Dr. Abdul Hafidz Zaid: Makna Kedzaliman

Dr. Abdul Hafidz Zaid: Makna Kedzaliman

UNIDA Gontor –Wakil Rektor III Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor Dr. Abdul Hafidz, M.A. dalam kuliah tujuh menit setelah shalat shubuh menyampaikan nasihat tentang makna kedzaliman di hadapan dosen, mahasiswa dan peserta kampung ramadhan UNIDA Gontor. Rabu, (8/05/2019).

Mengawali kultumnya, beliau membacakan Hadits Qudsi yang di riwayatkan oleh Abu Dzar al-Ghifari tentang kedzaliman.

عَنْ أَبِـيْ ذَرٍّ الْغِفَارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّـى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْمَـا يَرْوِيْهِ عَنْ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنَّهُ قَالَ : «يَا عِبَادِيْ ! إِنِّـيْ حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَـى نَفْسِيْ ، وَجَعَلْتُهُ بَيْنَـكُمْ مُحَرَّمًا ؛ فَلاَ تَظَالَـمُوْا

Dari Abu Dzar al-Ghifari Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam meriwayatkan firman Allah Azza wa Jalla , “Wahai hamba-Ku! Sesungguhnya Aku mengharamkan kedzaliman atas diri-Ku dan Aku menjadikannya haram di antara kalian.

Apa arti kedzaliman? Dzalim itu meletakan sesuatu tidak pada tempatnya. Dalam hal ini beliau memberikan sebuah permisalan dengan seorang hamba yang dalam keadaan sehat, kondisi cuaca tidak sedang hujan, tidak memiliki udzur, tidak ada halangan untuk sholat berjama’ah ke masjid, namun ia tidak berangkat untuk menunaikan sholat berjama’ah di masjid itu merupakan suatu kedzaliman.

“Seorang guru yang tidak memberikan nilai sesuai dengan kadar kemampuan dan haknya murid merupakan suatu kedzoliman. Begitu juga dengan murid yang memiliki kemampuan untuk belajar namun tidak memanfaatkannya dengan baik maka dia telah berbuat dzolim terhadap dirinya sendiri”. Paparnya.

Doktor dalam bidang Pendidikan Bahasa Arab ini mengungkapkan kedzoliman terbagi menjadi tiga, dzolim terhadap Allah, dzalim sesama manusia dan dzalim terhadap diri sendiri.

Selain itu, beliau juga menjelaskan amanah yang di emban manusia sebagai kholifatul fi ardi dengan membacakan surat al-ahzab ayat 72 :

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat dzalim dan amat bodoh.

Dalam riwayat dikatakan bahwa amanah pertamakali adalah taklif untuk melakukan kewajiban-wajiban. Karena yang mampu melaksanakanya hanya manusia, langit dan bumi tidak mampu melaksanakan kewajiba tersebut. Didalam tabi’at manusia memiliki sifat kedzaliman, sifat kejahilan yang pada akhirnya menerima amanat ini.

Berkenaan dengan amanah, pengurus dari Divisi Kerjasama Luar Negeri Ittihad Mudarrisi al-Lughah al-Arabiyyah ini mengungkapkan Amanah jika diartikan dalam konteks kepemimpinan, kita harus betul-betul jeli sehingga orang yang memikul amanat ini merupakan orang-orang yang bisa istihdam allah ta’ala yaitu orang yantg bisa meminta petunjuk kepada Allah SWT orang-orang yang diberi petunjuk adalah yang memang ibadahnya baik, sholat, puasa, melaksanakan amal sholeh.

“Bagaimana mungkin Allah memberikan petunjuk padahal ia tidak pernah sholat, padahal petunjuk tersebut tertulis jelas dalam surat al-fatihah yang sering kita baca 17 kali sehari dalam sholat. Seorang pemimpin mestinya sholatnya lebih banyak daripada yang dipimpinnya karena ia membutuhkan ihdinashiratol mustaqim, ia juga membutuhkan iyaka na’budu wa iyaka nasta’iin.” Jelasnya.

Diakhir kultumnya beliau mengajak kepada seluruh jama’ah sholat shubuh menghindari dari perbuatan dzolim. “Marilah kita jaga diri, kawan untuk tidak mendzolimi orang lain, Allah dan diri sendiri. Semoga kita semuanya menjadi orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allh swt dan selalu bertawakal kepadaNya”. [H.Wafi]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *