Inkubator bagi al-Ghazali Milenial: Catatan Akhir Workshop PKU UNIDA Gontor

Inkubator bagi al-Ghazali Milenial: Catatan Akhir Workshop PKU UNIDA Gontor

Oleh: Muhammad Faqih Nidzom

Sebagai lembaga pendidikan, Pondok Modern Darussalam Gontor memiliki beberapa program kerja jangka panjang. Ini dimaksudkan menjadi arah dan panduan untuk mewujudkan upaya pengembangan pondok. Diantara yang terpenting adalah program kaderisasi.

Berangkat dari sejarah timbul dan tenggelamnya suatu usaha, terutama hidup dan matinya pondok-pondok di tanah air, pendiri Gontor mengambil pelajaran tentang pentingnya kaderisasi. Sudah banyak riwayat mengenai lembaga-lembaga yang maju dan terkenal, tetapi kemudian menjadi mundur dan bahkan mati setelah pendiri atau kyai pondok itu meninggal dunia.

Untuk itu Gontor selalu mendesain kurikulum dan kegiatannya dalam rangka mengkader penerusnya. Kerangka ini yang digunakan pondok untuk mengkader ulama. Maka, selain kaderisasi guru di berbagai sektor, Gontor juga memiliki program kaderisasi Ulama (PKU), yang dalam hal ini pelaksananya adalah Unida Gontor. Program ini adalah hasil kerjasama Gontor, MUI Pusat dan Yayasan Danas Sosial Al-Falah (YDSF). Tentu dalam maksud sama, agar generasi ulama terus berlanjut dan tidak tergerus oleh zaman.

Program Kaderisasi Ulama PKU UNIDA Gontor - Universitas Islam - Universitas Islam Terbaik di Indonesia - bersama Dr Hidayat Nur Wahid - MPR DPR

Penyerahan Cindera Mata PKU oleh Dr Abdul Hafidz Zaid kepada Dr Hidayat Nur Wahid

 

Pertemuan Peserta PKU dengan Dr Hidayat Nur Wahid

Tahun ini PKU telah memasuki periode ke-12. Masa studi PKU ini adalah 6 bulan, dimana bulan ke-6 diisi dengan workshop seminar pemikiran dan peradaban Islam di berbagai kampus dan pondok pesantren di Jawa, sebagai tanggungjawab ilmiah dan uji publik untuk para pesertanya.

 

Mengapa harus kaderisasi ulama?

Beberapa waktu lalu penulis diamanati bapak Direktur PKU untuk menemani peserta dalam rangkaian workshop Seminar Pemikiran dan Peradaban Islam, dari Malang Jawa Timur, lalu Jakarta dan Banten.

Dalam beberapa kesempatan prolog dan epilog di seminar, penulis sering menyampaikan kepada peserta PKU dan hadirin bahwa diantara ciri utama ulama di sepanjang sejarahnya adalah memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Mereka hadir untuk umat, merespon tantangan-tantangan yang ada, dan memberikan solusi dan jawaban yang relevan, dengan bekal otoritas dan adab keilmuan yang mereka miliki.

Kita lihat bagaimana karya-karya produktif mereka dalam rangka itu. Kita dapati bagaimana para ahli Hadis, Fiqih, Tafsir, Kalam, Tasawuf, Filsafat dsb terdahulu merespon tantangan umat, dan memberikan jawabannya.

Diskusi santai peserta PKU di taman UNIDA Gontor

Semua itu mereka tuangkan dalam karya tulis yang gemilang, sebagai aplikasi dan manifestasi Firman Allah tentang perintah berdakwah bil hikmah, mauidhah hasanah dan berdebat yang baik, serta hadis Nabi bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain, serta hadis tentang kekalnya amal seseorang karenya ilmunya yang (terus) bermanfaat.

Kita lihat bagaimana Imam al-Ghazali merespon aqidah menyimpang zindiq dengan karyanya Faisal at-Tafriqah, Ibnu Taimiyah merespon kesesatan wali syaithan dalam karyanya al-Furqan. Di abad ini kita menyaksikan keseriusan Prof. Al-Attas merespon deislamisasi ilmu dalam karyanya Islam and Secularism, begitu juga Syekh Yusuf al-Qaradawi, Buya Hamka, dsb dengan berbagai karya monumentalnya yang hingga kini masih kita rasakan manfaatnya.

Maka penulis tegaskan, PKU inipun hadir dalam rangka tersebut, mencetak kader-kader ulama muda yang otoritatif, beradab, dan produktif menulis, karena itu semua merupakan tradisi para ulama kita.

 

Workshop PKU di Universitas Ahmad Dahlan

Lalu penulis sampaikan analisa Syekh Ali an-Nadwi, sebagaimana diuraikan Dr. Adian Husaini dalam buku 10 Kuliah Agama Islam, bahwa diantara tantangan umat yang harus dijawab adalah tantangan keimanan, dimana saat ini datang dengan bentuk yang berbeda. Dulu, tantangan iman datang berupa ancaman fisik dan mudah dikenali. Kaum muslim dipaksa meninggalkan agama mereka. Ammar bin Yasir, Bilal bin Rabbah, dll merasakan itu. Raja Ferdinand dan Ratu Isabella, memberikan tekanan iman yang berat kepada muslimin di Granada. Hanya ada tiga pilihan; masuk Kristen secara paksa, keluar dari Spanyol tanpa harta benda, atau dibunuh.

Kini, walaupun ancaman fisik masih ada di beberapa tempat, tapi di Indonesia khususnya, tantangannya berbeda, yaitu hegemoni dan cengkeraman peradaban Barat berupa worldview (ide, ideologi, faham, aliran) liberal, sekuler, materialistis dsb. Dan kesemuanya ini, ada di sekitar kita, melalui media, kultur budaya, pendidikan, dst. Belum lagi dari internal; ada tantangan aqidah dan aliran kepercayaan yang menyimpang. Tantangan seperti ini cukup sulit dikenali, karena masuknya dengan halus dan tidak terasa.

Ini sebagaimana disinyalir dalam al-Qur’an “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap nabi-nabi itu musuh, yaitu setan-setan –dari jenis- manusia dan jin, mereka membisikkan kepada sebagian lainnya perkataan-perkataan yang indah untuk menipu.” (Q.S. al-An’am; 112).

Ya, tiap masa ada tantangan keimanan bagi masing-masing umat, dengan bentuk berbeda-beda, sebagaimana para Nabi dulu mengalaminya. Seperti disebut diatas, tantangan keimanan kita aktual ini adalah worldview, aqidah dan pemikiran, yang berimplikasi pada pola pikir, cara pandang, sikap dan perilaku kita. Sebagaimana diungkap Prof. Alparslan Acikgence, worldview adalah asas bagi setiap perilaku manusia, bahkan aktifitas ilmiah dan teknologinya.

Inilah diantara tantangan umat yang harus dijawab para kader ulama, sebagaimana dicontohkan ulama terdahulu hingga kini. Maka kaderisasi ulama adalah program yang niscaya dan mendesak. Dengan tujuan lahirnya kader yang kokoh dalam pandangan hidup Islamnya, menguasai warisan intektual ulama terdahulu, dan mempersembahkannya untuk umat masa kini secara praktis dan aplikatif.

Maka Gontor dengan PKU ini sangat tepat karena memiliki visi-visi dalam mendidik mereka agar dapat:

1. Menguasai ilmu pengetahuan Islam, baik tradisional maupun kontemporer. Inilah yang mengkonstruk worldview Islam pada peserta, dan akan menjadi framework dalam setiap penelitian mereka.

2. Mampu merespon tantangan umat baik dalam bidang pemikiran, dakwah, pendidikan, politik, ekonomi, budaya, dsb. dalam bentuk makalah ilmiah, dan dipertanggungjawabkan di hadapan publik.

3. Mampu mengembangkan potensi dan keterampilan diri dalam memperluas ilmu pengetahuan, mengembangkan strategi dakwah, meningkatkan manajemen pendidikan, memupuk kepemimpinan sosial dan politik, dsb.

Dan kemudian, visi tersebut dijabarkan dalam kurikulum, tenaga pengajar, fasilitas, perpustakaan yang memadai, serta ditopang dengan ada diskusi harian yang intensif, dan didukung oleh mentor yang berpengalaman.

Dengan ini penulis bersyukur telah menjadi bagian dari program ini. Begitu pula yang dirasakan para pembimbing dan peserta. Penulis yakin, Gontor dengan PKU ini telah dan akan terus memberi sumbangsih kepada umat berupa lahirnya calon-calon ulama yang kokoh. Dengan bekal otoritas keilmuan dan kebanggaan dengan Sibghah dan identitas Islam sendiri, mereka akan siap berkhidmah untuk umat.

Wallahu A’lam. (Banten, 2-1-2019)

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *