Bagaimana membuat murid percaya pada Guru?

Bagaimana membuat murid percaya pada Guru?

Dari “Tilang I’dad” hingga “Jangan Mutlak-mutlakan” (Tentang Percaya, Bagian 2)

oleh: Taufiq Affandi

 

Kiai Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal, pada sebuah munasabah mengatakan, “Jika kamu mendapat tugas, jangan katakan ‘terima kasih atas kepercayaan ini’, tapi katakan ‘terima kasih atas amanat ini’. Karena yang diberikan kepadamu belumlah menjadi sebuah ‘kepercayaan’ hingga kamu dapat membuktikannya.”

Beberapa hari yang lalu, setelah terbit tulisan “Penjelasan Ilmiah mengapa Murid harus Percaya kepada Guru,” muncul sebuah pertanyaan dan wacana yang sangat valid di laman komentar, “Tantangan yang dihadapi oleh sistem pendidikan dan para guru adalah: bagaimana mereka bisa ‘dipercaya’ oleh para peserta didik?”

Pertanyaan tersebut sangat menarik karena artikel yang pertama tersebut yang disasar adalah pendidikan dari sisi sang murid, belum dari sisi sang pendidik. Tulisan di atas sebenarnya judul awalnya adalah “Tentang Percaya”. Jadi mari sekarang kita melanjutkan ke bagian kedua dari “Tentang Percaya” dari segi pendidik.

Lisa Firestone, Ph.D., di laman Psychology Today, menulis artikel berjudul “5 Ways to Build Trust and Honesty in Your Relationship”. Artikel tersebut membahas 5 cara untuk membangun kepercayaan dalam hubungan anda. Yaitu; 1) Ketahui dirimu sendiri dan niatmu, 2) Buatlah perbuatanmu sesuai dengan perkataanmu, 3) Tuluslah dalam reaksimu, 4) Terbukalah untuk masukan, dan 5) Terimalah pasanganmu sebagai orang lain.

Sekarang mari kita coba membahas kelima poin tersebut dari berbagai hikmah dan falsafah pendidikan yang diajarkan di Gontor.

Seorang pendidik harus aktif bertanya pada anak didiknya

Poin pertama

Bagian depan dari poin pertama, ketahui dirimu sendiri, dalam kamus Gontor, adalah penjabaran dari mahfuzhat, “Celakalah orang yang tidak mengetahui kadar dirinya.” Mengetahui kadar di sini tentunya bukan hanya berarti mengetahui kekurangan, tapi juga mengetahui kelebihan.

Guru yang memiliki kekurang-pahaman dalam sebuah materi, harus mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh dalam mengajar. Maka disiplin persiapan mengajar di Gontor sangat ketat, hingga ada istilah “Tilang I’dad”, alias “tilang persiapan”. Artinya, guru yang kedapatan tidak membuat persiapan yang layak, akan ditilang, ya, dicegat; sehingga ia tidak bisa masuk kelas.

Lalu bagaimana guru yang mengetahui kelebihannya? Dia, salah satunya, harus aktif dalam keliling malam, bertanya kepada santri, pelajaran apa yang tidak ia pahami, lalu menjelaskan dengan gamblang. Tanpa perlu menunggu ditanya.

Sedangkan bagian akhir dari poin pertama, ketahui niatmu, adalah sebuah penegasan dari hadith Rasulullah SAW, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya,” (HR Bukhori)

Poin kedua

Poin kedua, “Buatlah perbuatanmu sesuai dengan perkataanmu,” sering ditekankan oleh KH Hasan Abdullah Sahal dengan sebuah ucapan, “Banyak orang yang bisa memberi contoh, namun tidak banyak yang bisa menjadi contoh.”

Bahkan beliau dengan tegas mengatakan, “Tidak ada keberhasilan tanpa disiplin. Tidak ada disiplin tanpa keteladanan.

 

Pak Zar saat di Mesir. Tampak Ustadz Syukri (ketiga dari kiri) mendampingi beliau. Bagi Ustadz Syukri, Pak Zar adalah bapak sekaligus guru.

 

Poin ketiga

Pada poin ketiga tentang ketulusan, ada rumusan yang sangat kuat mengakar di Gontor, dan ditanamkan berulang kali kepada seluruh pendidik di Gontor bahwa inti dari inti, core of the core dari sistem pendidikan Gontor adalah apa yang disebut dengan “ruuhul mudarris”, jiwa guru.

Jadi, misalnya ada seorang ahli, atau bahkan ahlinya ahli matematika, datang dan ingin mengajar, itu sama saja tidak ada artinya jika ia tidak memiliki jiwa guru.

Lalu apa sebenarnya ‘rumusan’ atau falsafah itu? Falsafah pendidikan di Gontor tersebut lengkapnya berbunyi “Metode lebih penting daripada materi, guru lebih penting daripada metode, namun jiwa guru lebih penting daripada guru itu sendiri.”

Kata-kata itu diucapkan berulang kali hingga sampai ‘bosan’. Sedikit cerita, terkait ‘bosan’ ini, Dr Hamid Fahmy Zarkasyi (saat ini Wakil Rektor I UNIDA Gontor) pernah bertanya kepada ayahnya, Pak Zar, salah satu Trimurti Pendiri Gontor.

Pertanyaannya, “Bapak, itu anak-anak setiap pertemuan mendengar hal yang sama yang diulang berkali-kali; apa mereka tidak bosan?”

Jawaban Pak Zar, sapaan khas KH Imam Zarkasyi, sangat mengejutkan, “Ya tidak apa-apa bosan. Kalau mereka bosan, itu tandanya mereka sudah hafal.”

Hal tersebut, dengan redaksi yang berbeda sangat sering juga disampaikan oleh Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, KH Abdullah Syukri Zarkasyi, bahwa untuk menanamkan suatu nilai dan pendidikan harus disampaikan “Ping Sewu”, seribu kali.

Kembali ke pembahasan tentang jiwa guru di atas. Karena ‘doktrin’ bahwa jiwa guru adalah yang terpenting mengakar begitu kuat, maka sangat susah bagi seorang pendidik di Gontor untuk mendidik dengan ‘asal-asalan’, ‘mood-mood-an’, apalagi tidak bertanggung jawab. Semangat untuk bertanggung jawab inilah yang membuat murid percaya dengan gurunya. Guru, karena dia akan mendidik, maka terlebih dahulu jiwanya harus sesuai dengan apa yang akan ia didikkan; ia harus memiliki Panca Jiwa yang terpancar dalam tiap pola pikir, sikap dan tingkah lakunya.

 

Poin keempat

Masuk ke poin ke empat, tentang keterbukaan. Hal yang unik yang pasti dialami seluruh santri Gontor adalah betapa di Gontor sistem pendidikan dan kehidupan, mayoritas berlangsung secara bottom-up. Pendidik di Gontor membuka kesempatan yang sangat lebar untuk ide dari santri. Ada musyawarah kerja asrama, muker OPPM, musyawarah gugus depan, dan sederet kesempatan lainnya untuk menyampaikan inspirasi dan aspirasi.

Namun dengan memiliki keterbukaan tidak lantas menjadi goyah ataupun plin-plan. Kiai Hasan berkali-kali menegaskan, bahkan dalam amanatnya di Khutbatu-l-Arsy; “Keterbukaan: yes, intervensi, no.”

Mengapa dalam sebuah dunia pendidikan intervensi itu adalah bencana? Karena naluri pendidik tidak boleh dicampuradukkan dengan naluri pedagang, ataupun naluri lainnya yang tidak sejalan dengan pendidikan. Jika naluri lain mencampuri pendidikan, pendidikan akan bubar. Jika lembaga pendidikan nalurinya adalah naluri bisnis, maka sebenarnya murid sedang masuk ke dalam sebuah toko, bukan sebuah lembaga pendidikan.

 

Penandatanganan piagam wakaf. Status Gontor sebagai institusi yang diwakafkan adalah sudah baku dan tidak dapat diubah.

Poin kelima

Di poin yang terakhir, untuk menerima orang lain sebagai orang lain, Lisa Firestone, Ph.D. menjelaskan bahwa yang ia maksudkan adalah, “No matter how connected we may feel to someone else, we will always be two separate people with two sovereign minds. If our partner doesn’t see things the same way we do, it doesn’t necessarily mean they’re lying. It just means that we are two people who observe the world from different perspectives.”

Dengan kata lain, sedekat apapun kita dengan seseorang, pasti ia dalam beberapa titik memiliki perbedaan dengan kita, karena bisa saja ia melihat sesuatu dari perspektif yang berbeda.

Terkait hal ini, dalam Kemisan terakhir tahun ajaran 1439-1440 yang berlangsung kemarin, Kamis (21/3/2019). Ustadz Hasan (demikian biasanya santri Gontor menyebut KH Hasan Abdullah Sahal diantara mereka), menegaskan kembali apa yang disampaikan oleh Pendiri Gontor; “Jangan mutlak- mutlakan.”

Ini kata dalam bahasa Indonesia namun dengan tarkib (sususan kata) yang lebih mendekati Jawa. Kurang lebih maknanya adalah jika kita memiliki pendapat, jangan menganggap pendapat tersebut haruslah diterima orang lain.

Tentu saja konteks dari pernyataan ini adalah pada pendapat yang bersifat ijtihadi. Misalnya dalam menentukan “apakah sebuah kegiatan boleh dilakukan oleh tidak”, “bagaimana strategi untuk meningkatkan disiplin dan kemampuan akademis santri,” ataupun pertanyaan ijtihadi lainnya. Bukan dalam ranah pendapat yang sudah pakem.

Ranah yang sudah pakem dalam Islam adalah Tauhid. Ranah yang sudah pakem dalam Gontor adalah nilai dan falsafah Gontor, yang terdeskripsikan dalam referensi-referensi utamanya.

Karena terkait hal yang pakem ini, Pimpinan Pondok juga sudah menegaskan bahwa, “Pelaksanaan isi Piagam Penyerahan Wakaf PMDG 1958, ide, nilai-nilai, sistem, isi, dan misi dari Trimurti (pendiri PMDG) sudah baku, pakem, solid, konsisten, dan disiplin dalam pelaksanaannya.” (Baca: https://www.gontor.ac.id/putri1/gontor-mengawal-sistem-dan-nilai-pesantren-bagi-kejayaan-umat-dan-bangsa)

Baris akhir

Sebagai baris akhir, jika kelima poin di atas diterjemahkan kembali dalam perspektif Gontor, maka untuk menciptakan rasa percaya murid kepada pendidik maka dibutuhkan;

1) Miliki niat yang ikhlas yang jelas dan persiapan mendidik yang maksimal

2) Jadilah teladan

3) Perkuat jiwa guru

4) Miliki keterbukaan, tapi jangan terima intervensi

5) Jangan mutlak-mutlakan

Kelima poin tersebut harus berjalan secara simultan dan beriringan untuk menumbuhkan rasa percaya murid kepada pendidik, baik dia itu guru, ustadz, dosen, trainer, motivator, atau apapun namanya.

Demikian ulasan sederhana tentang topik ‘percaya’ ini. Bagaimana menurut antum? Apa hal yang menurut antum paling tepat untuk menumbuhkan kepercayaan? Silakan tuliskan pendapat antum di kolom komentar.

Wallahu a’lam bisshowab.

 

Artikel Terpopuler

Ternyata Bahasa Arab di Gontor Diajarkan untuk Tujuan ini
PERSEMAR GONTOR (On Memoriam Peristiwa 19 Maret 1967)
Ikuti Latihan Menembak Nasional, MENWA UNIDA Gontor Masuk 10 Besar Penembak Terbaik di Malang
Ustadz Kholid : “Wisdom Alumnus”, Standar Lulusan Unida Gontor

 

Artikel Terkait:

Rencana Short Course Bahasa Arab, Mahasiswa Kyoto University Jepang di UNIDA Gontor
Unida Gontor Akan Kembangkan Pembelajaran Bahasa Arab Digital
Dr Dihyatun Masqon: Bahasa Arab, Bahasa Peradaban dan Budaya
Dekan Fakultas Sastra Arab Universitas King Saud Melatih Pengajaran Bahasa Arab di UNIDA Gontor
Ternyata Cara Berdoa Orang Shaleh Berbeda

 

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *