UNIDA Gontor-Di era sekarang ini pembayaran menggunakan transaksi daring (online) paling diminati oleh masyarakat. Tiga peringkat tertinggi pembayaran menggunakan electronic money adalah Mandiri, BCA, dan Gopay milik Gojek. Kondisi semacam ini harus dibaca oleh para pelaku perbankan bahwa tren transaksi daring dianggap lebih praktis dan lebih efisien daripada membayar tunai.

Rektor UNIDA Gontor, Prof. Dr. Amal Fathullah Zarkasyi, M.A mengatakan UNIDA harus ikut berperan dan berkonstribusi terhadap pereknomian syari’ah di Indonesia. “Acara FemFest merupakan acara penting karena acara ini termasuk dalam rangkaian pendidikan. Saat ini kami mengikuti perkembangan dengan digital online yang sangat berkembang pesat dalam hal perekonomian. Perekonomian di Indonesia dikuasai oleh asing sebesar 90% dan Indonesia hanya 1% dan ini sangat perlu diperhatikan,” kata Prof. Amal dalam acara National Conference on Islamic Economics and Management dengan tema Industri Syari’ah Menuju Transformasi Bisnis Melalui Digitalisasi Ekonomi yang berlangsung di Ponorogo, Senin (18/2).

Terkait dengan perkembangan ekonomi syariah di Indonesia, Dr. Khoirul Umam, M.Ec mengatakan bahwa kegiatan FemFest (Fakultas Ekonomi dan Manajemen Festival) yang terdiri dari Seminar, Bazar, Tabligh Akbar, Gala Dinner, dan di akhiri dengan pemberian penghargaan terhadap perekonomian Ponorogo. Adapun acara ini telah berjalan di tahun kedua, menariknya acara ditahun ini diikuti oleh peserta dari Luar Negeri maupun dalam negeri.

Ia menuturkan bahwa rentetan acara ini merupakan bagian dari kontribusi terhadap perkembangan perekenomian syariah di Indonesia. Tidak hanya itu saja ia juga memberi motivasi terhadap mahasiswa-mahasiswa UNIDA Gontor untuk lebih bergerak menerobos batas terhadap perekonomian syari’ah berbasis daring. “Ini semua ada potensi untuk dikembangkan dan kita dorong penguatan kelembagaan keuangan serta intensitas sosialiasi keuangan syari’ah,” harap Ust Khoirul Umam.

Menurut Komisaris Independen PT. Maybank Indonesia, Tbk. Achjar Iljas bahwa Bisnis syariah memang harus menyesuaikan diri dengan perkembangan financial technology (fintech). Dengan beradaptasi pada perkembangan sekarang ini bisnis berbasis syariah maupun dalam industri halal bisa berkembang. Hal ini mendapat respon dari Deputi Keuangan Syari’ah Bank Indonesia Rifki Ismal bahwa Industri halal tidak hanya dalam bank saja akan tetapi industri halal adalah mencangkup industri-industri yang berbasis syari’ah.

Ia pun mengungkapkan bahwa industri-industri syari’ah didukung oleh pesantren-pesantren di Indonesia. “Pesantren-pesantren yang tersebar di Indonesia harus mulai dibiasakan dengan teknologi. Agar produk-produk syariah mereka bisa dipasarkan lebih cepat dan mekanisme pembayarannya lewat online. Lebih efisien dan dapat berkembang pesat dengan mengikuti fintech,” kata Rifki.

Pada kesempatan itu PJs Head Syari’ah Banking PT. Bank Maybank Indonesia, Tbk, Dandy Suprandono yang juga menjadi pembicara dalam forum tersebut membenarkan di era millennial ini tidak bisa lagi orang terhindar dari teknologi komunikasi.

Menurutnya, Indonesia memiliki perkembangan digitalisasi berawal dari bank memiliki ATM hingga saat ini menyediakan fitur perbankan yang lebih personal melalui mobile. Bahkan sistem pembayaran pun mengalami disrupsi perbankan yang terus terjadi. Ia juga menuturkan bahwa persaingan dalam bisnis bank tidak hanya dari sesama bank, tetapi juga fintech. Bisnis payment, transfer, dan keuangan personal akan menjadi sektor yang paling awal terdisrupsi.

“Artinya ada satu orang memiliki lebih dari satu ponsel. Sayangnya pemakainya hanya digunakan untuk chatting dan status di media sosial. Untuk transaksi dan bisnis masih kecil. Ia juga mengungkapkan bahwa Traveloka yang aktif dalam e-commerce telah menembus usaha bisnisnya hingga luar negeri,” ujar Dandy. Diakhir ia pun menyampaikan kesimpulannya bahwa kita harus lebih sensitif dengan permasalahan kecil yang ada.

Saat ini sudah terjadi ledakan internet. Di dunia perbankan, transaksi menggunakan teknologi internet bukanlah hal baru. Direktur PT. Zico Syariah Indonesia, Akhmad Affandi Mahfudz mengungkapkan dalam generasi milenial ini notabenenya bahwa halal food mencapai 80% merupakan impor barang, maka terobosan untuk menghadapi industri-industri saat ini adalah mengembangkan potensi market place dari pesantren-pesantren di Indonesia. “Cuma dalam mengembangkan bisnis syari’ah secara digital tetap harus mematuhi koridor-koridor yang ditetapkan dalam hukum bisnis syari’ah,” tegasnya.

Dalam kesempatan ini, Deputi Keuangan Syari’ah Bank Indonesia Rifki Ismal membenarkan bahwa era digitalisasi tidak bisa terhindarkan. Menurutnya Bank Indonesia siap memfasilitasi bisnis syariah digital. (Tonny Ilham)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *