Menjelang Pendirian Fakultas Kedokteran, Ketua YPTD dan Rektorat UNIDA Gontor Adakan Studi Banding Lanjutan

Menjelang Pendirian Fakultas Kedokteran, Ketua YPTD dan Rektorat UNIDA Gontor Adakan Studi Banding Lanjutan

Yogyakarta – Menjelang pendirian Fakultas Kedokteran Universitas Darussalam Gontor, Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Darussalam Pondok Modern Darussalam Gontor, Rektor, Wakil Rektor, Direktur Kampus UNIDA Gontor Putri, Dekan beserta Wakil Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan UNIDA Gontor mengadakan studi banding lanjutan ke Fakultas Kedokteran Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta setelah sebelumnya melakukan studi banding ke beberapa instansi di Jakarta pada tanggal 16 hingga 17 Oktober 2019.

Studi banding kali ini diikuti oleh Drs. K.H. M. Akrim Mariyat, Dipl.A.Ed., Prof. Dr. Amal Fathullah Zarkasyi, M.A, Dr. Setiawan bin Lahuri, M.A., Dr. Nur Hadi Ihsan, MIRKH,. Selain itu didampingi juga oleh Sekretaris Rektor, Staf Arsip & Dokumentasi. Yaitu, Novan Fatchu Alafianta dan Indra Ari Fajari. Acara ini dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 23 Januari 2020. Bertempat di Gedung Fakultas Kedokteran Kampus 4 Universitas Ahmad Dahlan (UAD) lantai 5. Dimulai pada pukul 08.30 WIB hingga shalat Dzuhur tiba. Pihak UAD begitu antusias menyambut kedatangan tamu dari UNIDA Gontor.

Rektor UAD Bapak Dr. Muchlas Arkanuddin, M.T memberikan cinderamata kepada Rektor UNIDA Gontor Prof. Dr. Amal Fathullah Zarkasyi, M.A.

Rektor UAD Bapak Dr. Muchlas Arkanuddin, M.T., dan juga jajaran pimpinan Fakultas Kedokteran UAD yaitu, dekan Prof. Dr. dr. Rusdi Lamsudin, Sp.S (K), M.Med, Sc, wakil dekan dr. Agus Sukaca, M.Kes, kepala program studi pendidikan kedokteran dr. M. Junaidy Heriyanto, Sp.B FINACS, dan kepala program studi pendidikan profesi dokter dr. Barkah DP, Sp.PD. Beliau berlima menceritakan proses pengajuan Fakultas Kedokteran UAD dari penyusunan proposal, pembangunan infrastruktur, hingga rekruitmen sumber daya manusia.

Bapak Dr. Muchlas Arkanuddin, M.T mengawali sambutan dengan mengemukakan bahwa Fakultas kedokteran UAD diinisiasi sejak 2012 kemudian SK turun pada 22 Maret 2018.

“Ada beberapa faktor eksternal yang perlu diperhatikan, di antaranya faktor politik dengan cara mengerahkan semua potensi dalam menggerakkan Kementerian. Selain itu, dalam aspek administrasi juga terdapat moratorium yang bisa buka tutup kadang tidak jelas batasnya. Dalam menyiapkan infrasturktur hendaknya direncanakan dengan sematang mungkin dari melengkapi fakta integritas untuk melengkapi infrasturktur sampai laboratorium yang tidak boleh menggunakan konsep common use namun harus khusus dan ekslusif”.

Lebih dari itu, Dr. Muchlas Arkanuddin menjelaskan “borang pengajuan harus sempurna tidak ada plagiasi dan spesifik, juga ada kekhasan Fakultas Kedokteran, kukhususnan, dan keunikan. Contohnya, Kekhususan UAD adalah kebencanaan dengan jumlah minimal 26 dosen tetap.” Demikian sambutan bapak rektor.

Rombongan UNIDA Gontor disambut dengan hangat oleh jajaran Rektorat UAD

Dekan FK UAD Prof. Dr. dr. Rusdi Lamsudin, Sp.S (K), M.Med, Sc, menambahkan. “ Terkait SDM, kita harus memiliki sumber daya manusia yang utuh baik tenaga pendidik, profesi spesialis, layanan klinis. Yang paling sulit adalah menjadi PT (FK) Pembina karena minimal akreditasi harus A, selain itu modalnya juga besar. Oleh karena itu, perlu ada jalinan kerjasama dengan Rumah Sakit: Pendidikan Utama & Satelit, juga harus ada komunikasi lebih awal, ada MoU, dan Kurikulum.”

Lanjut Prof. Dr. dr. Rusdi “Hal lainnya adalah mendapatkan persetujuan dari Pemda setempat. Sebagai contoh, UII menggunakan RSUD Madiun sebagai RS Pendidikan Utama. Sekali lagi saya tekankan, dari sekarang perlu membangun komunikasi, ciptakan sinergi dengan Rumah Sakit dan Pemda di mana saja. Perlu mengerahkan semua potensi yang ada. Yang saya tahu, Gontor sudah memiliki 125 dokter dan itu modal yang sangat penting.”

Kepala program studi pendidikan profesi dokter dr. Barkah DP, Sp.PD. juga menambahkan. “26 dosen tetap saat visitasi harus sudah ada dan akan ditanyakan oleh asesor. Hendaknya mencari SDM dokter kemudian disekolahkan untuk lanjut master. Perlu adanya ciri khas, alasan kenapa FK layak didirikan. Kekhususan harus mencapai 10% dari keseluruhan kurikulum, 10% Kekhususan tidak hanya akademik tapi juga pada tahap profesi. Infrastuktur sudah harus ada saat visitasi. Dibutuhkan fakta integritas untuk beberapa infrastruktur yg akan digunakan. Visitasi meliputi RS yg digunakan untuk pendidikan FK minimal menggunakan 1 RS pendidikan. Laboratorium saat visitasi bisa pinjam dulu tapi harus ada fakta integritas, ada jaminan dari PT bahwa FK dijamin oleh Yayasan atau PT.”

Sambutan terakhir dari wakil dekan FK UAD Bapak dr. Agus Sukaca, M.Kes. “Fakultas Kedokteran yang menjadi Pembina, minimal akreditasi A dan hanya membina 2 PT, RS Pendidikan Utama minimal akreditasi B, Visitasi sampe ke ruang2 koas, ruang dosen, mahasiswa dan semua fasilitas yang ada. RS Satelit boleh tipe C atau D. Semakin banyak RS Satelit semakin baik untuk pendidikan profesi. Perlu ada MoU dg RS Afiliasi yang pada biasanya tidak ada di RSU. Seperti RS Jiwa, Forensik dan lainnya. Kerjasama dengan Dinas Kesehatan di tingkat pratama: Puskesmas dls. Artinya, MoU secara sederhana menimbulkan cost yang tidak sedikit atau high cost.”

Rombongan UNIDA Gontor meninjau langsung sarana dan prasarana di FK UAD

Acara studi banding ini kemudian diakhiri dengan meninjau langsung sarana dan prasarana di FK UAD mulai ruang kuliah dan tutorial yang seluruhnya full ac dilengkapi dengan lcd projector, sound system, video player, dan white board serta perpustakaan, juga laboratorium: mikroskopis, biomedik, latihan keterampilan, klinik, multimedia, dan anatomi.

Usai shalat zuhur dan makan siang, rombongan UNIDA Gontor berdiskusi dengan dr. Taniem Nawawi alumni Gontor 2008, dr. Martya lulusan FU UII alumni Gontor 2006, dan Faizald yang saat ini masih mengikuti program Koas di UNS alumni Gontor 2014, diskusi tersebut terkait pendidikan dan profesi kedokteran di kalangan alumni Gontor, yang nantinya diharapkan dapat berkiprah dan berkontribusi di Fakultas Kedokteran UNIDA Gontor.

Dengan adanya studi banding ini, diharapkan UNIDA Gontor dapat belajar banyak terkait pengalaman dan pengelolaan yang dilakukan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Ahmad Dahlan (UAD) yang belum lama berdiri namun sudah banyak prestasi. Kami memohon do’a dari semua pihak agar Fakultas Kedokteran UNIDA Gontor yang direncanakan akan didirikan menjelang 100 tahun Gontor dapat berjalan dengan lancar dan memberikan manfaat yang seluas-luasnya. [Dr. Setiawan bin Lahuri, Indra Ari Fajari, Novan Fatchu Alafianta]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *