Gontor & Nilainya: Intervensi & Kepercayaan kepada Guru

Gontor & Nilainya: Intervensi & Kepercayaan kepada Guru

(Tentang Percaya, Bagian 3 / Refleksi Nilai Gontor)

Oleh: Taufiq Affandi

Frasa yang kental didengungkan Gontor adalah; Keterbukaan, yes; intervensi, no. Baik keterbukaan maupun intervensi adalah tentang masuknya sebuah ide ke dalam sebuah lembaga. Lalu apa sebenarnya perbedaan mendasar antara keduanya.

Intervensi vs Keterbukaan; berkaca dari Gontor

Keterbukaan adalah pangkal dari sebuah proses perbaikan, inovasi dan pengembangan sebuah lembaga. Pada keterbukaan, sebuah ide dapat masuk ke dalam sebuah lembaga untuk diuji dengan perangkat uji yang ada.

Dalam sebuah pondok, perangkat ujinya antara lain sebuah checklist untuk melihat kesesuaian ide yang masuk dengan, antara lain:

1) amanat ide dan cita-cita pendiri

2) kultur dan struktur serta

3) nilai dan falsafah pendidikan Pondok.

Jika ide itu lolos dari objective scrutiny (pemeriksaan secara objektif) dengan parameter tadi, maka ide itu akan dapat diterima.

UNIDA Gontor kunjungi universitas di turki. Belajar dari Institusi Lain adalah salah satu contoh bentuk keterbukaan

Belajar dari Institusi Lain adalah salah satu contoh bentuk keterbukaan

Berbeda dengan intervensi. Intervensi adalah sebuah ide yang dipaksakan masuk ke dalam sebuah lembaga, baik pemaksaan itu sebagai ‘pemaksaan terbuka’ atau ‘pemaksaan yang terselubung’. Karena ia adalah sebuah pemaksaan, maka, menurut redaksi Ustadz Hasan, “intervensi adalah sebuah kedzoliman”

Pemaksaan terbuka adalah jika sebuah entitas yang memiliki kekuatan (baik itu kekutan ekonomi, politik, atau lainnya), memaksakan secara terang-terangan idenya dengan ancaman yang terang-terangan juga. Pemaksaan terselubung adalah ketika entitas yang memiliki kekuatan tersebut membuat tipu daya dan muslihat untuk membuat lembaga pendidikan tersebut tidak memiliki pilihan kecuali menerima ide itu.

Lihat juga: Bagaimana membuat murid percaya pada Guru?

Intervensi dan kepercayaan, Refleksi Gontor

Bayangkan anda masuk ke sebuah lembaga pendidikan. Di sana anda mengetahui bahwa guru yang ditentukan untuk mengajar di dalam kelas anda bukan ditentukan secara professional, tapi dipilih karena ada intervensi kepentingan interest terentu.

Pertanyaannya, dapatkah anda dapat percaya bahwa ia adalah guru terbaik di bidangnya?

Dapatkah anda percaya bahwa saat ia menyampaikan pelajaran tidak terpengaruhi oleh bias dari kepentingan interestnya?

Gontor: Guru terbaik adalah yang profesional dan bebas dari interest dan intervensi pihak luar

Gontor: Guru terbaik adalah yang profesional dan bebas dari interest dan intervensi pihak luar

Bayangkan anda masuk ke sebuah lembaga pendidikan. Lalu, anda melihat bahwa pimpinan lembaga itu; entah itu kepala sekolah, kiai, ataupun rektor dipilih karena intervensi oleh orang di luar lembaga pendidikan yang tidak mengerti core value dari lembaga pendidikan tersebut. Anda tahu seorang pimpinan lembaga adalah gurunya guru di lembaga tersebut.

Maka dapatkah anda percaya bahwa guru di lembaga tersebut dapat menjaga nilai dan falsafah, kultur dan struktur dari lembaga tersebut?

Jika anda masuk ke dalam sebuah lembaga pendidikan, lalu anda merasakan bahwa kurikulum yang diajarkan di dalamnya telah terintervensi oleh kepentingan bisnis, dapatkah anda yakin, haqqul yakin, bahwa kurikulum yang disusun tersebut ditujukan untuk membuat orang yang lebih baik?

Atau alih-alih anda yakin bahwa kurikulum tersebut akan membuat anda menjadi konsumen yang baik; atau secara lebih umum, menjadi sumber aliran dana yang baik untuk bisnis tersebut.

Baris akhir

Keterbukaan, yes; intervensi, no” sejatinya adalah penolakan atas penjajahan; baik itu penjajahan fisik, penjajahan ekonomi, penjajahan intelektual, ataupun penjajahan lainnya. Terlampau susah mempercayai objektivitas dan kualitas profesional seorang guru ataupun lembaga pendidikan yang masih terkekang oleh penjajahan.

Baca Juga

Tentang Percaya, Bagian 1:

Penjelasan Ilmiah kenapa Murid harus Percaya kepada Guru

Tentang Percaya, Bagian 2:

Bagaimana membuat murid percaya pada Guru?

Artikel Terkait

Rahasia Konsep Kebebasan Ala Gontor

Inilah Prioritas Kiai Gontor

Kiai Hasan: Wisuda UNIDA Gontor dan Keabadian Cita-cita Gontor

Waktu: Sebuah Janji

Tiga Waktu, Seorang Pengembara

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *