Mahasiswa UB dan UIN Malik Ibrahim Antusias Ikuti Workshop PKU VIII

Mahasiswa UB dan UIN Malik Ibrahim Antusias Ikuti Workshop PKU VIII

MALANG–Memasuki hari terakhir di Kota Malang, Program Kaderisasi Ulama (PKU) VIII Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor menyelenggarakan workshop di Universitas Brawijaya (UB) dan Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim. Di Brawijaya, PKU VIII diberi kesempatan menggelar workshop sebanyak dua kali. Pada Rabu (18/2) pagi, workshop diadakan di Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) UB yang kemudian berlanjut di Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim pada siang hari. Esoknya, Kamis (19/2) siang, workshop kembali digelar di UB, tapi khusus dihadiri mahasiswa dan mahasiswi dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP).

Para peserta yang hadir sangat antusias, terutama di UIN Malik Ibrahim. Kursi yang disediakan hampir tidak cukup, bahkan ada yang sampai berdiri. Mereka menyimak para pemateri dari peserta PKU VIII yang tampil membawakan tema-tema menarik berkaitan dengan tantangan pemikiran Islam.

Workshop PKU VIII yang digelar di FIA UB menghadirkan tiga pembicara. Pembahasan pertama tentang “Konsep Ilmu Pengetahuan dalam Islam dan Problem Keilmuan Barat” disampaikan M. Faqih Nidzom. Sedangkan pembahasan kedua berjudul “Relasi Islam dan Negara”, dikupas oleh Cecep Supriadi. Adapun materi ketiga disampaikan oleh M. Shohibul Mujtaba dengan judul “Konsep Ikhtilaf dalam Islam”.

Workshop di FISIP UB

Workshop di FISIP UB

Ada keterkaitan antara ketiga pembahasan ini. Faqih menjelaskan konsep ilmu pengetahuan yang berdasarkan pada pandangan Islam. Ia mengkaji pemikiran salah satu intelektual muslim abad ini, Syed M. Naquib Al-Attas, yang mengusung gerakan Islamisasi ilmu pengetahuan. Dengan konsep keilmuan yang sesuai bangunan ilmu dalam Islam, lahirlah orang-orang yang beradab. Merekalah yang bisa dijadikan pemimpin negara agar tidak terjadi pemisahan antara urusan negara dan agama. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Cecep, Islam dan negara itu tidak bisa dipisahkan. Keduanya harus berintegrasi menciptakan peradaban. Dengan memiliki ilmu yang benar pula, umat Islam bisa berlapang dada menerima perbedaan pendapat atau ikhtilaf. Kata Mujtaba, ikhtilaf bukan sesuatu yang harus ditentang selama masih berkisar pada hal-hal yang bersifat asumtif. Jika ilmu seseorang benar dan wawasannya luas, maka perbedaan pendapat akan menjadi rahmat, dan persatuan umat tetap terjaga dengan erat.

Tema berbeda disampaikan Hariman Muttaqin dan Muryadi di FISIP UB. Keduanya membahas permasalahan syariat atau ranah fiqih. Hariman membawakan materi berjudul “Teori Naskh dalam Dekonstruksi Syari’ah An-Na’im” dan Muryadi membahas tentang “Ijtihad dalam Tahqiqu al-Manath”. Hariman membeberkan konsep naskh seorang liberal yang menyalahi teori naskh dalam tradisi keilmuan Islam, hingga mencoba mendekonstruksi syariat Islam yang sudah benar. Sedangkan Muryadi menekankan pentingnya tahqiqu al-manath atau berijtihad dalam rangka memastikan berlaku-tidaknya suatu hukum syariat dengan cara meneliti personal, kondisi, obyek, waktu, tempat, dan komponen realitas lainnya.

Di UIN Malik Ibrahim, workshop yang digelar bertema problematika pendidikan dengan tiga pembicara. Mereka adalah Saiful Anwar, Ahmad Sofyan Hadi, dan M. Aqil Azizy. Masing-masing berbicara mengenai persoalan pendidikan yang saat ini telah mendapat pengaruh Barat. Paham-paham seperti liberalisme, pluralisme, multikulturalisme, feminisme dan kesetaraan gender telah menyusup ke dalam buku-buku pelajaran sekolah di Indonesia, bahkan tanpa disadari guru-guru. Ketiga pembicara mengajak mahasiswa dan mahasiswi yang hadir untuk bersama-sama membendung serangan pemikiran berkedok pendidikan ini. Jika dibiarkan, maka generasi muda akan jauh dari harapan bangsa dan negara, juga agama.

Workshop di Al-Qolam MAN 3 Malang

Workshop di Al-Qolam MAN 3 Malang

Sementara itu, pada Rabu (18/2) malam, rombongan PKU VIII daerah Malang juga sempat mengadakan workshop di Pondok Pesantren Al-Qolam Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Malang. Pada kesempatan ini, Aqil Azizy dan M. Faqih Nidzom kembali tampil membawakan materi yang sama saat mereka mengisi workshop di UB atau UIN Malik Ibrahim.

Setelah lima hari di Malang, PKU VIII kembali melanjutkan workshop di Solo dan Yogyakarta. Mereka bertemu kembali dengan rombongan PKU VIII yang juga telah menyelesaikan workshop di daerah Tapal Kuda. Rombongan yang bertemu di Pondok Pesantren Al-Hikam Malang ini bersama-sama berangkat ke Solo terlebih dahulu sebelum berlanjut ke Yogyakarta. Jadwal workshop yang padat pun telah menanti mereka di kedua kota tersebut.*elk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *