Berbagi Kedamaian di Masjid Varazdin, Kroasia, Eropa

Berbagi Kedamaian di Masjid Varazdin, Kroasia, Eropa

Memasuki halaman Masjid Varazdin, sebuah pemandangan yang begitu meneduhkan hati tersaji. Halaman masjid tersebut memiliki sebuah taman dimana di tengahnya terdapat sebuah tempat wudhu yang unik.

Delegasi Safari Ramadhan dari Universitas Darussalam Gontor dan KBRI Zagreb berkesempatan merasakan kedamaian tersebut pada Ahad, 2 Juni 2019.

Rombongan yang terdiri dari Ust M. Taufiq Affandi, Bpk Henry Soratangsu, Bpk Iqbal, Bu Wirdah Habsyi, Bpk Yogi Nurhalim, dan Bu Yosi tersebut diterima langsung oleh Imam Masjid Varazdin, Idriz Hasanović.

Dari luar, masjid tersebut sekilas tampak seperti rumah ataupun kantor bertingkat dua. Di dinding luar terpampang tulisan; Medžlis Islamske zajednice Varaždin. Di dalam masjid tersebut, selain ruang utama untuk shalat, terdapat beberapa ruang kantor serta tempat bagi Imam.

Tempat wudhu yang unik

Sembari menanti maghrib, sebuah pertemuan di halaman masjid digelar. Imam Idriz menyampaikan rasa senangnya atas kedatangan rombongan Safari Ramadhan ke masjid tersebut.

Kemudian Ust Taufiq diberi kesempatan untuk memberikan sambutan sekaligus pemaparan singkat tentang ummat Islam di Indonesia. “Hari ini kami hadir di sini dan merasakan kedamaian, seolah-olah kami berada di sebuah taman dari taman-taman surga,” ungkap Ust Taufiq membuka sambutan.

Kunci Kedamaian

Ust Taufiq lalu mengapresiasi betapa beragamnya latar belakang etnis dan bangsa yang hadir pada kesempatan tersebut sebagai jamaah Masjid Varazdin. Meskipun masjid ini berada di sebuah kota di Kroasia, namun jamaahnya berasal dari Bosnia, Sudan, Macedonia, Bangladesh, Syiria, Indonesia, dan berbagai latar belakang bangsa lainnya.

“Demikian juga di Indonesia yang memiliki 17 ribu pula, memiliki berbagai suku yang berbeda, namun hidup dalam kedamaian,” lanjutnya.

Menurutnya, bagi ummat Islam kunci dari menjaga kedamaian dan kerukunan Indonesia tersebut adalah dengan tiga hal. Pertama, memiliki aqidah yang benar dan kuat; kedua, pendidikan yang tepat; dan ketiga, pendekatan budaya yang dapat membumikan nilai khususnya bagi generasi muda.

Jamaah hingga radius 75 km

Ketika adzan berkumandang, setelah menikmati air dan kurma untuk membatalkan puasa, segenap rombongan beserta jamaah yang ada masuk ke dalam masjid yang ruang dalamnya berkapasitas sekitar tujuh puluh orang tersebut untuk menunaikan shalat maghrib.

Imam Idriz sempat menjelaskan, pada shalat Ied, jamaah di masjid yang didirikan pada 1996 tersebut dapat mencapai hingga 150 hingga 250 orang. “Sebagian jamaah tersebut datang dari jarak 75 km dari rumah mereka. Karena memang masjid ini adalah yang terdekat bagi mereka.”

Selepas shalat, momen buka puasa bersama di halaman masjid bersama seluruh jamaah, dengan ditemani gemericik air mancur di taman, serta menu makanan yang merupakan pertemuan dari budaya Eropa tengah dan tenggara, menyempurnakan manisnya kedamaian yang dirasakan pada malam tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *