Kunjungi Kota Hujan, PKU VIII Gelar Workshop di UIKA dan UNIDA Bogor

Kunjungi Kota Hujan, PKU VIII Gelar Workshop di UIKA dan UNIDA Bogor

BOGOR–Saat berkunjung ke Kota Bogor pada Senin (2/3) pagi, rombongan Program Kaderisasi Ulama (PKU) VIII Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor menggelar workshop di dua universitas berbeda, Universitas Ibn Khaldun (UIKA) dan Universitas Djuanda (UNIDA). Acara yang berlangsung di kedua universitas terkenal di Kota Hujan tersebut bersamaan dengan kegiatan serupa di Sekolah Tinggi Ilmu Da‘wah (STID) Mohammad Natsir di Bekasi.

Workshop Pemikiran dan Peradaban Islam di UNIDA Bogor

Workshop Tantangan Pemikiran dan Peradaban Islam di UNIDA Bogor

Karena diselenggarakan pada waktu yang sama, 23 peserta PKU VIII terbagi ke dalam tiga rombongan. Sebagian peserta PKU VIII di bawah bimbingan Harda Armayanto, M.A. berangkat ke UIKA Bogor, dengan tiga pembicaranya, yaitu Abid Ikhwan Alhadi, Ahmad Sofyan Hadi, dan Ayub. Peserta PKU VIII yang menuju UNIDA Bogor didampingi dosen pembimbing lainnya, Hasib Amrullah, M.Ag., dengan membawa empat pemateri. Mereka adalah Cecep Supriadi,  Hariman Muttaqin, M. Aqil Azizy, dan Hariyanto.

Adapun rombongan yang berkesempatan ke STID Mohammad Natsir didampingi Taufiq Affandi, M.Ec. Di salah satu perguruan tinggi binaan Yayasan Dewan Da‘wah Islamiyah Indonesia (DDII) tersebut, PKU VIII menghadirkan tiga pembicara, yaitu Abdul Wahid, Saiful Anwar, dan Syamsi Wal Qamar.

Para pembicara memaparkan pembahasan mereka secara argumentatif dan merujuk sumber-sumber yang otoritatif. Abid berbicara mengenai upaya Syi‘ah membela diri dengan membuat buku berjudul “Syi‘ah Menurut Syi‘ah”, sebagai tanggapan dari buku yang diterbitkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang bahaya Syi‘ah. Buku tersebut berjudul “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah di Indonesia”. Seakan merasa benar, Syi‘ah juga melontarkan berbagai tuduhan terhadap Ulama Sunni. Salah satu tuduhan di dalam buku karangan Syi‘ah bersampul warna kuning itu adalah tentang tahrif ‘penyimpangan’ Al-Qur’an oleh ulama Sunni. Abid berhasil membuktikan tuduhan ini tidak benar setelah ia mengkaji buku tersebut.

Pembicara lainnya, Sofyan, mengungkap bahaya paham multikulturalisme yang kini merambah dunia pendidikan. Paham ini, katanya, telah membuat hilangnya batasan-batasan antaragama yang seharusnya tetap terjaga. Namun, karena dipengaruhi paham multikulturalisme, umat Islam pun seperti dituntun untuk mengesampingkan keyakinan mereka dengan mengikuti doa lintas agama, mengikuti perayaan Natal, dan lain sebagainya. “Inilah toleransi kebablasan yang tidak bisa dibiarkan,” katanya.

Sedangkan Ayub berbicara mengenai penyimpangan orientasi seksual yang sangat meresahkan umat Islam di Indonesia akhir-akhir ini. Di beberapa negara Barat, praktik kaum lesbian, gay, biseksual, dan transgender yang dikenal dengan singkatan LGBT itu telah dilegalkan pemerintah. Penyimpangan orientasi seksual ini dianggap sebagai sesuatu yang lumrah bagi orang-orang liberal. Hal ini jelas bertentangan dengan ajaran Islam yang sangat mengutuk perbuatan di luar fitrah manusia tersebut.

Sementara tema politik dibawakan oleh Cecep Supriadi. Ia membahas relasi Islam dan negara. Menurutnya, Islam tidak bisa dipisahkan dari kehidupan bernegara jika ingin tercipta negara yang ideal. Sedangkan Hariman Muttaqin memaparkan upaya dekonstruksi atau reformasi syariah yang dilakukan salah satu tokoh muslim berpikiran liberal, yaitu Abdullahi Ahmed An-Na‘im. Yang lain, M. Aqil Azizy, mengungkap upaya liberalisasi kurikulum pendidikan di sekolah-sekolah. Kata Aqil, paham liberalisme telah merasuk ke dalam kurikulum melalui buku-buku pelajaran. Salah satu bukti yang ia temukan adalah tentang gaya pacaran sehat yang menjadi materi salah satu pelajaran di sekolah. Selain itu, pembicara lain, Hariyanto, membeberkan pengaruh Nietzsche terhadap pemikiran liberal yang berkembang saat ini.

Di samping itu, ketiga pembicara di STID Mohammad Natsir membahas tema pluralisme dan liberalisme. Wahid memaparkan bahaya pluralisme yang saat ini jarang disadari umat Islam melalui praktik-praktik toleransi kebablasan. Berbeda dengan Wahid, Saiful membahas tentang pendidikan keluarga berwawasan gender. Menurutnya, pendidikan berwawasan gender ini merupakan kedok feminisme yang ingin menghancurkan institusi keluarga. Tema lainnya yang dibahas oleh Syamsi berkaitan dengan pemaknaan nyeleneh tentang Islam dari kalangan orientalis dan kaum liberal.

Syamsi menjelaskan, Islam yang sebenarnya telah termaktub di dalam Al-Qur’an sebagai nama agama dari risalah Nabi Muhammad Saw dimaknai berbeda oleh mereka. Bagi orang-orang orientalis dan kaum liberal, Islam itu bukan nama agama, tapi maknanya adalah “berserah diri”. Jadi, seorang nonmuslim cukup berserah diri kepada Tuhan masing-masing sudah bisa dikatakan Islam, tanpa memeluk agama Islam dan menjadi seorang muslim. Ini jelas bertentangan dengan Al-Qur’an, karena itulah harus diluruskan.*elk

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *