Mahasiswi SAA UNIDA Gontor Kampus 5 Lakukan Studi Pengayaan Lapangan di Manado Sulawesi Utara

Mahasiswi SAA UNIDA Gontor Kampus 5 Lakukan Studi Pengayaan Lapangan di Manado Sulawesi Utara

Manado, Sulawesi Utara – Sebagai perguruan tinggi berbasis pesantren yang bertujuan mencetak akademisi beriman, berakhlak mulia, berpengetahuan luas serta menghasilkan penelitian antisipatif dan adaptif terhadap tantangan masa depan. Maka, upaya pengembangan dan peningkatan dilakukan. Salah satunya, setiap mahasiswa maupun mahasiswi Universitas Darussalam memiliki beberapa tugas penelitian. Dari studi akademik, studi pengayaan lapangan hingga tugas akhir mahasiswa strata 1 atau sering kita sebut dengan skripsi.

Dalam prakteknya, antara studi akademik dan studi pengayaan lapangan tidak jauh berbeda. Hanya pelaksana, tempat, dan waktu yang tidak sama. Untuk studi akademik pelaksananya adalah mahasiswa semester 4 yang dilakukan dalam kurun waktu kurang lebih 3 hari. Tapi jika studi pengayaan lapangan pelaksananya adalah mahasiswa semester 5 dan kurun waktu yang dimilikipun lebih panjang.

Universitas Darussalam Gontor  memiliki beberapa cabang kampus dan jurusan bermacam-macam. Hal ini yang membuat perbedaan objek studi yang dipilih. Para mahasiswa berfikir keras untuk mencari wilayah penelitian yang sesuai dengan program studinya.

UNIDA Gontor kampus 5 misalnya, kampus yang terletak di Kandangan Kediri ini memiliki mahasiswa sejumlah 126 orang. terdiri dari 51 mahasiswi semester 1, 23 mahasiswi semester 3, 21 mahasiswi semester 5, 31 mahasiswi semester 7. Yang keseluruhan merupakan mahasiswi jurusan Ushuluddin program studi agama-agama. Dalam kaitannya dengan studi pengayaan lapangan. Mahasiswi semester 5 bersama dua orang dosen pembimbing Syamsul Hadi Untung, M.A., M.Ls., dan Syam’un Salim, M.Ag. mengadakan penelitian tersebut di belahan bumi timur, Sulawesi utara, Manado. Alasannya di daerah tersebut terdapat banyak objek yang dianggap sangat sesuai dengan program studi yang digeluti. Beberapa objek kunjungan studi pengayaan lapangan mahasiswi semester 5 kampus Kandangan adalah Seminari “tinggi hati” Kudus Pineleng yang merupakan sekolah tinggi agama katholik yang bertempat di Pineleng. Tujuan utama berdirinya wadah pendidikan religi ini adalah untuk membina calon-calon imam Diosesan keuskupan Manado dan Amboina.

Selanjutnya, Gereja Katholik Kathedral yang tersuci Maria yaitu salah satu tempat peribadatan besar umat katholik di Manado. Data statistik menyebutkan, bahwa hingga tahun 2017 jumlah jemaat gereja ini mencapai 2177 jiwa. Selain itu ada pula Sinode GMIM yang merupakan gereja Protestan terbesar di Indonesia. Tempat ini pula merupakan kantor pusat gereja Injili yang memiliki kurang lebih 2.300 pendeta hingga saat ini.

Di Manado tidak hanya ada sedikit gereja, bahkan umat Kristiani menduduki angka mayoritas di wilayah tersebut. Berbicara mengenai gereja, ada salah satu tempat peribadatan umat kristiani yang telah berdiri sejak 1677 lamanya. Sebut saja gereja Sentrum. Menilik dari sejarahnya. Pada tahun 1934, Gereja Protestan wilayah Manado, Minahasa dan Bitung dinyatakan berdiri sendiri dengan nama Gereja Masehi Injil di Minahasa atau yang familiar dengan sebutan GMIM. Sementara kata Sentrum, baru ada usai kemerdekaan Republik Indonesia.

Setelah itu, beralih ke peribadatan umat Kong-Hucu yaitu klenteng Kong Miao yang beada di kampung China, Manado. Konon, kampung ini dibangun oleh kolonial Belanda pada masa penjajahan dimana seluruh pekerjanya diambil dari masyarakat Tiong-Hoa yang sedang berada di Sulawesi terutama bagian utara.

Salah satu objek yang menjadi kunjungan pertama selama 20 tahun terakhir studi pengayaan berlangsung adalah tempat perbadatan Yahudi yaitu Sinagoge Beth Hashem. Ia adalah satu-satunya tempat peribadatan umat Yahudi yang masih aktif di Indonesia. Dibuka setiap sabat pukul 09.00-14.00. Sinagoge sendiri berasal dari bahasa Yunani yang artinya “tempat berkumpul”. Dalam kaitannya dengan sejarah, istilah sinagoge pertama kali digunakan ketika seorang rabbi membuat tempat ibadah untuk keluarganya lalu pemeluk lain disekitarnya ikut belajar bersama rabbi. Dan jadilah banguanan yang awalnya berfungsi sebagai rumah berubah menjadi sebuah tempat peribadatan.

Selain 6 objek diatas, mahasiswi semester 5 Kandangan juga mengunjungi 7 objek lain yaitu : Pura Jagadhita, Vihara Budhayana, Bukit Doa Tomohon, Makam Tuanku Imam Bonjol, Makam Kyai Modjo, dan MUI Sulawesi Utara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *