Hari Terakhir di Surabaya, PKU VIII Gelar Workshop Bertema Pendidikan

Hari Terakhir di Surabaya, PKU VIII Gelar Workshop Bertema Pendidikan

SURABAYA–Hari terakhir di Surabaya, Sabtu (14/2), Program Kaderisasi Ulama (PKU) VIII Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor menggelar workshop di hadapan dai-dai dari Yayasan Dana Sosial Al-Falah (YDSF). Jumlah mereka mencapai 300-an orang ditambah para penulis dari Yayasan Bina Qalam Indonesia.

Secara umum, tema workshop yang diusung kali ini berkaitan dengan problematika pendidikan di Indonesia. Dalam kesempatan tersebut, panitia pelaksana menghadirkan tiga pembicara dari 23 peserta PKU VIII. Pembicara pertama, M.Aqil Azizy menyampaikan tentang “Liberalisasi Kurikulum Pendidikan: Studi Kritis Buku-buku Pelajaran Sekolah”.

Dalam pembahasannya, Aqil menguak gerakan liberalisasi di dunia pendidikan saat ini. Tidak sedikit peserta workshop yang terkejut mengetahui kenyataan ini. Selama ini, mereka tidak menyadari bahwa sedikit demi sedikit anak didik di sekolah mulai termakan budaya Barat yang disusupkan melalui buku-buku pelajaran. Salah satu budaya non-Islami yang tercantum di buku sekolah adalah gaya pacaran “sehat”.

“Adakah gaya pacaran yang sehat? Sudah jelas dalam Islam dilarang mendekati hal-hal berbau maksiat seperti itu. Eh, pacaran malah diajarkan di sekolah,” kata Aqil di tengah-tengah pemaparannya.

Sementara pembicara lainnya, Ahmad Sofyan Hadi, menyampaikan materi berjudul “Problem Multikulturalisme dalam Pendidikan Agama Islam”. Ia memperlihatkan dampak buruk dari paham multikulturalisme yang menjangkiti masyarakat muslim, yaitu pendangkalan akidah. Salah satu praktik multikulturalisme tersebut berupa doa lintas agama. Praktik ini bisa membuat kabur batasan-batasan antaragama, terutama Islam yang tidak bisa disamakan dengan agama-agama lain.

Sedangkan Saiful Anwar, pembicara terakhir, memberikan wacana tentang “Problem Pendidikan Keluarga Berwawasan Gender (PKBG)”. Dia menjelaskan betapa bahayanya pendidikan keluarga yang dirasuki paham feminisme ini. Saat kaum feminis menuntut persamaan antara laki-laki dan perempuan, ketika itulah nilai-nilai keislaman mulai lenyap satu per satu dari kehidupan. Contohnya, hukum waris yang membedakan pembagian antara laki-laki dan perempuan dituntut untuk disamakan. Selain itu, kodrat wanita sebagai seorang istri dan ibu dengan segala tanggung jawabnya pun mau dihilangkan. Bisa dibayangkan akibatnya, paham feminisme seperti ini akan merusak kehidupan keluarga dan juga agama.

Pada kesempatan ini, Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.Ed., M.Phil. selaku pembimbing PKU UNIDA Gontor turut serta sebagai keynote speaker. Mengawali ketiga pembicara, beliau menyampaikan pentingnya workshop yang diselenggarakan PKU bekerja sama dengan YDSF ini. Maraknya paham-paham yang menyudutkan Islam belakangan ini menimbulkan keresahan di kalangan para ulama dan umat Islam. Kehadiran PKU merupakan sebuah upaya untuk membendung dan membentengi umat dari serangan pemikiran-pemikiran Barat tersebut.

Ketua YDSF, Ir. H. Abdul Kadir Baraja, juga hadir memberikan sambutannya. Program ini, katanya, merupakan investasi jangka panjang yang diselenggarakan UNIDA Gontor dengan YDSF dan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Ibaratnya, PKU ini adalah ragi untuk membuat tapai (penganan yang dibuat dari beras ketan, ubi kayu, dan sebagainya yang direbus. Setelah dingin diberi ragi, kemudian dibiarkan semalam atau lebih hingga manis) yang banyak dan berkualitas. “Kami melihat program yang dilaksanakan Gontor ini sangat berpotensi menciptakan kader-kader umat. Karena itulah, YDSF sangat senang bisa bekerja sama dengan Gontor menyukseskan program ini, hingga bisa mengadakan workshop di berbagai perguruan tinggi dan pondok pesantren. Program ini ibarat ragi. Jika kita hanya membuat tapai, maka cepat habis. Tapi, kalau kita membuat ragi, maka ragi itu bisa digunakan untuk membuat banyak tapai,” kata Abdul Kadir Baraja.

Tak ketinggalan, dalam epilognya mengakhiri workshop, Dr. Dihyatun Masqon yang hadir sebagai Direktur PKU UNIDA Gontor mengatakan, “Kita harus memahami Islam seperti apa adanya, bukan memahami Islam seperti apa yang kita inginkan. Untuk itulah PKU ini diadakan dan karena itulah kami hadir di sini menyampaikan kebenaran.”

Setelah mengadakan workshop di Surabaya hampir seminggu lamanya, PKU VIII dibagi menjadi dua kelompok untuk menggelar workshop di dua daerah berbeda. Satu kelompok menuju daerah yang dikenal dengan Tapal Kuda, nama sebuah kawasan yang meliputi  Pasuruan (bagian timur), Probolinggo, Lumajang, Jember, Situbondo, Bondowoso, dan Banyuwangi. Satu kelompok lagi menuju Malang. Para peserta PKU VIII akan menggelar workshop selanjutnya di beberapa perguruan tinggi dan pondok-pondok pesantren di kota-kota tersebut.*elk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *