Dr. Rizal Ramli : Meniadakan Jumlah Batas Pajak Minimum Bagi UKM, Sebagai Solusi Kesejahteraan Umat

Dr. Rizal Ramli : Meniadakan Jumlah Batas Pajak Minimum Bagi UKM, Sebagai Solusi Kesejahteraan Umat

UNIDA Gontor – “Meniadakan jumlah batas pajak minimum bagi usaha kecil sehingga modalnya terus berkembang atau menurunkan jumlah batas pajak minimum bagi usaha menengah sehingga tidak terlalu membebankan, dan kemudian menaikan atau mewajibkan kepada seluruh pengusaha yang besar untuk membayar pajak yang telah ditetapkan adalah solusi konkrit pendongkrak ekonomi Indonesia. Sehingga dengan ini perekonomian di Indonesia dapat stabil penuh keadilan dan mensejahterakan seluruh elemen masyarakat”. Ungkap Dr. Rizal Ramli pada acara Kuliah Umum di Universitas Darussalam Gontor (15/10).

Dr. Rizal Ramli adalah sosok perubahan ekonomi Indonesia. Sang Penerobos adalah julukan yang pas karena ide-idenya yang tidak konvensional namun tepat sasaran dan memihak kepada masyarakat. Mantan Menteri Keuangan Indonesia ke-23 pada masa Presiden Abdurrahman Wahid ini, pernah dipercaya sebagai anggota tim panel penasehat ekonomi PBB bersama beberapa tokoh ekonom dari berbagai negara lainnya. Karena ingin fokus mengabdi pada negara dan bangsa Indonesia, Rizal pernah menolak jabatan internasional sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) Economic & Social Commission of Asia and Pacific (ESCAP) yang ditawarkan PBB pada November 2013.

Kedatangan beliau di Universitas Darussalam Gontor adalah untuk memberikan kuliah umum dengan tema “Potensi Ekonomi Indonesia Dalam Memacu Kesejahteraan Rakyat Indonesia”. Kuliah Umum yang bertempat di Hall lantai 4 Gedung Terpadu dihadiri oleh seluruh civitas akademika Universitas Darussalam Gontor. Acara ini dimulai pada jam 10.00 WIB. Tembang “Sewu Kuto” yang diiringi oleh DIMENSI Band UNIDA Gontor menyambut hangat langkah kaki beliau menuju panggung kehormatan. Kemudian diakhiri dengan Tarian Molulo khas daerah Kendari yang dipersembahkan oleh Mahasiswa. Di waktu yang sama saat beberapa mahasiswa tersebut menari Molulo terlihat Dr. Rizal Ramli beserta rombongan sangat terhibur sehingga mereka sumringah dan tersenyum indah melihat penampilan tersebut sebagai rasa senang terhadap sambutan yang telah diberikan.

Di awal acara, Prof. Dr. Amal Fathullah Zarkasyi, M.A. selaku Rektor Universitas Darussalam Gontor memberikan sambutan hangat dan ucapan Selamat Datang kepada Dr. Rizal Ramli beserta rombongan. Dalam sambutannya beliau mengatakan “Ahlan Wa Sahlan kepada Dr. Rizal Ramli dan rombongan yang telah menyempatkan waktunya untuk hadir di kampus kita tercinta ini, kita sama-sama dari luar negri, saya dari London, sedangkan Dr. Rizal Ramli dari Taiwan, namun Alhamdulillah kita bisa dipertemukan disini dalam keadaan sehat wal ‘afiat”. Diakhir sambutannya beliau menghimbau kepada seluruh civitas akademika untuk menyimak dan mengikuti acara dengan baik serta bisa mengambil ilmu dan pelajaran dari kuliah umum yang akan disampaikan pada hari ini.

Dengan penuh wibawa Dr. Rizal Ramli menyampaikan Kuliah Umumnya yang Inspiratif dan Inovatif. Diawal

Pemberian Cinderamata dari Rektor UNIDA Gontor Kepada Dr.Rizal Ramli

Pemberian Cinderamata dari Rektor UNIDA Gontor Kepada Dr.Rizal Raml

pembicaraannya, Rizal mengatakan bahwa hidup mandiri, ulet, kreatif adalah kunci kesuksesan hidup. Perekonomian dan perkembangan Indonesia apabila dilihat melalui pendekatan historis maka hasilnya memang positif dan memiliki banyak perkembangan dari zaman penjajahan hingga sekarang, namun apabila ditinjau melalui pendekatan comparative analysis dengan negara tetangga dan negara maju lainnya Indonesia masih sangat tertinggal jauh. Maka jangan mau diiming-imingi oleh orang-orang yang mengatakan bahwa Indonesia sudah maju dan berkembang, ini adalah tugas kita bersama dalam membangun Indonesia.

Perekonomian di Indonesia diibaratkan seperti gelas yang memiliki kaki. Pengusaha besar ada banyak dan besar, usaha menengah ada sedikit, dan usaha kecil ada banyak sekali. Ketidakadilan dalam sistem perekonomian Indonesia termanifestasi dari penetapan pajak kepada seluruh usaha yang ada. Bagi pengusaha yang besar ini bukanlah menjadi beban, namun bagi usaha yang menengah dan kecil ini hanya akan menyumbat perputaran modal mereka. Akibatnya yang kaya makin kaya, dan yang miskin makin miskin. Sehingga inilah yang beliau istilahkan sebagai Kemiskinan Struktural.

“Di Norwegia dan negara Skandinavia matahari cuma muncul sebentar, sehingga masyarakat disana harus dipaksa menghemat makanan satu minggu untuk satu tahun kedepan ketika matahari tidak turun, berbeda dengan Indonesia negara kesayangan Allah yang mataharinya sepanjang tahun gak berhenti-henti namun untuk menyimpan makanan satu minggu saja tidak bisa. Di Australia air sangat susah, sehingga untuk mandi, minum, dan menyiram pohonpun mereka harus menampung air hujan, berbeda dengan Indonesia negara kesayangan Allah yang airnya melimpah sampai banjir 3 hari 3 malam gak abis-abis, semua negara-negara yang serupa melakukan protes terhadap tuhan! Karena di Indonesia lebih sejahtera negaranya”, paparnya dengan tegas pada seluruh peserta.

Dr. Rizal Ramli menutup Kuliah Umum dengan mengatakan bahwa Indonesia memiliki potensi sumber daya alam melimpah, namun Indonesia tidak pernah diberikan pemimpin yang baik dan bisa mensejahterakan rakyatnya seperti negara-negara diatas. Begitupun dengan rakyatnya ketika berdoa mereka tidak pernah mendoakan supaya diberikan pemimpin yang baik, amanah, dan bisa mensejahterakan rakyatnya “Itulah keadaan negara kita sesungguhnya”, tandasnya.

Ilham Abadi dan Ranh Imaduddin Farhan selaku ketua panitia penyelenggara Kuliah Umum Bersama Dr. Rizal Ramli sangat bersyukur karena acara ini dapat berjalan dengan lancar dan khidmat. Dalam wawancaranya ketua panitia mengajak kepada seluruh mahasiswa dan civitas akademika yang ada untuk senantiasa berdoa demi kebaikan negara kita Indonesia agar diberikan pemimpin yang amanah sebagaimana yang diharapkan oleh Dr. Rizal Ramli dalam kalimat penutup kuliah beliau. Dan dengan itu dapat menjadikan negara kita negara yang besar dan makmur serta menghadirkan pemimpin yang dapat mensejahterakan rakyatnya dengan segala potensi sumber daya alam dan ekonomi yang kita punya.[Vikri Pramana Putra]