Gontor, Yudi Latif dan Agenda Literasi Santri

Gontor, Yudi Latif dan Agenda Literasi Santri

Oleh: Muhammad Faqih Nidzom

Ada yang tersisa dari gegap gempita Malam Literasi Santri di Unida Gontor beberapa hari lalu. Para tokoh yang meramaikan seminar telah memaparkan berbagai tantangan dan peluang santri dalam dunia literasi ke depan. Diantara tawarannya sudah penulis paparkan di tautan berikut: http://unida.gontor.ac.id/gontor-dan-literasi-santri/

Namun yang cukup menarik perhatian penulis adalah agenda literasi yang ditawarkan oleh Ustadz Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi. Beliau menegaskan bahwa Gontor ini merupakan lembaga pendidikan dengan super-system yang unik. Sebab di dalamnya terdapat sekian banyak sistem yang khas, seperti, sistem pengajaran dan pendidikan, sistem kaderisasi, sistem ekonomi proteksi, sistem wakaf, sistem kepemimpinan dsb. Hal ini menjadi perhatian para akademisi, sehingga banyak yang ingin meneliti di Gontor.

Dr Hamid Fahmy Zarkasyi menjelaskan tentang Super-system Gontor dan literasi pada Malam Literasi Santri UNIDA Gontor

Dr Hamid Fahmy Zarkasyi menjelaskan tentang Super-system Gontor dan literasi pada Malam Literasi Santri UNIDA Gontor

Super-system tadi dijalankan oleh para penghuni Gontor dengan ajaran-ajaran islami yang menjiwainya. Ajaran tadi berupa nilai-nilai dirangkum oleh para perintis Gontor dalam Panca Jiwa, Motto, dan Panca Jangka pondok. Disebut menjiwai karena ia tidak perlu definisi verbalis, tapi semua penghuninya hidup dengannya, dalam setiap gerak aktivitas. Ini yang disebut Dr. Hamid sebagai Living Wisdom atau hikmah yang hidup itu.

Ini juga yang menjadi pesan Ustadz KH. Hasan Abdullah Sahal kepada para penulis dan jurnalis yang silatuhim ke kediaman beliau sehari sebelumnya. Beliau berpesan, “Masukkan panca jiwa dalam benak kalian, dalam setiap amalan kalian, gunakan panca jiwa. Insyaallah di dalamnya ada kedamaian, ada ridha dari Allah dan pesantren ini. Jika tidak, maka kalian akan menjadi orang-orang yang terjajah dan terikat. Kalian pun tidak menjadi diri kalian sendiri.”

Lebih jauh Ustadz Hasan menegaskan bahwa dengan menerapkan panca jiwa dalam tiap aktivitas, maka para alumni Gontor akan menjadi yang terbaik di bidangnya. “Bukan be yourself, tapi be your best, jadilah sebaik-baik dirimu. Jadi petani, jadilah petani yang baik. Jadi jurnalis, jadilah jurnalis yang baik.”

Malam Literasi Santri di UNIDA Gontor

Dengan ini, Dr. Hamid menyebutnya sebagai tantangan dan peluang literasi santri Gontor ke depan. Super-system pondok dengan akar filosofinya yang khas tadi ada yang menuliskannya secara konseptual, ke dalam wacana ilmiah. Karena selain unik, pada tataran aplikatif ia mampu membentuk pola pikir, sikap dan tingkah laku penghuninya. Setidaknya seperti yang beberapa kali disampaikan oleh Ustadz KH. Abdullah Syukri Zarkasyi.

Jika boleh menambahkan, penulis juga ingin mengingat kembali gagasan Ustadz Syukri tentang pendidikan. Menurut beliau pendidikan adalah pengajaran, pembentukan, pembiasaan, pengarahan, pengawalan, pelatihan, penugasan, dan diikuti dengan uswah hasanah.

Maka sebagai Living wisdom, akan menarik jika nilai-nilai Gontory tadi juga disertai dengan menyebutkan contoh nyata hidupnya dalam perbuatan sehari-hari, dari para anshar dan guru Gontor yang kita hormati. Dengan harapan, tulisan semacam ini ke depan bisa menjadi sumber mata air keteladanan nilai dalam aplikasi dan perbuatan bagi para generasi penerusnya. Sebagaimana dahulu Imam adz-Dzahabi menulis karya monumental berjudul “Siyar A’lam an-Nubala”.

yudi latif menyampaikan orasi kebangsaan di Malam Literasi Santri UNIDA Gontor - Universitas Darussalam Gontor - Universitas Pesantren Terbaik di Indonesia - Universitas Islam

Yudi Latif menyampaikan Orasi Kebangsaan dalam Malam Literasi Santri di UNIDA Gontor

Dalam hal ini, setidaknya kita bisa berkaca kepada Dr. Yudi Latif. Beliau menulis buku Negara Paripurna yang menjelaskan Pancasila sebagai ajaran dan falsafah negara untuk seluruh warganya, dari aspek historis dan rasionalitasnya dengan detail.

Beliau melihat bahwa rejuvenasi Pancasila harus dilakukan dengan cara mengukuhkan kembali posisinya sebagai dasar falsafah negara, mengembangkannya ke dalam wacana ilmiah, mengupayakan konsistensinya dengan produk-produk perundangan, koherensi antar sila, dan korespondensi dengan realitas sosial, dan menjadikannya sebagai karya, kebanggaan dan komitmen bersama. (Lihat dalam Negara Paripurna: Historisitas, Rasionalitas dan Aktualitas Pancasila, hal. 614)

Berkat karya monumental setebal 671 halaman ini, Dr. Yudi mendapat banyak apresiasi. Salah satunya dari Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif, Mantan Ketua Umum PP. Muhammadiyah. Beliau menyebut: “Membaca buku ini, kita disadarkan bahwa para pendiri bangsa, dengan keluasan wawasan, ketulusan niat, kesungguhan mencapai yang terbaik serta tanggung jawabnya kepada nusa dan bangsa, telah mewariskan kepada kita suatu dasar falsafah dan pandangan hidup negara yang begitu visioner. Sebuah buku yang bisa menjadi lentera untuk memandu bangsa ini keluar dari kegelapan dan keterpurukan.”

Namun, menurut Dr. Yudi, sejauh ini nilai-nilai ideal Pancasila tadi belum sepenuhnya terbumikan dalam kenyataan, terutama karena krisis keteladanan para penyelenggara negara. Untuk itu, menurutnya Pancasila harus hidup dalam realita, tidak hanya jadi retorika dan verbalisme di pentas politik. Maka tidak berhenti di buku Negara Paripurna, ia pun melanjutkan karya selanjutnya dengan buku “Mata Air Keteladanan: Pancasila dalam Perbuatan.”

Disana beliau menawarkan keteladanan tokoh-tokoh berkarakter, terkategorisasi dalam kelima sila masing-masing. Para tokoh seperti Bung Karno, Bung Hatta, Sjafruddin Prawiranegara, KH. Wahid Hasyim, Buya Hamka dan banyak lagi lainnya, merekalah sebagian contoh sumber mata air keteladanan Pancasila dalam aplikasi dan perbuatan.

Buku semacam ini, sebagaimana disebut KH. Hasyim Muzadi dalam testimoninya, bisa menjadi cermin bagi generasi muda untuk meneladani para tokoh bangsa yang setia mengamalkan ajaran luhur Pancasila. Bahkan Prof. Dr. Din Syamsuddin menambahkan, karya ini dapat menjadi lentera menuju jalan keluar ke gerbang Indonesia berkemajuan, sehingga ia penting dan bermanfaat untuk dibaca generasi sekarang.

Hariqo Wibawa, Komunikonten, menyampaikan pertanyaan kepada Yudi Latif

Dari sini bisa kita lihat, betapa urgensinya menulis kembali sebuah ajaran dan nilai-nilai dalam karya. Lalu karya tersebut dilanjutkan dengan teladan-teladan nyata yang menghidupkan ajaran dan nilai tadi dalam perbuatan sehari-sehari. Selain sebagai pedoman, atau rel dalam istilah Ustadz Hasan, sekaligus sebagai uswah hasanah dan gambaran bagaimana melangkah ke depan. Apalagi berkenaan dengan ajaran-ajaran Gontor dan para penghuni di dalamnya, tentu sangat ditunggu tulisan-tulisan tentangnya.

Untuk yang pertama, kita telah mendapat mendapat contoh berharga dari bapak-bapak pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor. Dalam ajaran dan nilai-nilai, bisa kita simak buku Manajemen Pesantren: Pengalaman Memimpin Gontor, dan Bekal Untuk Pemimpin karya Ustadz KH. A. Syukri Zarkasyi, juga buku Kehidupan Mengajariku 1, 2, dan 3 karya Ustadz KH. Hasan Abdullah Sahal, dan buku Embun Keikhlasan karya Ustadz KH. Syamsul Hadi Abdan. Ditambah lagi dengan beberapa karya Ustadz KH. Ahmad Suharto, seperti Menggali Mutiara Perjuangan Gontor, Melacak Akar Filosofis Pendidikan Gontor, Senarai Kearifan Gontory, dsb.

Sedangkan untuk yang kedua, tulisan tentang ajaran dalam perbuatan, contoh langsung dari Almarhum Pak Atul telah bertabur dan berseliweran di media sosial kita. Dengan bahasa mengalir lagi bernas, almarhum mendeskripsikan nilai-nilai pondok yang berwujud dan termanifestasi pada beberapa kader dan sosok penting di pondok. Seluruh santri tentu ingat, bagaimana beliau menuliskan obituari tentang Alm. Ustadz Imam Syubani, Alm. Ustadz Dihyatun Masqon dan lainnya di Warta Dunia pondok. Beruntung, sebentar lagi para santri dan alumni bisa menikmati tulisan-tulisan beliau dalam buku bertajuk Memoar Gontor.

Kembali ke agenda literasi santri seperti disebutkan di atas, tidak lagi berlebihan jika penulis sebut bahwa poin ini menjadi sangat relevan untuk segera dielaborasi santri dan alumni Gontor. Sebagaimana telah diusahakan oleh beberapa alumni seperti Ustadz Tasirun Sulaiman, Akbar Zainuddin, Husein Sanusi  dan sederet nama besar lainnya. Bahkan ke depan, menjadi agenda besar juga untuk membawa Super-system pondok dengan akar filosofinya yang khas tadi ke dalam wacana ilmiah, seperti diharapkan Dr. Hamid.

Akhirnya, semoga coretan sederhana ini bisa memberikan sedikit masukan pada santri dalam agenda literasi. Tentu ini hanya salah satu dari sekian banyak agenda dan tawaran literasi ke depan, seperti bidang media, jurnalistik dan lainnya.

Penulis bersyukur pula jika penyebutan beberapa tokoh Gontor dan karya-karyanya tadi memberikan suntikan motivasi kepada penulis sendiri dan semua pembaca secara umum untuk berkarya lebih banyak lagi, sebagaimana dicontohkan para pendahulu kita. Disebutkan dalam hikmah seorang penyair, “fatasyabbahu bihim in lam takuunuu mitslahum, inna at-tasyabbuha bil Kiraami falah.” Ya, kita hendaknya berusaha meniru orang-orang besar, meskipun itu sulit, karena dalam meneladani mereka ada keberuntungan.

Wallahu A’lam. (Siman, 4 Februari 2019)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *