Kiai Hasan: Wisuda UNIDA Gontor dan Keabadian Cita-cita Gontor

Kiai Hasan: Wisuda UNIDA Gontor dan Keabadian Cita-cita Gontor

Beberapa Catatan dari Pidato Ustadz KH. Hasan Abdullah Sahal

Oleh: Muhammad Faqih Nidzom

Sebagaimana jamak diketahui oleh para penghuninya, Pondok Modern Darussalam merupakan pondok Wakaf dari Trimurti pendiri kepada umat Islam. Tepatnya adalah pada tahun 1958, dimana mereka berusaha merealisir cita-cita untuk mendirikan universitas.

Maka dalam Piagam Penyerahan Wakaf tersebut tertulis dengan jelas cita-cita Trimurti, yaitu agar Pondok Gontor ke depannya dikembangkan menjadi universitas Islam yang berarti dan bermutu serta menjadi pusat pengkajian Islam dan Bahasa Arab. Selengkapnya, lihat di link berikut: http://unida.gontor.ac.id/sejarah/

Dalam pidatonya di prosesi wisuda Unida Gontor ke-32, 3 Maret 2019, Ustadz KH. Hasan Abdullah Sahal menegaskan kembali status tersebut. Beliau menyampaikan di hadapan seluruh hadirin; para dosen, mahasiswa, wisudawan-wisudawati dan para walinya, bahwa cita-cita ini harus abadi, karena memang yang diperjuangkannya pun bernilai abadi. Apa maksudnya?

Ya, yang diperjuangkan oleh universitas ini adalah cita-cita yang bersumber dari nilai-nilai yang sifatnya juga abadi. Dengan semangatnya Ustadz Hasan menyampaikan, bahwa nilai-nilai tersebut adalah; Pertama, ajaran Islam, dimana ia tidak akan hilang sampai hari Kiamat. Kedua, Syari’ah, dimana ia tidak akan berubah, dan akan selalu relevan dengan perputaran zaman dan tempat.

Ketiga, Al-Qur’ān, yang ia dijaga oleh Allah swt., dan akan terus menjadi pedoman umat Islam. Keempat, Bahasa Arab, dimana ia merupakan bahasa kitab suci kita, al-Qur’ān. Tak lupa, beliau menyebut poin kelima, yaitu Pelajaran Umum, ilmu pengetahuan alam maupun sosial, dimana ia bisa terus digali dan dikembangkan dengan berbagai penelitian.

Pemaparan beliau ini sungguh bermakna. Bagaimana tidak, ia menjadi menjadi penegasan kembali akan rel dan khittah Pondok Gontor yang agung dan visioner. Nilai-nilai tadi juga bisa kita pahami sebagai prasyarat utama keberlangsungan dan kemajuan pondok. Dalam arti, ia akan maju, dan akan terus hidup, jika tetap berada khittah tadi. Jika kelima poin itu berganti, atau bahkan hilang, maka pondok tidak akan ada harganya, sebab yang diperjuangkan bukan lagi hal-hal yang bersifat abadi.

Uraian beliau ini sekaligus sebagai pengingat yang lupa, penegas yang lalai, dan peneguh bagi yang sudah memahami. Seperti yang seringkali didengungkan Ustadz Dr. KH. Abdullah Syukri Zarkasyi dalam berbagai kesempatan, berbicara tentang nilai pondok itu harus “peng sewu”. Ya, seribu kali, yang bermakna harus berkali-kali.

Setelah memahaminya, lantas, apa yang harus kita lakukan? Ustadz Hasan memulainya dengan mengingatkan kita akan sabda Rasulullah saw. yang artinya, “Kedua telapak kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sampai ditanya tentang umurnya untuk apa dia habiskan, tentang ilmunya untuk apa dia amalkan, tentang hartanya dari mana dia peroleh dan kemana dia infakkan dan tentang tubuhnya untuk apa dia gunakan.” (HR. Ahmad).

Hadis di atas tentu memiliki makna yang mendalam bagi siapapun yang merenungkannya. Sebab ia menjelaskan hakikat manusia sebagai makhluk yang memiliki tugas dan amanat, dimana umur, ilmu, harta dan raganya akan dihisab oleh Allah swt. Ustadz Hasan menegaskan, “Al-Insānu makhlūqun mas’ūlun, manusia adalah makhluk yang dimintai pertanggungjawaban. Inilah yang membedakan kita dengan makhluk lainnya”.

Dengan menyadari cita-cita yang agung dari kampus ini, yang tentu dengan nilai-nilai islaminya, dan betapa kita akan dihisab, maka yang hendaknya kita lakukan sebagai penghuninya adalah berilmu dan beramal yang maksimal untuk kemajuan kampus ini. Ladangnya terbuka lebar di depan kita, banyak hal yang bisa kerjakan.

Pose santai dengan senyum lepas para wisudawan setelah prosesi wisuda

Setidaknya, pertama, kita memulai itu semua dari diri kita sendiri. Misalnya dengan membina kecerdasan nurani, selain memperkuat kecerdasan intelektual. Juga dengan memperbaiki akhlak, selain memperkokoh ilmu pengetahuan. Inilah diantara pesan terpenting yang bisa kita simak dari Ustadz Hasan, begitu juga yang disampaikan bapak Rektor Unida Gontor, Ustadz Prof. Dr. Amal Fathullah Zarkasyi. Sebab, tegas Ustadz Hasan, yang menentukan kita masuk surga bukanlah titel dan pangkat, melainkan iman, amal, dan identitas (sibghah) keislaman kita.

Kedua, kita memulainya dari sekarang, tanpa menunggu-nunggu lagi. Hadis Nabi saw jelas mengingatkan kita untuk memaksimalkan kesempatan yang dimiliki; baik itu masa muda, kesehatan, kelapangan harta dan waktu, dan kehidupan kita. Sedemikian itu karena kesemuanya sejatinya adalah masa yang pendek. Dan Ustadz Hasan menyebut, yang sebenarnya panjang adalah masa tua, masa sempit, dan tentu saja, kematian. Tak lupa beliau mengingatkan dengan mengutip adagium populer di kalangan santri, “Lā tuakkhir ‘amalaka ila-l-ghadi mā taqdiru an ta’malahu-l-yawma”.

Ketiga, kita memulainya dari hal-hal sederhana. Sebagai dosen misalnya, mengajar dengan persiapan yang baik, berangkat ke kantor tepat waktu, mengingatkan mahasiswa untuk berdisiplin, mengajak mereka diskusi dan berliterasi, dan lainnya adalah beberapa contoh kecilnya. Tentu dengan keyakinan kita, tidak ada yang benar-benar kecil, ia bisa bernilai agung, jika kita niatkan untuk Allah swt. Ustadz Hasan mengingatkan dengan Hadis Nabi, “Lā tahqiranna minal ma’rūfi sya’ian, walaw an talqā akhāka biwajhin thalqin/ wa wajhuka munbasithun”. (HR. Ahmad). Beliau juga mengingatkan, yang mengajar belum tentu lebih mulia dari yang bekerja di sawah, begitu juga sebaliknya.

Dari hal sederhana tadi; memulai dari diri sendiri, dari sekarang, dan dari hal kecil, kemudian bisa kita tingkatkan ke yang lebih besar. Baik di bidang pendidikan dan pengajaran, penelitian, maupun pengabdian kepada masyarakat. Pidato bapak Rektor dan pembacaan laporan Rektor tadi pun semakin membuat kita optimis, Unida Gontor sudah banyak melangkah. Dan banyak hal bisa ditingkatkan, diperkaiki dan dikembangkan, oleh semua penghuninya. Ini tentu dalam rangka mewujudkan cita-cita mulia Trimurti tadi.

Dan sekali lagi, Ustadz Hasan tak henti-hentinya mengajarkan kita arti menjadi manusia yang visioner. Dengan selalu mengarahkan santri dan mahasiswa dan pendidik apa sebenarnya visi kita ke depan, dan bagaimana mestinya kita memulai langkah, serta jalan mana yang hendaknya ditempuh. Belum lagi gagasan-gagasan beliau tentang seperti apa semestinya pesantren, agar tetap menjadi garda terdepan dalam kebangsaan; dan menjadi guru bagi pilar-pilar kebangsaan.

Masih banyak percikan nasihat dan petuah berharga beliau. Seperti, apa saja modal kita untuk berbuat dan bermanfaat untuk umat, khususnya dalam konteks keislaman dan kebangsaan, tantangan apa yang sebenarnya kita hadapi, dan bagaimana meresponnya dengan cermat, peluang apa saja yang kita miliki, dan banyak lagi lainnya. InshāAllāh akan penulis lanjutkan di catatan berikutnya.

Setidaknya, apa yang Ustadz Hasan sampaikan menjadi embun penyebut dan lecutan motivasi bagi siapapun yang mendengarnya; baik dosen guru, mahasiswa, terkhusus, para wisudawan-wisudawati yang berbahagia. Semoga ini menjadi kesyukuran kita, selalu ada guru yang mengingatkan kita dengan semangatnya.

Terakhir, untuk para wisudawan-wisudawati ke-32 ini, selamat dan sukses. Selamat berjuang dimanapun tempat pengabdian berikutnya. Agar selalu mengingat jasa kampus ini, mari kita ingat selalu petikan puisi Ustadz Taufiq Affandi yang sangat menyentuh ini, “Ada satu tempat. Saat kuterbangun di pagi, aku berpikir apa yang bisa kulukis pada langitnya, apa yang bisa kutoreh pada batunya. Jika belum dapat kutorehkan kata yang menawan, akan kutorehkan sebuah kalimat sederhana, Terima kasih Gontor”.

 

Artikel Terkait:

Ungkapan Syukur: Zulvia Wisudawan Skripsi Terbaik Wisuda 32 UNIDA Gontor
Ayahanda Tercinta: Kita diterjang Tsunami Dhahir dan Batin
Wisudawati Prodi HES Masuk Juara Umum Terbaik Wisuda Anggkatan 32

 

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *