Khutbah Idul Adha Singkat 2018: Tadabbur Makna Qurban

Khutbah Idul Adha Singkat 2018: Tadabbur Makna Qurban

Khutbah Idul Adha Singkat 2018 ini disusun oleh Al-Ustadz H. Khoirul Umam, M.Ec., dosen Universitas Darussalam Gontor. Khutbah Idul Adha Singkat 2018 mengangkat tema Tadabbur Makna Qurban

Teks Khutbah Idul Adha Singkat 2018

Khutbah Pertama

Tadabbur Makna Hari Raya Qurban

الله أكبر/ الله أكبر/ الله أكبر/ الله أكبر/ الله أكبر/ الله أكبر/ الله أكبر/ الله أكبر/ الله أكبر.

إنَّ الحمد لله، نحمده ونستعينه، ونستغفره ونتوب إليه، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أنْ لا إله إلا الله وحده لا شريك له ولا مثيل له ولا نِدَّ له، وأشهدُ أنَّ محمداً عبده ورسوله وصفيّه وخليله، أرسله الله بشيراً ونذيراً وداعياً إلى الله بإذنه وسراجاً وهّاجاً وقمراً منيراً. بلغ الرسالة وأدى الأمانة ونصح للأمة وجاهد في الله حق جهاده.
اللهم صل على محمد وعلى آله وأزواجه أمهات المؤمنين وأصحابه الأخيار رضوان الله عليهم ومن دعا بدعوته وسلك سلوكه واتبع سنته إلى يوم الدين .أما بعد فيا عباد الله، أوصي نفسي وإيّاكم بتقوى الله العظيم، وأحثّكم على طاعة الله الكريم

Hadirin Sidang Idul Adha rahimakumullah

Hari ini kita merayakan hari besar umat Islam yang disebut dengan “Idul Adha”, disebut demikian karena pada perayaan ini umat Islam menyembelih hewan untuk kemudian dibagi kepada masyarkat. Hewan ini disembelih dengan tujuan pendekatan diri kepada Allah SWT; itulah kenapa hari ini juga kita sebut Hari Raya Qurban. Kata qurban dalam bahasa Arab berasal dari kata qaruba (qaf, ra’, dan ba’) yang berarti dekat. Penambahan an pada akhir kata memberik makna lebih dekat, sangat dekat. Di sinilah indahnya, pemilihan kata qurban untuk hewan yang kita sembelih, supaya mempunyai makan sembelihan yang diniatkan untuk kedekatan kita kepada Allah. Maka tidak berlebihan, kalau hari ini kita sebut adalah perayaan kedekatan kita kepada Allah SWT.

Pertanyaan yang perlu selalu kita renung kemudian adalah apakah pada hari ini kita termasuk orang yang merayakan kedekatan kita dengan Allah? Apakah kita termasuk orang yang sangat dekat dengan Allah? Apakah dengan mengorbankan sapi atau kambing hari ini kita sudah tergolong dekat dengan Allah? Apakah ketidak mampuan kita berkurban merusak kedekatan kita dengan Allah?

Untuk menjawab ini marilah kita renung makna qurban dalam Al-Quran surat al-Ma’idah ayat 27

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَاَ ابْنَيْ اٰدَمَ بِالْحَقِّۘ اِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ اَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْاٰخَرِۗ قَالَ لَاَقْتُلَنَّكَ ۗ قَالَ اِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللّٰهُ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ

27. Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, Maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”. berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”.

Ibnu Jarir dalam tafsir Ibn Katsir menjelaskan bahwa Habil mengorbankan kambing yang terbaik yang dia punya, sedangkan Qabil mengorbankan hasil tananamnya yang jelek yang dia sendiri tidak maui.

Dari kisah ini, Hari Raya Qurban mengajarkan kita bahwa hanya yang terbaik yang diterima oleh Allah SWT. Dalam surat Ali Imran ayat 92 Allah menegaskan

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَ ۗوَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ شَيْءٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيْمٌ

92. kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. dan apa saja yang kamu nafkahkan Maka Sesungguhnya Allah mengetahuinya.

Allahu Akbar x5

Sidang solat idul quban rahimakumullah,

Memberikan yang baik dan memperbaiki apa yang diberikan dalam bahasa Arab disebut dengan Ahsana – yuhsinu, perbuatannya disebut dengna ihsan; sedangkan orang yang melakukannya disebut dengan muhsin, jika banyak banya menjadi muhsinun.

Melakukan perbuatan ihsan mengharuskan kita memberikan lebih dari apa yang biasa dilakukan. Ihsan lebih tinggi dari berbuat adil, karena adil adalah memberi kewajiban kita, dan mengambil apa yang menjadi hak kita, namun ihsan adalah memberi lebih dari kewajiban kita, dan mengambil lebih sedikit dari jatah kita.

Perbuatan yang seperti ini tidak mungkin dilakukan kecuali kita dekat dengan Allah dan kedekatan ini menjadikan kita selalu merasa melihat Allah atau dilihat Allah. Maka Rasulullah ketika ditanya oleh malaikat Jibril apa itu ihsan? Rasulullah saw menjawab “أن تعبد الله كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك” kamu menyembah Allah seakan kamu melihatnya, dan jika kamu belum melihatnya, maka kamu merasa selalu dilihat oleh Allah.

Dengan ini kata Qurban yang berarti kedekatan dengan Ihsan sebuah perbuatan yang selalu terbaik menjadi dua kata yang saling terikat. Hal ini karena hanya orang yang dekat dengan Allah yang akan memberi yang terbaik; dan orang yang dekat dengan Allah akan selalu merasa melihat Allah atau dilihat oleh Allah. Maka bagi mereka, bagaimana mungkin seorang hamba berani memberi yang jelek padahal dia dekat atau merasa dekat dengan Allah. Bagi mereka tidak masuk akal sehat, seseorang yang tidak malu memberi yang jelek padahal Allah yang Maha Melihat baik yang nampak maupun yang ada dihatinya.

Orang-orang seperti adalah golongan yang dicintai oleh, bahkan merupakan golongan yang paling banyak Allah sebut kecintaanNya kepada mereka. Allah sebutkan cintaNya kepada mereka sebanyak 5 kali dalam Al-Quran “إن الله يحب المحسنين”.

Allahu Akbar 3x

Sidang solat id rahimakumullah,

Keimanan pada tingkat ihsan ini akan mengantarkan kita kepada kepasrahan total kepada Allah SWT. Keadaan ini dicontohkan dengan kisah Nabi Ibrahim dan keluarga yang kemudian menjadi Syariat Haji dan kurban bagi kita umat Muhammad saat ini. Kisah keimanan dan kepasrahan total kepada Allah dimulai ketika Nabi Ibrahim bersama sayyidah Hajar diperintahkan pergi ke Mekkah sebuah tempat yang gersang tidak ada apapun. Tatkalah Ismail kemudian menangis kehausan, sayyidah Hajar berlari kecil dari bukit shafa dan Marwah sebagai bentuk ikhtiyar terbaik yang mungkin dilakukan. Peristiwa ini kemudian diabadikan dalam bentuk ritual ibadah sa’i dalam haji. Puncaknya adalah tatkalah Nabi Ibrahim diuji untuk menyembelih putra yang paling disayanginya, syetanpun mengganggu Nabi Ibrahim; Nabi Ibrahim kemudian melempar dengan batu; pelemparan ini kemudian kita kenal dengan lempar jumrah; akhirnya; ujian keimanan dan kepasrahan ini diganti dengan seekor kambing besar oleh Allah, dan ibadah ini sekarang kita rayakan dengan sebutan hari raya idul adha atau hari raya qurban.

Dari kisah ini, perayaan Qurban hari ini mempunyai makna sebagai pesta bagi orang-orang yang percaya sepenuhnya kepada Allah sehingga dia pasrah total dengan mengorbankan yang terbaik yang Allah berikan kepadanya. Hari ini dan tiga hari tasyriq kemudian, mereka megumandangkan dengan segenap suka cita bahwa Allah yang Maha Besar, tiada tuhan selain Allah dan segala puji hanya bagiNya.

Allahu Akbar 3x, la ilaha illallahu wallahu Akbar, Allahu Akbar, walillahi al-hamd

Hadirin rahimakumullah

Kisah Habil dan Qabil dan Kisah Nabiyullah Ibrahim beserta keluarganya hari ini kita rayakan sebagai pengingat bagi kita semua. Bukankah kita dalam setiap waktu kita selalu dihadapkan dengan kisah tersebut. Maka hari ini kisah ini mengajak kita bertanya kepada diri kita, apakah kita sudah memberi yang terbaik kepada Allah sebagai tanda bahwa kita dekat dengan Allah? Sudahkan kita mampu melempar bisikan syetan yang menyerukan “bukankah engkau harus membeli motor baru” “eman-eman no harta yang didapat dengan susah payah” “kok enak men kita beri ke orang lain” dst. Maka betapa sering kita kemudian kalah dengan menjadi Habil yang memberikan pemberian yang kita sendiri tidak memerlukan, betapa sering kemudian kita gagal mencontoh kepasrahan Nabiyullah Ibrahim dan keluarganya.

Padahal, bukankah harta, tenaga, dan umur adalah pemberian dari Allah sehingga semuanya hanya titipan yang akan kita pertanggung jawabkan. Lalu apa alasan yang masuk akal, ketika kita enggan memberikan sebagian dari harta kita, tenaga dan umur untuk orang lain sebagai bentuk kepasrahan kita kepada Allah.

Padahal, bukankah Allah selalu mengganti apa yang kita berikan dengan ganti yang lebih baik. Pengorbanan sayyidah Hajar dengan ikhtiyarnya berlari kecil antara sofa dan marwah atau ganti dengan air zamzam yang sampai saat ini dapat dinikmati oleh orang-orang yang berhaji. Pengorbanan Nabi Ibrahim diganti dengan hewan sembelihan yang terbaik. Lalu alasan apa yang dapat diterima akal sehat, ketika kita masih berat memberikan sebagian rizki yang Allah berikan kepada kita.

Padahal, dalam surat Al-Munafiqun Allah menjelaskan sekian tanda-tanda kemunafikan, dan salah satu tanda yang disebutkan dalam surat ini adalah keenggenan untuk menafkahkan sebagian dari rizki yang Allah berikan kepadanya sampai akhirnya tiba ajalnya dan berharap mendapatkan waktu hidupnnya diperpanjang. Pada ayat 10 Allah berfirman:

10. dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku Termasuk orang-orang yang saleh?”

Lalu alasan apalagi yang dapat diterima akal sehat, tatkalah kita masih berani menunda untuk tidak memberi sebagian rizki yang Allah berikan kepada kita padahal kita tidak pernah tahu kapan akhir dari kehidupan kita.

Padahal, bukankah amanat kehidupan ini Allah berikan untuk menguji siapa diantara kita yang lebih baik amalnya. Lalu, alasan apa yang dapat diterima akal sehat, ketika kita tidak mau memberikan amalan terbaik untuk Allah yang akan mematikan dan menghidupkan kita setelah mati kita.

Allahu Akbar 5x

Hadirin jama’ah Shalat Idu Adha rahimakumullah

Kata qurban yang mana pengertiannya adalah penyerahan sesuatu yang terbaik untuk tujuan mendekatkan diri kepada Allah, dipakai oleh para pendahulu kita, para ulama yang mendahului kita sebagai kata dasar untuk kata pengorbanan, berkorban dst. Dengan ini, para ulama Nusantara seakan ingin menyampaikan pesan kepada kita semua, bahwa segala sesuatu yang kita berikan baik pikiran, tenaga, waktu, perasaan, dan harta masuk dalam kategori pengorbanan, jika ditujukan untuk mendekat kepada Allah SWT. Pada kata berkurban dan pengorbanan ini, kita diajarkan untuk selalu memberi sumbang sih terbaik kepada bangsa, negara, agama, masyarakat, umat, keluarga, teman, bahkan diri kita sendiri, karena hal ini merupakan konsekuensi kita dekat dengan Allah, konsekuensi kita selalu dilihat Allah, dan konsekuensi kita sebagai hamba Allah yang diberi amanah sebagai khalifah di muka bumi Allah ini.

Maka, jika jiwa qurban ini dipahami dengan betul, dan kemudian menjadi mentalitas bangsa Indonesia, maka Indonesia akan sejahtera dan mensejahterakan. Jika pemimpin negeri ini, eksekutif, legislatif, pengusaha, dan rakyatnya hanya berfikir apa yang bisa saya beri, maka tidak akan ada defisit anggaran negara, maka tidak ada negara harus pontang panting hutang sana dan hutang sini. Namun sayagnya, mentalitas kita saat ini adalah bukan saya bisa berkorban apa, bukan saya bisa memberi yang terbaik apa; namun yang terjadi adalah apa yang bisa saya ambil, sebanyak apa yang bisa ambil. Karena ini, maka jika menjadi pemimpin yang dipikir proyek apa yang bisa saya ambil, birokrasi pemerintahan juga berpikir saya dapat apa dari proyek ini, pengusahapun berpikir saya bisa ngakali apa supaya tidak perlu bayar pajak, rakyatpun berpikir bisa mengambil apa dari negeri ini. Jika mentalnya adalah apa yang bisa saya ambil, maka selamanya negara ini tidak dapat keluar dari kekuarangan kekuangan, keluar dari himpitan hutang.

Mari, dengan momentum hari raya qurban ini, kita semua berfikir give, give, give and give atau beri, beri, beri, dan beri dan pasrahkan balasannya kepada Allah SWT; sebagaiman Qabil, Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, dan sayyidah Hajar pada kisah di atas, maka kita akan menjadi orang paling kaya, paling bahagia, tidak ada keluh kesah dalam kehidupan.

اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. وَاَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ ربِّهِ ونَهَيَ النَّفْسَ عَنِ اْلَهوَى فَاِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ اْلمَأْوَى.جَعَلَنَا اللهُ وَاِيَّاكُمْ مِنَ عباده المتقين وَاَدْخَلَنَا وَاِيَّاكُمْ فِى زُمْرَةِ عِبَادِهِ الصَّالِحِيْنَ وَاَقُوْلُ قَوْلِى هَذَا وَاسْتَغْفِرُ لِى وَلَكُمْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِسَائِرِ اْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِروهُ اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah kedua

الله أكبر/ الله أكبر/ الله أكبر/ الله أكبر/ الله أكبر/ الله أكبر/ الله أكبر.

الحمد لله رب العالمين، الرحمن الرحيم، مالك يوم الدين، والصلاة والسلام على سيدنا محمد الأمين، وعلى ءاله وصحبه الطيبين الطاهرين. وأشهد أنْ لا إله إلا الله وحدَه لا شريك له. وأشهد أنَّ سيدنا محمداً عبدُه ورسولُه، وصفيُّه وخليلُه، صلى الله عليه وعلى كلّ رسولٍ أرسلَه. أما بعدُ فيا عبادَ الله، اتقوا اللهَ في السّرّ والعلَن.

Sidang salat idul Adha rahimakumullah,

Perayaan qurban hari ini, sejatinya adalah perayaan kedekatan diri kita kepada Allah SWT; kedekatan ini diukur dengan seberapa besar kesungguhan kita menghadirkan pemberian terbaik pada aspek kehidupan kita; baik ibadah mahdhah kepada Allah seperti Sholat, puasa atau ibadah yang mempunyai dimensi kemanusian seperti zakat, shadaqah, qurban, dsb bahkan ibadah dalam menjalankan aktifitas kekhalifahan di muka bumi seperti berdagang, bertani, mengajar dsb.; dalam sholat bahkan dalam sunnah penyembelihan hewan kurban kita menyebutkan …… إن صلاتي ونسكي ومحياي ومماتي لله رب العالمين …..

Akhirnya, jika kita sudah dekat dengan Allah maka apalagi yang kita perlukan dalam kehidupan. Bukankah Allah yang memberi rizki kepada kita dan berjanji akan melipat gandakan pemberian yang kita berikan bahkan dari jalan yang tidak disangka-sangka. Lebih dari itu, bukan hanya rizki di bumi yang Allah berikan, rizki langitpun dibukakan untuk kita. Maha Besar Allah, yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Allahu akbar 3x Laa Ilaha illallah Allahu Akbar Walillahilhamd

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Akhirnya marilah kita berdoa untuk saudara-saudara kita yang sedang mengalami musibah di berbagai tempat. Musibah ini menguji kita semua apakah kita tergerak dan bergerak untuk memberi yang terbaik untuk saudara-saudara kita yang ada di sana. Semoga Allah memberikan kesabaran dan ketabahan kepada saudara-saudara kita yang sedang dalam musibah dan semoga kita termasuk orang-orang yang mampu memberikan bantuan terbaik untuk mereka:

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ ونَبِيِّكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنـَا إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ.

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ.

اَللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ يَا حَيُّ يَا قَيّوْمُ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ.

اَللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَبِطَاعَتِكَ عَنْ مَعْصِيَتِكَ وَبِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ يَا حَيُّ يَا قَيّوْمُ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلاَةَ أُمُوْرِ الْمُسْلِمِيْنَ، وَوَفِّقْهُمْ لِلْعَدْلِ فِيْ رَعَايَاهُمْ وَالرِّفْقِ بِهِمْ وَالاِعْتِنَاءِ بِمَصَالِحِهِمْ وَحَبِّبْهُمْ إِلَى الرَّعِيَّةِ وَحَبِّبِ الرَّعِيَّةَ إِلَيْهِمْ.

اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِصِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيْمِ وَالْعَمَلِ بِوَظَائِفِ دِيْنِكَ الْقَوِيْمِ وَاجْعَلْهُمْ هُدَاةً مُهْتَدِيْنَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُجَاهِدِيْنَ فِي سَبِيْلِكَ فِي كُلِّ مَكَانٍ.

اَللَّهُمَّ أَفْرِغْ عَلَيْهِمْ صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ.

اَللَّهُمَّ اكْتُبِ الشَّهَادَةَ عَلَى مَوْتَاهُمْ وَاكْتُبِ السَّلاَمَةَ عَلَى أَحْيَائِهِمْ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ. وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ. وَالْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

أعاده الله تعالى علينا وعليكم وعلى المسلمين باليُمن والإيمان، والسلامةِ والإسلامِ، وتقبل الله منا ومنكم صالحَ الأعمال.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته


Demikian Teks Lengkap dari Khutbah Idul Adha Singkat 2018. Semoga dapat bermanfaat.

Pelajaran terpenting dari Khutbah Idul Adha Singkat 2018 ini adalah bahwa kita harus memberikan yang terbaik kepada Allah SWT sebagai bukti kedekatan kita padaNya.

Dalam Khutbah Idul Adha Singkat 2018 ini, kita juga belajar bahwa semua yang saat ini ada pada kita adalah titipan dari Allah yang harus kita pertanggungjawabkan.


Artikel Terkait Khutbah Idul Adha 2018

Khutbah Idul Adha 2018: Berkorban adalah Ciri Seorang Muslim

Khutbah Idul Adha 2019: Hikmah dari Sejarah dan Prosesi Idul Adha

Khutbah Idul Adha 1440 H: Ibadah Qurban dalam Perspektif Maqasid Syariah

Khutbah Idul Adha 1438 H, Ust Royyan sampaikan “Berkorban Adalah Ciri Seorang Muslim”

Qurban: Membunuh Sifat Egois

Khutbah Idul Adha Ustadz Khoirul Umam: “Mentalitas Berqurban Solusi Bangsa”


Baca juga:

Khutbah Jumat Muharram: Spirit Hijrah, Semangat Perubahan

Khutbah Jumat Singkat: Luangkan Waktu untuk Ibumu

6 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *