Kajian Mingguan HMP PAI:  “Peran Filsafat Islam Terhadap Kemajuan Peradaban Barat”

Kajian Mingguan HMP PAI: “Peran Filsafat Islam Terhadap Kemajuan Peradaban Barat”

UNIDA Gontor – Dr. Muhammad Muslih M.Ag, menjadi pemateri pada acara Kajian Mingguan yang diadakan Program Studi Pendidikan Agama Islam UNIDA Gontor, Selasa (10/10) malam. Beliau merupakan Dosen Filsafat Islam di Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor.

Kajian Pendidikan yang bertemakan “Peran Filsafat Islam Terhadap Kemajuan Peradaban Barat” kali ini, sangatlah memikat para mahasiswa untuk mengetahui lebih dalam peran Islam di berbagai aspek kehidupan, terkhusus adalah peranan Ilmu Filsafat Islam terhadap kemajuan peradaban Barat.

Kajian Mingguan yang diadakan Prodi PAI UNIDA bertujuan untuk menunjang penggetahuan generasi muda di zaman modern ini, agar senantiasa peduli terhadap pendidikan di Dunia. dengan menerapkan metode Pendidikan Islam sebagai pondasi awal para penuntut ilmu.

Moderator bersama Pemateri Dr. Muhammad saat kajian mingguan HMP PAI

Pada kajian di minggu yang kedua ini, Candra Saputra selaku moderator yang memandu keberlansungan acara, mengutip salah satu pengertian Filsafat yang di sampaikan oleh Dr. Muhammad Muslih M.Ag bahwasanya :

“Filsafat adalah problem kemanusian yang menuntut manusia, untuk mampu menyesuaikan diri dengan alam. Bukan menuntut apa yang di berikan alam terhadap dirinya. Apalagi sampai memikirkan apa yang sedang di lakukan tuhan”.

“Kemajuan barat sejak era renaissance sebenarnya adalah hasil dari dialektika antar peradaban manusia, dan juga hasil dari sejumlah usaha kompromistis benua Eropa yang mengapresiasi ilmu pengetahuan dengan baik. Namun yang bisa dinilai sekarang adalah capaian nyata yang terlihat sangat maju di barat, dan timur tertinggal jauh di belakang. Barat semenjak era renaissance sadar akan kekurangannya dan terus berupaya menuju arah yang progresif, dengan tujuan memperoleh kejayaan Islam, yang notabene memperoleh kejayaan pada dinasti Abbasiyah, hingga disebut sebagai the Golden Age of Islam, justru menunjukkan penurunan yang drastis dalam hal kekayaan peradaban, budaya, intelektual, terlebih pemerintahan dan politik. Hal ini memberi peluang besar bagi barat untuk meniru keberhasilan Islam, tentunya dengan mengevaluasi kekurangannya”.

“Dalam proses sejarah para filosof muslim telah banyak memberikan kontribusinya hampir terhadap seluruh pelosok dan penjuru dunia, khususnya di daerah bagian Barat. Dimana pada saat itu dunia Barat sedang dalam keadaan berkabung, yaitu Kejatuhan Romawi mengakibatkan timbulnya apa yang disebut masa The Dark Age. Selama sepuluh abad, Eropa mengalami kemunduran peradaban. Tentu saja dekadensi ini juga termasuk dekadensi di bidang ilmu pengetahuan. Hal ini dapat teramati dari kajian sejarah untuk masa The Dark Age (5 – 15 M) yang sama sekali kosong dari kajian perkembangan ilmu serta hanya menyisakan kajian tentang feodalisme, agama, dan peperangan.

Sekitar akhir abad ke-15 hingga abad ke-17 terjadilah ‘kebangkitan’ Eropa yang dikenal dengan Renaissance. Tiba-tiba saja kecemerlangan peradaban Yunani-Romawi pulih dengan sains, teknologi, dan seni sebagai indikatornya”.

“Muncul pertanyaan, dimanakah beredarnya ilmu pengetahuan dalam rentang sepuluh abad kegelapan Barat? Jawabannya adalah peradaban Islam. Zaman keemasan Islam diwarnai dengan pewarisan pusaka sains Yunani dan pengembangan serta penerapannya yang kemudian diadopsi Barat untuk meraih kebangkitan kembali. Maka kita dapat menyimpulkan bahwasanya ini adalah Sebuah sumbangsih filsafat Islam bagi kemajuan Perdaban Barat”.

Selain itu beliau juga mengungkapkan, “Cukup peka terhadap kejadian yang terjadi di sekitar kita, itu sudah di anggap 50% dari keberhasilan berfilsafat. Kemudian mulai merenungkan apa yang terjadi adalah 75% dari keberhasilan berfilsafat. Lalu mengambil sikap terhadap apa yang terjadi adalah 100% atau A+ dari berfilsafat.” [Alvi Syahrin Gunandar]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *