Kiai Syamsul Hadi Abdan Mengajarkan Kami Etos Jiddiyyah

Kiai Syamsul Hadi Abdan Mengajarkan Kami Etos Jiddiyyah

Oleh: Muhammad Faqih Nidzom, alumni Gontor 2008, Dosen Universitas Darussalam Gontor

Jiddiyah, yang bermakna bersungguh-sungguh atau serius, menjadi satu dari sekian banyak kata kunci dari tausiyah ayahanda Ustadz K.H. Syamsul Hadi Abdan -Allahu yarham- yang akan selalu kami kenang.

Di setiap awal tahun ajaran baru, beliau berpesan kepada semua guru KMI (Kulliyat al-Mu’allimīn al-Islāmiyyah), “Tempalah besi ketika ia sedang panas”. Artinya, sejak dini, saat santri sedang semangat-semangatnya, guru harus totalitas dalam mengajar dan mendidik mereka, baik dalam kegiatan akademis maupun penunjang akademis. Karena saat itulah masa terbaik untuk membentuk santri, dari aspek spiritual, mentalitas dan keilmuannya.

Etos jiddiyah ini juga beliau tanamkan ke kami dalam mengerjakan hal yang barangkali sederhana; mengoreksi lembar jawaban santri. Secara normatif, beliau sampaikan bahwa prinsip memberi hak kepada yang semestinya adalah sebuah kewajiban. Maka, kesalahan sedikitpun dalam koreksi, input data nilai, dsb, adalah kedzoliman dan harus karenanya, harus dihindari.

Secara historis, beliau menghadirkan uswah dari seriusnya Kiai Imam Zarkasyi ketika mengoreksi, juga tentunya, dari pengalaman pribadi beliau selama puluhan tahun. Secara praktis, beliau uraikan satu persatu bagaimana seharusnya seorang guru menilai. Dan alhamdulillah, pedoman dari beliau itu sekarang telah disadur dan ditulis, sehingga manfaatnya bisa dinikmati oleh semua guru Gontor.

Dari sini, Kiai Syamsul seperti memiliki metode yang khas dalam mengajarkan kepondokmodernan. Nilai-nilai yang dirangkum oleh para perintis Gontor dalam bentuk Panca Jiwa (keikhlasan, kesederhanaan, ukhuwah islamiyah, berdikari dan kebebasan) dan Motto Pondok (berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas dan berpikiran bebas) beliau jelaskan secara prinsip, lalu menghadirkan teladan dari para anshar pondok terdahulu, untuk kemudian merumuskan langkah tepat yang harus dikerjakan.

Metode ini, menurut saya, menjadikan nilai-nilai pondok tidak lagi memerlukan definisi verbalis, karena ia bukan lagi sekadar slogan, tetapi nyata, riil, karena semua penghuninya hidup dengannya dalam setiap gerak aktifitas. Meminjam istilah Ustadz Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, inilah apa yang disebut sebagai “Living Wisdom” atau hikmah yang hidup dan aktial dalam kehidupan.

Dengan begitu, kesemuanya ini bisa menjadi sumber mata air keteladanan bagi para generasi penerusnya. Dan itupun, juga ada dalam diri Kiai Syamsul. Semua dari kita pasti menjadi saksi dalam hal ini.

Kita juga ingat, betapa fasihnya beliau menceritakan sejarah Gontor dengan detail, dengan tokoh-tokohnya yang banyak berjasa. Salah satunya, bisa kita simak tausiyah beliau yang menggambarkan pengorbanan para Trimurti di tautan ini:

Mungkin, ini setetes inspirasi yang bisa kita ambil dari samudera hikmah dalam diri Kiai Syamsul. Tugas kami berikutnya, para santri beliau, untuk menceritakan ke generasi mendatang bahwa Kiai Syamsul adalah teladan nyata dalam mengaktualisasi panca jiwa dan motto Pondok. Berjuang dan mendidik dengan jiwa Gontor, dengan nilai-nilai Islami. Beliau adalah bagian dari “Living Wisdom” Gontor.

Ustadziy..
Terima kasih atas semua ilmu dan pengalaman berjarga yang kau berikan kepada kami.
Selamat jalan, wahai Embun Keikhlasan.

Madiun,
18 Mei 2020, pukul 16.02

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *