MIUMI Pusat Terima Kedatangan PKU VIII di AQL Islamic Center

MIUMI Pusat Terima Kedatangan PKU VIII di AQL Islamic Center

JAKARTA–Setelah bersilaturahim ke MUI Pusat beberapa hari yang lalu, Program Kaderisasi Ulama (PKU) VIII Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor bertamu ke Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Pusat pada Kamis (5/3) sore. Rombongan diterima Ustadz Bachtiar Nasir, Sekjen MIUMI, di Ar-Rahman Qur’anic Learning Center (AQL) Islamic Center yang berlokasi di Jalan Tebet Utara I No. 40, Jakarta Selatan.

Pembekalan dari Ustadz Farid Okbah

Pembekalan dari Ustadz Farid Okbah

Pada kesempatan ini, PKU VIII mendapatkan bekal yang sangat berharga terkait wawasan keislaman dan peta keumatan. Salah satu bekal yang tak ternilai itu mereka dapatkan dari Ustadz Farid Okbah. Salah satu tokoh MIUMI yang giat meredam serangan-serangan Syi‘ah ini berpesan kepada peserta PKU VIII agar tidak berputus asa dalam menegakkan kebenaran. Ulama itu mengemban misi Rasulullah Saw, menegakkan kebenaran dan menumbangkan kebatilan. Menurutnya, di Indonesia ini, terdapat lebih dari 300 aliran sesat yang mengatasnamakan Islam.

“Musuh Islam itu banyak. Mereka terbagi ke dalam lima kelompok, yaitu orang-orang kafir, orang-orang musyrik, orang-orang munafik, orang-orang fasik, dan kelompok-kelompok dari aliran sesat, termasuk Syi ‘ah di dalam,” kata Ustadz Farid di depan 23 peserta PKU VIII yang menyimak dengan antusias.

Untuk menghadang mereka, lanjut Ustadz Farid, berdirilah MIUMI yang mencoba memadukan antara teori dan praktik, antara pikiran dan gerakan. Majelis yang dipimpin Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi ini berupaya membangkitkan umat dan membangun kembali peradaban Islam. Tanpa ilmu dan tanpa praktik ilmu, sulit untuk menegakkan peradaban.

“Kami berharap, PKU melahirkan kader ulama yang memiliki mental dengan jiwa yang tangguh. Kalian harus tahu bahwa kelemahan aktivis muslim kita saat ini ada pada mental mereka. Pertama, mereka bermental labil, tidak konsisten dalam bersikap. Kedua, mereka bermental dingin, tidak mau berjalan jika tidak ada yang menggerakkan. Ketiga, mereka tidak bisa menyimpan rahasia. Padahal, kita harus berhati-hati agar tahu mana kawan dan mana lawan. Keempat, aktivis muslim kita itu kurang teguh memegang amanah, terutama dalam hal harta atau keuangan. Kelima, mereka terlalu mudah merasa minder, tidak percaya diri. Kalian jangan merasa kecil di hadapan siapa saja, harus bermental pemenang. Tidak ada istilah tidak bisa, tapi lakukanlah dengan cara yang benar,” tutur Ustadz Farid mengungkapkan penyebab lemahnya aktivis-aktivis muslim belakangan ini.

Selain itu, beliau juga mengajak peserta PKU VIII untuk menangkal bahaya Syi‘ah terus menancapkan kuku-kukunya di Indonesia. Menurut Ustadz Farid, bahaya Syi‘ah itu meliputi sejarahnya, ajarannya, pola dakwahnya, pendidikan, ‘irfan atau tasawuf ala Syi‘ah, serta teori politik dan gerakannya. Berdasarkan penelitiannya, sekitar 20 konflik yang telah terjadi di Indonesia ini tidak terlepas dari peran Syi‘ah di belakangnya.

“Mari kita bersama-sama menghadapi Syi‘ah yang pengaruhnya kian masif dan terorganisir ini,” ujar Ustadz Farid kepada seluruh peserta PKU VIII.

Wawasan tentang MIUMI dari Ustadz Adnin Armas

Wawasan tentang MIUMI dari Ustadz Adnin Armas

Selanjutnya, Ustadz Adnin Armas juga sempat memberikan sedikit gambaran tentang aktivitas MIUMI. Ia menjelaskan, MIUMI didirikan sebagai upaya memecahkan permasalahan umat yang sering tidak terjamah oleh para ulama. Untuk itu pula, MIUMI seringkali mengadakan diskusi bulanan, juga menghimpun tokoh-tokoh dari berbagai kalangan yang satu visi dan misi dalam menegakkan nilai-nilai Islam.

Menjelang Maghrib, giliran Ustadz Bachtiar Nasir memberikan wejangannya. Ia menekankan betapa pentingnya peran ulama dalam membangun peradaban Islam. “Tidurnya ulama, berarti tidurnya peradaban. Bangkitnya peradaban karena bangunnya ulama,” kata Ustadz Bachtiar.

“Tapi jangan lupa bahwa kekuatan ulama dalam gerakan kebangkitan umat ini atas kehendak Allah. Karena itulah, Allah mempertemukan kita saat ini untuk bersama-sama menyebarkan cahaya Islam. Ketahuilah, orang-orang sevisi itu sudah dipertemukan oleh Allah di alam arwah, sebelum kita lahir ke dunia,” ujarnya.

Ustadz Bachtiar menambahkan, “Kalian juga harus pandai memposisikan diri dalam berdakwah. Ibarat bermain bola, seorang penyerang itu harus pandai mencari posisi agar bola yang ia tembakkan masuk ke gawang. Perhatikanlah posisi kalian di masyarakat. Jika kalian tahu kebutuhan umat dan kalian bisa memberikan apa yang mereka butuhkan, maka kalian akan sukses dalam berdakwah.”

Setelah mendapatkan bekal dari beberapa tokoh MIUMI di atas, beberapa peserta PKU VIII diminta untuk mengisi pengajian mingguan yang dipandu Ustadz Bachtiar Nasir. Mereka adalah Qaem Aulassyahied dengan tema berjudul “Kritik Konsep Sunah Muhammad Syahrur”, Mahmud Budi Setiawan tentang “Analisis Kritis Studi Hadis Kaum Feminis”, dan Ahmad Kali Akbar yang membawakan tema berjudul “Hermeneutika vs Ta’wil”.*elk

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *