Kultum Subuh Ramadhan: Sejarah Puasa Dalam Agama-Agama

Kultum Subuh Ramadhan: Sejarah Puasa Dalam Agama-Agama

UNIDA Gontor – Seperti tahun-tahun sebelumnya Ta’mir masjid Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor menggelar Kuliah Tujuh Menit (KULTUM) setiap hari setelah sholat shubuh di bulan suci Ramadhan dengan menjadwalkan dosen-dosen senior. Kultum Subuh Ramadhan kali ini diawali oleh Rektor UNIDA Gontor, Prof. Dr. Amal Fathullah Zarkasyi, M.A. dengan tema “Sejarah Puasa Dalam Agama-agama”. (Senin, 6 Mei 2019).

Mengawali kultumnya, beliau membaca surat al-Baqarah ayat 183 “Ya ayyuhalladziina aamanuu kutiba ‘alaikumus shiyaamu kamaa kutiba ‘alal ladziina min qablikum la’allakum tattaquun”.
(Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian puasa sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertaqwa)

Puasa merupakan rukun Islam, setiap ramadhan kita melaksanakan Ibadah ini dengan senang hati. Demikian juga dengan umat sebelumnya, diwajibkan berpuasa. Kemudian timbul pertanyaan dalam hati kita, bagaimana puasa umat-umat terdahulu?

Nabi Nuh AS, umurnya 950 tahun, melaksanakan puasa selama hidupnya kecuali hari raya Idul Fitri dan Qur’ban.
Kemudian setelah kita tela’ah kembali kata “min qoblikum” itu bagaimana? Di dalam agama Yahudi, puasa diwajibkan selama 40 hari. Mulanya adalah 30 hari, lalu kemudian menjadi 40 hari. Lain halnya dengan orang-orang kristen yang lebih bersifat spiritualistik. Saking spiritualistiknya orang-orang kristen mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah SWT. Mereka di wajibkan puasa selama 50 hari. Sedangkan di dalam Islam diwajibkan selama 30 hari.

Beliau menambahkan “Semua kita puasa, masing-masing mempunyai ni’at dan yang tahu hanya Allah. Supaya kita tidak termasuk dalam golongan orang-orang yang hanya mendapatkan haus dan lapar maka hendaknya melaksanakan puasa dengan penuh keimanan.”

Kelebihan bulan puasa

Putra dari pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor ini mengungkapkan kelebihan bulan puasa ini banyak, diantaranya adalah turunnya al-Qur’an. Menurut penelitian, kitab-kitab suci seperti suhuf Ibrohim, taurot, Injil, Zabur dan al-Qur’an turun pada bulan Ramadhan hanya tanggalnya saja yang berbeda.

Al-Quran adalah furqan, pembeda. Furqan benar-benar membedakan zaman sebelum dan setelah Islam, jadi nyata perbedaanya antara zaman setelah turunnya al-Qur’an.

Diakhir penyampainnya beliau memberikan tips agar puasa kita lebih berkualitas. “Bagaimana agar puasa kita berkualitas? sebagaimana puasa para sholihin. yaitu berpuasa ramadhan tahu batas-batasnya dan menjaga puasanya”.

“Mengutip dari perkataan Imam Ghazali dalam Kitab Ihya Ulumuddin diantaranya: Menjaga Lisan, berbicara yang baik, tidak melakukan pertengkaran, dzikrullah, membaca Al-Qur’an, menjaga Mata, tidak melihat hal-hal yang di haramkan oleh Allah SWT, menghidari ghibah dan namimah, menjaga pendengaran dari hal-hal yang tidak bermanfaat, menjaga anggota badan dari susatu yang tidak sesuai dengan syari’at Islam dan tidak berlebihan di dalam berbuka puasa”. [H.Wafi]

Kultum Subuh Ramadhan Lainnya

Berbagai kultum subuh lainnya dapat ditemukan di sini:

Puasa Menjadikan Kita Pribadi yang Bertaqwa, Apa Saja Indikatornya? (Kultum Dr. Setiawan bin Lahuri)

Kultum Ramadhan: 3 Bentuk Kezhaliman (Oleh: Dr. Abdul Hafidz Zaid)

Selain kultum subuh, anda dapat juga menemukan kajian Ramadhan di sini:

Hari Pertama Safari Dakwah Qatar, Dr Hamid Fahmy Zarkasyi tekankan hal ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *