Kuliah Umum Prof. Dr. Din Syamsuddin, M.A. di UNIDA Gontor

Kuliah Umum Prof. Dr. Din Syamsuddin, M.A. di UNIDA Gontor

UNIDA Gontor – Sabtu (30/11), Unversitas Darussalam (UNIDA) Gontor kedatangan guru besar Pemikiran Politik Islam FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Din Syamsuddin, M.A., Ikut menyambut kedatangannya, Wakil Rektor II Dr. Setiawan bin Lahuri, M.A., Wakil Dekan Fakultas Humaniora Dr. Abdul Hafidz Zaid, M.A., dan beberapa dosen UNIDA Gontor.

Pada kesempatan ini ketua umum PB Muhammadiyah periode 2005-2010 dan 2010-2015 menyampaikan kuliah umum dihadapan seluruh mahasiswa UNIDA Gontor dengan tema “Jadikan Setiap Tempat Sebagai Sekolah, Jadikan Setiap Orang Sebagai Guru” – Ki Hajar Dewantara.

Saat penyampain materi oleh Din Syamsuddin sapaan akrab beliau, seluruh peserta sangat antusias mengikuti acara yang diadakan di Hall gedung Utama lt.4. Terlihat dari banyaknya peserta yang hadir dan bertanya, guna menggali dalamnya ilmu dan pengalaman yang beliau miliki.

Dalam sambutannya Wakil Rektor Bidang Keuangan dan SDM UNIDA Gontor mengungkan rasa haru. Disela-sela kesibukan mantan Pimpinan Pusat MUI, menyempatkan dirinya untuk datang ke UNIDA Gontor, guna memberikan kuliah umum. Dengan waktu yang sedikit ini, marilah kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya, agar kita dapat melihat dunia ini dengan lebih baik, tegasnya.

Pada orasinya, alumni Gontor 1975 mengawali dengan ungkapan to be good is not good enough, why not the best and be the best. Menjadi sekedar baik tidak cukup baik, kenapa tidak menjadi yang terbaik, dan jadilah yang terbaik. Beliau melanjutkan bahwa umat Islam masih terjangkit empat penyakit, kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan dan kesulitan bersatu. Akan tetapi Islam memiliki empat sumber daya yang tidak dimiliki oleh non-muslim, yaitu sumber daya manusia, sumber daya alam, sumber daya nilai, dan sumber daya sejarah.

Di penghujung acara, moderator Ahmad Farid (ketua DEMA) memberikan ungkapan menarik. Ia dapat dari Din Syamsuddin ketika simposium di Madinah. Bahwa “NU, Muhammadiyah, Persis adalah alat bukan ghoyah atau tujuan”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *