Lanjutkan Safari Workshop di Jakarta, PKU VIII Disambut Pondok Pesantren Darunnajah

Lanjutkan Safari Workshop di Jakarta, PKU VIII Disambut Pondok Pesantren Darunnajah

JAKARTA–Safari workshop yang digelar Program Kaderisasi Ulama (PKU) VIII Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor telah memasuki minggu terakhir, sejak dimulai pada awal Februari 2015 lalu dari Kota Lamongan. Kini, rombongan telah tiba di Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta pada Sabtu (28/2) malam.

Mereka mendapat sambutan hangat dari Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta, salah satu pondok alumni Gontor yang dirintis K.H. Abdul Manaf Mukhayyar bersama Drs. K.H. Mahrus Amin. Seminggu di Jakarta, PKU VIII menjadi tamu kehormatan Darunnajah. Mereka disediakan tempat menginap selama menggelar workshop di berbagai pondok pesantren dan perguruan tinggi di daerah Jabotabek dan Banten.

Pada Ahad (1/3) malam, workshop bertema tantangan pemikiran dan peradaban Islam dilaksanakan PKU VIII di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Darunnajah, perguruan tinggi di bawah naungan Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta, bertempat di Aula Kampus Darunnajah. Dalam kesempatan ini, dua pembicara dari peserta PKU VIII dihadirkan di hadapan mahasiswa dan mahasiswi STAI Darunnajah. Salah satunya, M. Aqil Azizy, membahas tentang pengaruh paham liberalisme terhadap pendidikan nasional Indonesia.

Masuknya paham ini, kata Aqil, melalui buku-buku pelajaran yang digunakan di sekolah-sekolah. Aqil mendapatkan sebuah buku pelajaran yang di dalamnya diajarkan cara berpacaran yang sehat. Parahnya, ilustrasi yang ada di bagian buku itu memperlihatkan seorang laki-laki muslim lengkap dengan pecinya sedang berduaan dengan seorang wanita berjilbab.

“Islam jelas melarang kita untuk mendekati zina, apalagi sampai melakukannya. Berpacaran adalah salah satu bentuk dari mendekati zina. Islam hanya membolehkan kita untuk ‘berpacaran’ setelah menikah, setelah melakukan ijab sah sebagai suami dan istri,” jelas Aqil.

Sedangkan pembicara kedua, Saiful Anwar, membahas tentang pengaruh paham feminisme dalam pendidikan keluarga. Dalam penjelasannya, paham feminisme ini telah bertransformasi menjadi gerakan kesetaraan gender, hingga menjalar kepada keluarga. Kaum feminis menuntut persamaan antara laki-laki dan perempuan dalam segala hal. Dalam ranah keluarga, seharusnya mengasuh anak hingga menyusui tidak selalu dibebankan kepada perempuan, tapi juga menjadi tanggung jawab laki-laki.

“Paham ini hanya akan merendahkan derajat kaum wanita dan bisa menghancurkan keluarga. Padahal, Islam telah menempatkan wanita dengan segala kodratnya pada derajat yang sangat mulia,” tutur Saiful.

Setelah ini, workshop masih akan berlanjut di tempat-tempat lain se-Jabotabek dan Banten dalam seminggu ke depan. Selain menggelar seminar pemikiran dan peradaban Islam ini, PKU VIII juga dijadwalkan berkunjung ke MUI Pusat untuk melaporkan hasil program mereka selama kurang lebih enam bulan, sekaligus meminta wejangan untuk langkah-langkah ke depan setelah program ini selesai.*elk

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *