Kerjasama UNIDA Gontor dengan BMKG

Kerjasama UNIDA Gontor dengan BMKG

UNIDA Gontor –  UNIDA Gontor kembali menandatangani Nota Kesepemahaman dengan berbagai instansi. Kali ini kerjasama tersebut dilakukan dengan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) serta Stasiun Klimatologi Karang Ploso, Malang pada hari Kamis, 29 Maret 2018. Setelah MoU, dilakukan peresmian AWS (Automatic Weather Station) yang ada di Lahan Praktikum Agroteknologi UNIDA Gontor, melalui penayangan video profil AWS tersebut.

Acara ini dihadiri oleh Sekretaris Utama BMKG pusat, Drs. Untung Merjianto, M.Si, Deputi Klimatologi BMKG, Drs. Herizal, M.Si., Kepala UPT-UPT Klimatologi se-Jawa Timur, Kepala  Stasiun Klimatologi Karang Ploso, Malang, Kepala Stasiun Klimatologi Bali dan perwakilan dari Dinas Ponorogo, Magetan, Ngawi, Nganjuk, Trenggalek dan Madiun. Kemudian hadir juga para petani serta civitas akademika UNIDA Gontor.

Dalam sambutannya Al-Ustadz Prof. Dr. Amal Fathullah Zarkasyi, M.A, mengatakan “Dulu Thailand mendapatkan benih tanaman  dari Indonesia, akan tetapi sekarang mereka lebih maju dari pada kita, untuk itu penelitian sangat diperlukan dalam berbagai ilmu, termasuk tentang iklim”.

Dengan kerjasama ini diharapkan akan meningkatkan mutu UNIDA, serta membuka peluang bagi dosen dan mahasiswa untuk bisa melakukan penelitian maupun pengabdian kepada masyarakat dengan jangkauan yang lebih luas.

Dalam acara ini juga diisi dengan Kuliah Tamu oleh Bapak Drs. Herizal, M.Si, selaku Deputi Klimatoligi BMKG dengan tema “Peran BMKG Dalam Menjawab Perubahan Iklim” dalam pemeparannya , beliau menjelaskan tentang perubahan iklim yang terjadi akibat meningkatkan gas rumah kaca.

Peningkatan gas rumah kaca diantaranya disebabkan karena naiknya emisi gas CO2, CH4, CFC dan N2O di udara. Jumlah ini akan terus meningkat seiring dengan percepatan arus industri, transportasi dan konsumsi energi. Efek gas rumah kaca inilah yang menyebabkan pergeseran musim yang berdampak pada kekeringan dan banjir.

Dalam peranannya dimasyarakat, BMKG telah melakukan mitigasi untuk mengurangi dampak tersebut dengan melakukan edukasi kepada masyarakat. Diantaranya adalah  sekolah lapang iklim kepada petani serta literasi iklim kepada pelajar dan kelompok masyarakat.

Beliau juga memaparkan tentang fenomena iklim didunia yang terjadi akhir-akhir ini. Khususnya di Amerika Selatan mengalami yang cuaca dingin lebih dari Mars, laut pasifik timur mengalami angin topan, temperatur udara yang semakin rendah sehingga mayarakat hanya bisa beraktivitas diluar hanya 30 menit per hari.

Begitu juga kekeringan di Afrika Selatan dengan sebutan Day Zero yang dialami di Kota Cape Town, sejak 3 tahun terakhir. Angin dibendungan habis, cadangan air menipis, warga hanya mendapat jatah 87 liter per hari dan akan terus berkurang sampai 50 liter. Penggunaan air untuk mencuci mobil dan mengisi kolam renang dilarang, mereka harus mendaur ulang air untuk meyiram tanaman dan mencuci baju. Pengiriman air akan dijaga ketat oleh angkatan bersenjata. Hal ini akan menjadikan Cape Town sebagai kota pertama didunia yang kehabisan air bersih.

“Perubahan Iklim dan dampaknya menghadapkan kita kepada berbagai perkembangan ketidak-nyamanan, perkembangan yang tidak satu pun orang atau lembaga dapat menyelesaikannya sendiri,” tutup  Drs. Herizal, M.Si. (Iqbal munir)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *