Kisah Komputer Pertama di Gontor: Disambut Pagar Betis

Kisah Komputer Pertama di Gontor: Disambut Pagar Betis

Oleh: Taufiq Affandi

Pernahkah anda bertanya, bagaimana kisah komputer pertama di Gontor? Pada tahun berapa Gontor mulai mengenal komputer? Tulisan singkat ini semoga bisa menjawabnya.

Dalam kesempatan bertemu KH Dr Sofwan Manaf, alumni Gontor yang kini adalah pengasuh Pondok Pesantren Darunnajah, penulis berkesempatan mendapatkan cerita yang menarik, yaitu kisah komputer pertama yang ada di Pondok Modern Darussalam Gontor.

Pertemuan itu terjadi beberapa hari lalu saat menjenguk salah seorang putra beliau yang sedang dirawat di sebuah rumah sakit di Ponorogo. Momentumnya bertepatan dengan pelatihan pengelolaan website yang sedang diadakan di UNIDA Gontor di mana kedua trainernya adalah alumni Gontor yang kini berkiprah di Darunnajah, yaitu Al-Ustadz Mustofa Zahir dan Al-Ustadz Alaul Abror.

Percakapan dimulai dengan pertanyaan dari penulis tentang awal mula website Darunnajah yang hingga saat ini sudah berusia 18 tahun. Penulis pertama kali mendengar hal tersebut dari trainer website.

Ternyata pertanyaan itu mengantarkan beliau pada kisah bagaimana Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor menaruh perhatian yang sangat besar pada teknologi. Sebuah pengalaman yang membuat Ustadz Yayan, panggilan akrab KH Shofwan Manaf, memiliki kemampuan dan wawasan teknologi seperti saat ini.

Lalu kisahpun dimulai…

Kurang lebih kisah yang dituturkan Ustadz Yayan seperti berikut:

Jadi saat itu, sekitar tahun 1987, Ustadz Syukri membeli sebuah komputer. Itu adalah komputer pertama yang ada di Gontor. Saking bersejarahnya peristiwa itu, komputer datang dengan disambut pagar betis.

Komputer lalu diletakkan di Kantor Pimpinan. Lalu saat itu Ustadz Syukri memanggil Ust Ahmad Suharto, yang saat itu adalah Sekretaris Pimpinan (saat ini wakil pengasuh Gontor Kampus Putri 1), dan juga saya untuk mempelajari komputer tersebut.

Saat itu kamar saya masih di Dewan Mahasiswa. Namun tidak lama berselang, tugas saya dipindahkan ke sekretaris pimpinan.

Kami sendiri sebenarnya bukan seorang ahli dalam bidang komputer. Namun karena terpaksa, akhirnya kami mempelajari komputer itu dengan sungguh-sungguh.

Pernah suatu saat saya mencoba memasukkan disket ke dalam komputer, namun berkali-kali gagal. Akhirnya saya coba bertanya kesana-kemari, alhamdulillah saya mendapat jawaban bahwa disket itu harus di-format dulu baru bisa dipakai.

Karena terpaksa, untuk menyelesaikan tugas pondok, akhirnya jadi bisa.

Karena melihat manfaat yang bisa didapat dari komputer sangat luas, kami sempat berinisiatif untuk mengajukan pembelian komputer kepada pimpinan pondok. Namun sayang, pengajuan itu selalu ditolak. Sepertinya Pimpinan menguji kami untuk menguasai komputer lebih dalam lagi sebelum membeli tambahan komputer.

Membeli 10 Komputer!

Setelah rentang waktu cukup panjang, suatu hari Ustadz Syukri memanggil kami dan berkata, “Sekarang kamu pergi beli 10 komputer dan sebuah AC!”

Kami begitu senang dengan instruksi itu. Tanpa pikir panjang, tidak selang berapa lama kami berangkat ke Surabaya untuk membeli apa yang beliau instruksikan tersebut.

Setelah membeli, kami baru berpikir, “Bagaimana cara membawa komputer yang sekian banyak ini? Belum lagi AC-nya yang kapasitas 2 PK?!”

Kami belum berpikir tentang travel ataupun metode pengiriman lainnya waktu itu. Jadi satu-satunya yang ada dalam pikiran kami adalah membawa semua komputer dan AC itu dengan bus. Bisa dibayangkan betapa besarnya monitor komputer pada saat itu.

Akhirnya kami tidak bisa membawa peralatan itu sekali jalan.

AC Pertama di Gontor

Singkat kata, akhirnya setelah semua komputer tiba di pondok. Sebuah ruangan di pondok digunakan sebagai laboratorium komputer. Yaitu ruang sisi depan di Gedung Saudi Lt 2 Bagian Timur. Itu menjadi ruang pertama di Gontor yang menggunakan AC.

Saat itu, untuk pemasangan AC-nya, kami meminta bantuan kepada Alm. KH Abdullah Mahmud untuk mengirimkan tukang dari bagian pembagunan.

Ruangan itu menggunakan karpet dan meja komputer. Di sana kami bersama Ust. Suharto dan juga Alm. Ustadz Saifurrahman Nawawi diberi amanat untuk mengajar komputer untuk asatidz lainnya yang belum mengerti komputer.

Pertanyaan kembali hadir pada kami, “Apa yang harus kami ajarkan?! Sedangkan kami sendiri belum menguasai banyak tentang komputer.”

Akhirnya kami harus membeli berbagai buku komputer. Setiap hari kami pelajari dan besoknya kami ajarkan. Begitu seterusnya sehingga lama-lama kami menguasai juga.

Di antara asatidz yang ikut belajar komputer itu ada Al-Ustadz KH Imam Badri, yang dengan semangatnya ikut mempelajari komputer.

Dan kursus itu ada ujiannya.

Al-Ustadz KH Imam Badri tidak suka jika ada ustadz yang tidak mau diuji kemampuan komputernya. Beliau berpesan “Jangan jadi Napoleon baru,” yang maksudnya, jangan jadi Pahlawan yang tidak berani menghadapi ujian.

Hikmah dari Kisah Komputer Pertama ini

Begitulah sepetik cerita yang memberi kita inspirasi bahwa jika kita melakukan suatu tugas dengan benar, maka kita sendirilah yang akan mendapatkan manfaatnya.

KH Imam Zarkasyi sering berpesan, “Sebesar keinsyafanmu, sebesar itu pulalah keuntunganmu.” Wujud yang kita lihat adalah tugas untuk mempelajari ini dan itu, atau untuk mengajarkan ini dan itu, namun pada hakekatnya, kita yang akan beruntung dari tugas itu.

Sebagaimana direkam dalam buku Senarai Kearifan Gontor—yang disususun oleh Al-Ustadz Ahmad Suharto, M.Pd.I.,—KH Ahmad Sahal juga berpesan, “Dalam menjalankan tugas (pengabdian) ananda supaya berpegang: Toto, titi, tatag, tutug.”

Dalam buku Senjata Penganjur, KH Zaenuddin Fanani juga menegaskan kembali pentingnya mengerjakan tugas dan pekerjaan, dan untuk tidak pernah merasa lelah, dengan mengutip hikmah Arab yang artinya, “Akan habis masa hidup seseorang pada hari aktivitasnya berhenti.”

Kisah diatas juga menunjukkan tentang bagaimana perhatian besar yang diberikan Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor dalam mendidik santrinya dalam berbagai hal, termasuk dalam kemampuan menggunakan teknologi.

Saat ini, di Gontor terdapat gedung Nin-Xia. Sebuah gedung berlantai 3 yang digunakan sebagai kantor Darussalam Computer Center (DCC). Di UNIDA Gontor saat ini juga terdapat Fakultas Sains dan Teknologi dengan 3 program studi; Teknik Informatika, Agroteknologi, dan Teknologi Industri Pertanian.

Di berbagai kampus Gontor, teknologi tepat guna juga digunakan untuk peternakan sapi, industri kecil dan menengah, serta perkebunan dan pertanian. Di bidang informasi digital pun santri dan asatidz Gontor banyak berperan untuk memperluas manfaat ilmu.

Dari Motto yang dicanangkan Trimurti Pendiri Gontor, yaitu ‘Berpengetahuan Luas’, alhamdulillah menjadi doa bagi santri-santrinya untuk menjadi seorang mundzirul qaum yang memiliki literasi teknologi yang tinggi.

Semoga kita dapat meneladani semangat para Pendiri Pondok dan Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor.

Gontor, 16 April 2019

6 Comments

    • waiyyaki

      Taufiq Affandi Reply
  • Wah… Seru ya ternyata di Gontor juga bisa punya lab komputer untuk para santrinya. Bagus sekali. Apalagi jika para santri nantinya juga diajarkan menulis lewat media digital, semisal blog.

    Blogger Merdeka Reply
  • Betapa berharganya sejarah bagi kehidupan kita saat ini. Semoga kita termasuk dalam golongan orang-orang yang bisa memahami himah dan mengambilnya, serta mengaplikasikan inti dari hikmah tersebut dalam kehidupan sehari-hari…

    An-Nida Dianti Reply
    • Aamiiin

      Taufiq Affandi Reply
  • Alhamdulillah dengan pendidikan Gontor, sekarang saya bisa mengembangkan bidang media

    Zaenal Mustofa Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *