Kiai Hasan: “Kekuatan Doa Ibu”

Kiai Hasan: “Kekuatan Doa Ibu”

UNIDA Gontor – “Warisan terbesar Trimurti Pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor adalah nilai-nilai luhur dan perjuangan”. Demikian ungkap KH Hasan Abdullah Sahal pada kuliah umum babak kedua, Selasa, (15/8) di auditorium Unida Gontor.

Melanjutkan kuliah umum babak pertama, pada babak kedua ini Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) Kiai Hasan Abdullah Sahal menyampaikan tentang kepondokmodernan, sejarah dan perjuangan Trimurti Pendiri PMDG dalam masa masa awal mendirikan pondok. Kesuksesan para pendiri PMDG K.H. Ahmad Sahal, K.H. Zainuddin Fanani dan K.H. Imam Zarkasyi tidak terlepas dari peran besar Ibunya Nyai Santoso. Beliau menceritakan Betapa beratnya menghadapi tiga hal pada masa itu, kemaksiatan, penjajahan dan kebodohan. Hanya ada seorang Ibu yang menghadapi diluar kemampuannya. Modalnya hanya cita-cita dan do’a. Berdo’a, minta do’a dan mendo’akan.

Acara ini tidak hanya diwajibkan untuk mahasiswa semata, melainkan dosen dan segenap keluarga besar UNIDA Gontor pun wajib mengikutinya. Hal ini dilakukan untuk memperkenalkan dan mengingatkan kembali akan nilai-nilai luhur yang dimiliki Gontor. Karena sejatinya Gontor yang besar dimata dunia sekarang tidaklah disebabkan oleh segelintir orang saja, melainkan ini adalah hasil dari keluarga besar PMDG yang selalu mengestafetkan nilai-nilai luhur tersebut dari generasi ke generasi.

Beberapa kali bapak Pimpinan PMDG dan Rektor UNIDA Gontor menyulam air mata haru ketika mengingat perjuangan dan cita-cita besar pendiri Gontor. Dimana sekarang sebagian besar cita-cita di masa lalu sudah terwudkan serta kepercayaan masyarakan domestik dan internasional kepada lembaga pendidikan ini sudah sangat besar.

Diakhir kuliah umum, K.H. Hasan berharap dan berdo’a agar kita semua dilindungi dan tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang yang memiliki tiga sikap tercela, yaitu: sikap istigna, merasa cukup, kaya, tidak membutuhkan siapa-siapa. Sikap istikhfaf meremehkan sesuatu, menganggap tidak ada artinya. Terakhir, Sikap istihza, sikap manusia yang selalu menghina, mengejek, dan mengolok-olokan agama Allah ‘Azza wa Jalla, Rasul-Nya, dan ayat-ayat-Nya. Sedangkan makna dari Istihza` biayatillah (memperolok-olok ayat-ayat Allah) disini adalah memperolok-olok Al-Qur`an dan segala sesuatu yang berkaitan dengan Dien (Agama Islam). Sikap ini timbul karena kesombongan yang dimiliki manusia.

“Apa yang ada ini mendidik kita semuanya. apa yang terjadi dalam dunia mengajarkan, mendidik kita menjadi manusia yang matang dalam memperjuangkan kebenaran.” Tutur K.H. Menutup kuliah umum babak kedua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *