waktu yang cukup lama, oleh karena itu beliau mengharapkan komitmen dari semua peserta yang terdiri dari para dosen, akademisi dan praktisi Bahasa Arab untuk benar-benar menjadikan korpus arab di Indonesia ini menjadi qubbatul qushod atau pusat perhatian.

Senada dengan hal diatas, Prof. Madya Dr. Haslina Hasan, pembicara kedua yang merupakan dosen senior Prodi Bahasa dan Sastra Bahasa Arab Fak. Islamic Revealed Knowledge and Human Sciences IIUM sekaligus pakar korpus Arab di Malaysia, mengemukakan bahwa pekerjaan menyusun dan membangun korpus ini merupakan pekerjaan berat, lama dan cukup melelahkan, butuh kurang lebih 10 tahun untuk membangun, membuat dan menyusun kemudian menikmati hasil dari korpus Arab ini. Namun setelah korpus Arab terbangun, akan sangat membantu dan memudahkan penelitian dan pengembangan linguistik Arab ke depan.

Hampir sama dengan dua pendapat pemakalah sebelumnya, Dr. Totok Suhardijanto, dosen senior Universitas Indonesia yang menjadi pemakalah ketiga, setelah menyampaikan seluk beluk korpus Indonesia dan berbagai pengalamannya dalam menangani korpus selama lebih kurang 15 tahun lebih, sangat optimis, bahwa pekerjaan tersebut akan ringan, jikalau dikerjakan bersama-sama dan memiliki visi, misi, tujuan dan komitmen untuk membangun korpus arab di Indonesia. Karena beliau melihat, bahwa korpus arab di Indonesia tidak hanya bermanfaat untuk kepentingan linguistik semata,tapi juga untuk kajian keislaman lanjutan.

Setelah selesai pemaparan para pemakalah, Tim yang di pimpin oleh dr. Nur Hizbullah, MA dari UAI Jakarta, menyampaikan langkah kerja yang akan ditempuh bersama-sama, yang nanti akan dibahas tindaklanjutnya di lokakarya korpus Arab yang kedua, yang In Sya Allah akan dilaksanakan di Univeritas Darussalam (UNIDA) Gontor pada akhir Januari tahun depan.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *