Hidayat Nur Wahid: “Nilai-Nilai Islam Dalam Pancasila”

Hidayat Nur Wahid: “Nilai-Nilai Islam Dalam Pancasila”

UNIDA Gontor – Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI periode 2014 – 2019 Dr. H. M. Hidayat Nur Wahid, M.A, menjadi pemateri pada kajian ilmiah menanti datangnya berkah (INDAH) di Masjid Jami’ Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, Ahad, (20/05/2018), 4 Ramadhan 1439 H dengan tema Nilai-nilai Islam dalam Pancasila.

Mengawali kajiannya Hidayat Nur Wahid membacakan surah al-Baqarah ayat 183 “Ya ayuhal ladziina Aamanuu kutiba ‘alaikumu shiam kama kutiba a’lal ladziina minqoblikum la’alakum tataquun” Dalam ayat ini Allah mengingatkan kepada kita semua, bahwa kita ini adalah mahluk sejarah, karenanya dirangkaikanlah antara kewajiban berpuasa kepada kita umat Islam dengan kewajiban berpuasa kepada umat-umat sebelum kita (kama kutiba a’lal ladzina mingkoblikum).

Selajutnya, Alumnus PMDG tahun 1978 ini menjelaskan bahwa dalam ayat tersebut menegaskan tentang pentingnya kita mempunyai kesadaran bersejarah, termasuk sejarah umat Islam ini,

“Dengan berpuasa bahkan oleh Allah, kita ini seperti di interupsi, Anda umat Islam bukan ditakdirkan untuk menjadi yang kalah, Anda umat Islam bukan ditakdirkan sebagai penderita, Anda umat Islam dihadirkan di muka bumi bukan hanya sebagai pemanis saja. Dengan hadirnya puasa di bulan Ramadhan dan rangkaian peristiwa-peristiwa di bulan Ramadhan yang terjadi pada masa Rasulullah, Allah sedang memberikan interupsi, mengingatkan kepada umat agar bangkit dan agar bangun dari tidur panjangnya, memahami sejarah umat ini, dengan hadirnya bulan Ramadhan telah menghadirkan kemenagan-kemenangan yang kilang gemilang.”

Lulusan S3 Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia Tahun 1992 ini mengungkapkan peristiwa sejarah kemerdekaan Indonesia tak luput dari peran tokoh-tokoh Islam. Oleh karenanya,  Kemerdekaan Indonesia bukanlah kemerdekaan yang ateis, komunis, liberalis, sekularis, tetapi kemerdekaan yang atas berkat rahmat Allah yang maha kuasa dan didorongkan oleh keinginan yang luhur supaya berkehidupan dan berkebangsaan yang bebas maka dengan ini menyatakan kemerdekaannya.

Mengapa dikatakan sebagai atas berkat rahmat Allah yang maha kuasa? Karena para bapak bangsa tidak main-main dalam memerdekakan Negara Indonesia ini, “di bulan romadhon ini popular hadits: Awalu rohmah, sepuluh pertama bulan Ramadhan adalah rahmat. Bulan dimana Indonesia diproklamasikan pada tanggal 17 agustus 1945, tapi ia diproklamasikan pada bulan ramadhan tepatnya pada tanggal 9 Ramadhan ini masuk kedalam 10 pertama datangnya rahmah pada bulan ramadhan 1364 H” paparnya dihadapan peserta kajian.[H.Wafi/Ed. Indra]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *