Marhaban Yaa Dermawan

Marhaban Yaa Dermawan

Oleh: Tonny Ilham Prayogo

Marhaban, kata indah yang menyenangkan bagi siapa pun yang mendengarkannya. Menyemai harapan, sepenuh kerinduan, sejatinya memuliakan akan kedatangannya. Kala sebuah kedatangan demikian menjanjikan kebahagiaan, limpahan keberkahan, samudera ampunan serta doa-doa yang dikabulkan oleh Allah. Maka selalu manusia berlomba menyambutnya, bersanding dengan kata Marhaban, lazimnya adalah nama bulan terbaik nan didambakan yakni syahru syiam alias Ramadhan.

Ketinggian makna “marhaban” juga diucapkan oleh para Nabi dan Rasul kepada Rasulullah shalallahu alaihi wassalam dalam perjalanan mi’raj ke Sidratul Muntaha. Ucapan sambutan yang lapang dan penuh keluasan, tiada sedikit pun kesempitan. Memang bulan Ramadhan menjadi bulan yang dinanti-nanti oleh umat Islam karena berbagai macam keutamaan di dalamnya seperti pahala yang berlipat-lipat, diampuni dosanya dan turunnya rahmat serta keberkahan Allah.

Rasa antusias menyambut bulan suci tersebut sontak membuat media sosial dipenuhi dengan beragam ucapan “Marhaban Yaa Ramadhan”. Lalu tahukah makna dan definisi “marhaban” tersebut?

Tentu kebanyakan umat Islam akan mengartikannya secara perkata yakni “Selamat datang wahai bulan Ramadhan.” Padahal makna yang sebenarnya bukanlah seperti itu. Jika ditelaah dari segi bahasa arti ‘marhaban’ mengandung makna kata seru yang diucapkan untuk menyambut atau menghormati tamu (selamat datang). Lain halnya dalam makna bahasa Arab yang berasal dari kata رحب yang memiliki arti ‘luas atau lapang’. Sehingga ucapan ini menunjukkan sebuah kelapangan dada atas kedatangan tamu. Ia akan menerima dengan penuh hati gembira dan mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan guna menyambut tamu tersebut.

Sehingga jika direnungkan maknanya, maka ucapan “Marhaban Yaa Ramadhan” memiliki arti selamat atas datangnya bulan Ramadhan yang disertai dengan penerimaan penuh lapang dada dan kegembiraan. Dengan kata lain datangnya bulan Ramadhan tidak diisi dengan perbuatan-perbuatan maksiat yang dianggap menganggu ketenangan dan kenyamanan kita dalam berpuasa selama Ramadhan.

Dengan menyakini akan keutamaan bahwa Ramadhan merupakan bulan yang mulia, maka salah satu untuk menyambut kedatangannya dengan menjadi dermawan bagi orang lain. Orang yang rajin mendermakan hartanya di jalan Allah tidak akan menjadi miskin, sekalipun secara lahir hartanya berkurang, akan tetapi di balik itu semua Allah bukakan pintu rezeki baginya dari arah yang tidak disangka-sangka bahkan di akhirat kelak Allah akan melipat gandakan pahalanya hingga tidak terkira.

Untuk memahami arti dermawan merujuk ke KBBI yakni, menurut kamus bahasa Indonesia, dermawan diartikan sebagai pemurah hati atau orang yang suka berderma (beramal dan bersedekah), sedangkan menurut istilah dermawan bisa diartikan memberikan sebagian harta yang dimilikinya untuk kepentingan orang lain yang membutuhkan dengan senang hati tanpa keterpaksaan dan ikhlas. Dalam sebuah hadits disebutkan dari Ibnu Umar r.a berkata: bahwa Rasulullah SAW bersabda: tangan yang diatas lebih baik daripada tangan yang di bawah, tangan yang diatas itu yang member dan tangan yang di bawah itu yang meminta. (H.R. Bukhari Muslim).

Seorang pakar neurosains Profesor Taruna Ikrar menjelaskan, seseorang yang menolong orang lain biasanya akan berbahagia lantaran melihat dirinya bermakna di tengah komunitas. Dalam perspektif sains, semua perasaan yang dialami manusia merupakan hasil reaksi kimia yang bekerja di dalam tubuh. Reaksi kimiawi yang dimaksud bertanggung jawab mengendalikan semua aspek emosi, baik yang bersifat positif maupun negatif.

Berkiblat pada sebuah kota yang terkenal oleh penduduknya akan kedermawanannya yakni Damaskus. Sebagaimana Ibnu Battuta (1304-1368) begitu kagum saat menginjakkan kakinya di Damaskus yang berdert lembaga-lembaga amal yang tak terhitung. Seperti dikutip dari buku “Menyusuri Kota Jejak Kekayaan Islam”, saking banyaknya lembaga amal yang berdiri di kota itu, sampai-sampai Ibnu Battuta merasa kesulitan untuk meghitungnya. Hebatnya, orang-orang yang tak mampu menunaikan ibadah haji, akan dibiayai oleh lembaga amal yang ada. Bahkan masyarakat berlomba-lomba mewakafkan tanahnya untuk sekolah, rumah sakit, dan masjid.

Bercermin pendapat dari seorang pakar kesehatan dan sebuah kota di Damaskus yang memberikan dampak positif dari hasil sifat kedermawanan. Untuk menjadi dermawan itu tidak harus menunggu kaya terlebih dahulu. Seberapa pun harta yang kita miliki mestinya ada sebagian dari yang kita sedekahkan kepada orang lain.

Hal tersebut telah tergambarkan dalam kisah Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Hakim dan Imam Thabroni serta Malaikat Jibril AS pernah menjelaskan soal kedatangan bulan Ramadhan. Hal itu dalam kaitannya dengan posisi seseorang di hadapan Allah SWT. Diantaranya adalah sifat dermawan yang begitu penting dalam membantu orang lain.

Dalam hadis lain Rasulullah SAW bersabda, “Harta tidak akan berkurang dengan disedekahkan.” Imam an-Nawawi menjelaskan, bahwa hadis ini mengandung dua pengertian. Pertama, sedekah itu diberkahi di dunia dan karenanya terhindar dari kemudharatan. Dan kedua, pahalanya tidak akan berkurang di akhirat, bahkan dilipatgandakan hingga kelipatan yang banyak apalagi di bulan Ramadhan ini yang berlipat-lipat pula pahalanya sesuai kehendak dan janji Allah SWT.

Ramadhan memang menawarkan banyak hal yang tak pernah kita temui selain sebelas bulan lainnya, maka sebulan Ramadhan akan mengembalikkan kita kepada-Nya. Sebelas bulan bergelimang dosa dan jarang berderma terhadap orang lain, bisa disadarkan untuk menjadi orang dermawan di bulan Ramadhan ini. Oleh karena itu perjalanan Ramadhan kaum Muslim, kita disajikan beragam fenomena baik yang menunjukkan puncak kinerja dan produktivitas umat di bulan ini. Lebih dari itu, ramadhan justru bulan yang dinanti-nantikan untuk memberikan kontribusi yang semakin besar terhadap umat. Bagi yang memahami esensi dan urgensi Ramadhan, justru di sinilah semangat fastabiq al-khairat semakin ditumbuhsuburkan.

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *