Makna Falsafah Gontor:”Hidup Sekali, Hiduplah yang Berarti!”

Makna Falsafah Gontor:”Hidup Sekali, Hiduplah yang Berarti!”

Sabtu menjelang siang. 15 Februari 2020. Sejenak setelah ustadz H. Y. Suyoto Arief, M.S.I hadir, acarapun dimulai. Kajian dwi pekanan. Bagi para dosen dan tenaga kependidikan. Ustadz Agung Nur Cholis, M.Pd memulai dengan membuka acara sembari menyampaikan beberapa informasi seputar kampus. Kala itu, dinamika kegiatan kampus masih padat. Ada sebagian dosen yang sedang mengurus akreditasi, atau rapat penilaian skripsi terbaik; serta juga kegiatan lainnya.

Pun juga kabar gembira, beberapa pernikahan dosen dan kelahiran putra maupun putri mereka. Juga kabar duka, yakni Hj Nurul Baroroh, istri dari Drs Muhammad Syuja’i, BA, yakni wakil pengasuh pondok Modern Gontor kampus 5 Darul Muttaqin Rogojampi Banyuwangi.

Selain itu, ada pula pengumuman kegiatan mendatang. Seperti wisuda dan lainnya. Selain itu, LLDikti 7 wilayah Jawa Timur mewajibkan adanya acara yudisium kelulusan di program studi masing-masing. Berikut pula mencantumkan SK, daftar lulusan, hingga lampiran nilai dan lainnya.

Usai pengumuman, ustadz Suyoto menyampaikan materi. Dimulai dengan membacakan hadits tentang ightanim khamsan qabla khamsin.

Beliau mengajak kita semua bersyukur. Meski beliau akui, bahwa banyak wajah yang tidak beliau kenal. Kecuali hanya 10an persen. Sisanya, tidak banyak saya kenal.

Hidup sekali hiduplah yang berarti. Itu pertama kali saya dengar di tahun 1970 di Gontor. Di Pekan Perkenalan Khutbatul Arsy saya yang pertama kali.

Aula BPPM saat seperti menggelegar. Karena hal ini disampaikan oleh KH Imam Zarkasyi. Pada masa itu. Yang saat pertemuan, berlaku peribahasa: jarum jatuh kedengaran.

Lebih dramatis lagi, KH Imam Zarkasyi menjelaskannya dengan sangat detail. Disertai dengan kisah perjuangan. Juga beberapa teriakan lantang beliau. Berapi api untuk memotivasi.

Beliau akui bahwa “saat itu, saya sendiri hanya ikut berteriak. Karena pak kiai menyuruh kami mengulangi kalimat ampuh tersebut beberapa kali”

“Saat itu, saya juga mendengar lagi kalimat tersebut di kelas 2, 3, dan seterusnya. Hingga saya menjadi guru. Sehingga, suatu saat saya diminta mengisi pekan Perkenalan.

“Apa hidup itu sebetulnya? Yang dimaksud hidup adalah gerak. Karena sesuatu yang hidup, adalah bergerak.” Ujar KH Imam Zarkasyi.

“Lantas bagaimana menghidupkannya?” Tanya beliau.

“Kegiatan” itu saja jawab salah satu Trimurti pendiri Gontor tersebut.

“Kita pun sering mendengar definisi hidup. Ada yang bilang hidup itu susah”

“Ada pula menyebut hidup itu seperti air mengalir. Dan juga lainnya”

“Demikian perbedaan definisi karena perbedaan pandangan hidup. Juga perspektif”

“Dari sini kita melihat perbedaan filsafat hidup pesantren dengan di luar. Bahwa dalam kultur pesantren, kehidupan adalah pergerakan. Sehingga, perlu ada kegiatan sebagai penggerak yang memunculkan kehidupan yang dimaksud tersebut.”

Kehidupan di pesantren, adalah berkah dari pergerakan. Pergerakan dari adanya kegiatan. Maka, berkah tersebut muncul dari kegiatan. Dan itulah sejatinya kehidupan yang ada di pesantren.

Point pentingnya, sebagaimana disabdakan Rasulullah saw; bahwa kesempatan apapun harus diisi dan diambil dengan kesibukan yang berarti.

Ada kesempatan sehat. Sebelum kita sakit. Ada waktu muda sebelum tua. Segala kesempatan tersebut janganlah terburu-buru dinikmati. Tapi disyukuri dulu. Sebagaimana dalam al Quran: an usykur lillah. Disyukuri dulu, baru nikmatnya akan dapat dirasakan.

Sehingga, setiap orang memiliki metode. Metode untuk mensyukuri. Dan metodenya kadang berbeda. Tidak jarang pula, karena metodenya berbeda, pemahamannya pun terkadang berbeda. Juga seringnya berbeda banyak.

Padahal, setiap masa ada kesempatannya. Setiap kesempatan ada masanya. Sebagaimana setiap tokoh ada masanya, dan setiap masa ada tokohnya.

Renungan yang mendalam itulah, yang akan mendorong hidup kita menjadi berarti. Bahkan, seharusnya, renungan ini dilakukan di awal. Sebagaimana hadits tentang niat. Bahkan Gontor pun memberi tantangan: Ke Gontor Apa Yang Kau Cari? Hal ini berarti menekankan perlunya menetapkan niat yang tepat. Agar tidak salah memahami nilai-nilai serta tujuan pendidikan dan polanya di Gontor.

“Itulah yang menjadikan bahwa kehidupan di Gontor adalah sederhana. Yakni agar hidup kita berarti”

Beliau pun sempat menanyakan kepada KH Abdullah Syukri tentang kapan awal mula munculnya kalimat ‘ajaib’ tadi? Bagi beliau, pertanyaan ini penting. Karena banyak fakta ditulis tentang Gontor, namun sumbernya tidak mengalami.

Hidup itu dua. Perjuangan dan Pengorbanan.

Walaupun ada istilah, bahwa rizqi adalah dari Allah, namun saat kita tidak merubah, maka tidak akan terjadi apapun. Jika kita tidak bergerak, maka tetap saja tidak ada yang terjadi.

Berkorban yang sulit adalah berkorban perasaan. Karena, korban harta, materi, hingga waktu; adalah masih biasa.

Kita pun kadang diuji dengan itu. Berkorban perasaan. Bahkan sampai sulit tidur. Karena gangguan perasaan bisa sangat dalam. Dan berpengaruh secara psikis.

UNIDA dengan Gontor adalah sama. Sama nilainya. Juga sistem dan pola pendidikan. Pola pikir, berpakaian, etika, dan nilai nilainya juga sama. Tidak boleh beda. Soal teknis dan pelaksanaan, boleh saja berbeda.

Standar Gontor, di manapun sama. Nilai, visi dan misi, bahkan filsafat hidupnya pula. Bisa jadi, ada perbedaan sistem. Di UNIDA menggunakan sistem perguruan tinggi. Di Gontor adalah sekolah menengah. [M. Taqiyuddin]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *