Hari Terakhir di Yogyakarta, Workshop Pemikiran dan Peradaban Islam Jangkau Empat Universitas Terkemuka

Hari Terakhir di Yogyakarta, Workshop Pemikiran dan Peradaban Islam Jangkau Empat Universitas Terkemuka

YOGYAKARTA–Kehadiran Program Kaderisasi Ulama (PKU) VIII Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) benar-benar menyedot perhatian mahasiswa dan mahasiswi sejumlah universitas terkemuka di Kota Keraton ini. Setelah menggelar workshop di Universitas Islam Indonesia (UII), Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM), dan Universitas Ahmad Dahlan (UAD) sehari sebelumnya, Ahad (22/2) lalu, PKU VIII merambah ke Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, dan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) pada hari kedua sekaligus hari terakhir di Kota Gudeg ini, Senin (23/2).

Pagi hari, sebagian peserta PKU VIII menuju UMY dan sebagian lainnya bergerak ke UGM karena acara digelar pada waktu yang bersamaan. Bertempat di Auditorium AR Fachruddin Lantai 5, peserta yang menghadiri workshop pemikiran dan peradaban Islam di UMY mencapai 150 mahasiswa dan mahasiswi. Sedangkan acara di UGM bertempat di Gedung Pusat Antaruniversitas dengan jumlah peserta yang tidak jauh berbeda.

Materi yang disampaikan beraneka ragam. Salah satu tema menarik dibahas oleh M. Aqil Azizy, berjudul “Liberalisasi Kurikulum Pendidikan” di hadapan mahasiswa dan mahasiswi UMY. Aqil berhasil menguak adanya paham liberalisme di beberapa buku pelajaran sekolah. Pemateri lainnya adalah Cecep Supriadi dan Syamsi Wal Qamar. Cecep membahas tentang “Relasi Islam dan Negara: Wacana Keislaman dan Keindonesiaan”. Menurutnya, Islam tak bisa dipisahkan dari kehidupan bernegara. Keduanya saling menyokong untuk menciptakan baldatun ayyibatun wa rabbun ghafūr. Sementara Syamsi mengupas tema berjudul “Kritik Makna Islam Perspektif Orientalis dan Liberal”. Ternyata, kata Syamsi, ada yang memahami Islam itu bukan sebagai nama agama, tapi bermakna “penyerahan diri atau berserah diri”. Akhirnya, pemaknaan yang salah ini orang-orang orientalis dan liberal beranggapan bahwa tanpa memeluk agama Islam, seorang nonmuslim pun bisa dikatakan muslim kalau dia telah berserah diri. Inilah yang harus diluruskan. Jika tidak, maka bisa membuat keraguan seorang muslim terhadap Islam.

Workshop di UGM juga diisi tiga pemateri dari peserta PKU VIII. Mereka adalah Ahmad Fauzan, M. Faqih Nidzom, dan Hariman Muttaqin. Materi yang dibawakan Fauzan terkait dengan pelecehan Al-Qur’an yang terjadi di beberapa tempat, bukan hanya dilakukan oleh nonmuslim, tapi juga ada tokoh muslim yang tidak mengakui kesakralan Al-Qur’an. Salah satunya adalah Nasr Hamid Abu Zaid. Menurut Fauzan, dialah orang yang menyatakan bahwa Al-Qur’an itu produk budaya, bukan wahyu Ilahi lagi.

“Pernyataan ini jelas menafikan kesakralan kitab suci umat Islam,” kata Fauzan di hadapan mahasiswa dan mahasiswi UGM.

Materi kedua yang disampaikan Faqih berkenaan dengan konsep ilmu pengetahuan dalam Islam. Sedangkan Hariman membahas pemikiran liberal seorang tokoh muslim dari Sudan yang bernama Abdullahi Ahmed An-Na’im. Ia ingin mendekonstruksi syariat Islam dengan teori naskh yang bertentangan dengan jumhur ulama. An-Na‘im ingin menghapus syariat Islam menghapus hukum-hukum Islam pada ayat-ayat madaniyyah dengan mengedepankan ayat-ayat makkiyyah. Jika ini dibiarkan dan disepakati, maka hukum-hukum Islam yang kebanyakan terdapat pada ayat-ayat madaniyyah akan terhapus. Artinya, An-Na‘im mencoba membatalkan syariat Islam dengan teorinya itu.

Siang harinya, workshop yang digelar di UNY dan UIN Sunan Kalijaga juga berlangsung menarik. Menariknya acara di UNY dihadiri Prof. Dr. Rochmad Wahab Furqon, M.Pd., M.A., Rektor UNY. Ustadz Fauzil Adzim juga hadir mewakili Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) DIY. Lebih menarik lagi karena dihadiri Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.Ed., M.Phil. dan Dr. Dihyatun Masqon, M.A. sebagai pembimbing PKU VIII UNIDA Gontor. Acara bertempat di Auditorium Utama UNY dengan peserta terdiri dari mahasiswa dan mahasiswi UNY beserta para dosen dan masyarakat umum mencapai 200 orang lebih. Sedangkan acara di UIN Sunan Kalijaga bertempat di Gedung Teatrikal Perpustakaan dengan peserta yang tidak kalah banyaknya.

Pemateri di UNY adalah Abdul Wahid dan Ahmad Sofyan Hadi. Keduanya berbicara tentang pluralisme dan multikulturalisme yang hingga saat ini masih menjadi tantangan umat. Pluralisme membuat agama menjadi kabur dan samar karena menyatakan bahwa semua agama itu sama. Hal ini tidak jauh berbeda dengan paham multikulturalisme yang menganggap agama itu seakan-akan budaya yang bisa melebur satu sama lain dalam satu kesamaan. Padahal agama Islam tidak bisa disamakan dengan agama-agama yang lain, apalagi konsep ketuhanannya sangat berbeda. Islam mengajarkan tauhid, sedangkan agama-agama lainnya tidak berbeda dengan kemusyrikan dalam Islam.

Tiga pemateri lainnya yang mewakili PKU VIII di UIN adalah Ayub, Qaem Aulassyahied, dan Muryadi. Ayub memaparkan materinya yang berkaitan dengan penyimpangan orientasi seksual di masyarakat saat ini. Ia menjelaskan penyebab kelakuan yang menyalahi fitrah manusia tersebut sekaligus memberikan solusi untuk menghindari atau menanganinya. Sementara Qaem membeberkan segala kesalahan seorang intelektual muslim yang berpikiran liberal bernama Syahrur. Kata Qaem, orang ini tidak memahami Al-Qur’an dengan benar karena telah menggunakan ayat-ayat Allah untuk menghapus sunah sebagai sumber hukum Islam. Pembicara terakhir, Muryadi, mencoba memberikan sedikit pencerahan dengan menjelaskan cara berijtihad yang benar, terutama dalam menetapkan suatu hukum syariat.

Workshop pemikiran dan peradaban Islam di Yogyakarta memberi kesan bahwa umat ini memang perlu pencerahan. Hal inilah yang dilakukan PKU untuk membentengi umat dari tantangan pemikiran Barat. Masyarakat Yogyakarta berharap workshop atau seminar semacam ini terus digalakkan di Kota Pendidikan tersebut. Tahun depan, mereka kembali menantikan kehadiran PKU angkatan selanjutnya.*elk

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *