Prodi ILKOM Adakan Seminar Strategi dan Regulasi Radio Lokal

Prodi ILKOM Adakan Seminar Strategi dan Regulasi Radio Lokal

UNIDA –  Radio menjadi salah satu media informasi yang sangat berpengaruh besar terhadap Indonesia sejak kemerdekaan lalu. Namun di era cyber ini radio dianggap sebelah mata setelah adanya media massa yang merajai seluruh aspek sosial masyarakat. Di era ini, semua media informasi tersedia dalam bentuk tipis dan mudah dibawa yaitu mobile phone atau gadget. Sehingga, Jika saja radio hanya mengandalkan pancaran saja tidak terhubung dengan internet, Maka siap-siap pendengar radio akan berkurang dan ditinggalkan. Hal tersebut menjadi tantangan besar dalam mempertahankan eksistensi radio akan keberadaannya di zaman modern ini. Oleh karena itu, dengan adanya radio streaming akan menjadi terobosan baru akan eksistensi yang terus menerus digemari oleh para pendengarnya.

 

Begitulah kira-kira yang di paparkan oleh Bapak Fajar A. Isnugroho, S. Sos, M.S.I. selaku komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) pusat dalam seminar “Strategi dan Regulasi Radio Lokal dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)” di Hall Hotel CIOS Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor pada hari Sabtu, 20 Februari 2015. Acara ini diselenggarakan oleh prodi Ilmu Komunikasi UNIDA yang bekerjasama dengan Perhimpunan Masyarakat Indonesia cabang Pacitan – Ngawi – Magetan – Madiun – Ponorogo atau yang sering disebut dengan (PERHUMAS PAWITANDIROGO).

 

Beliau menuturkan “Adanya radio harus memenuhi kebutuhan para pendengar yaitu sesuai formatnya bukan hanya memenuhi pribadinya dan tak hanya skill saja tapi dibutuhkan soft skillnya yang berkompeten,jujur, profesional dan bertanggung jawab terhadap program-programnya” tegasnya. Beliau juga menyinggung dengan perannya sebagai Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) “Jelas dalam hukum pers UU No 32/2002 tentang kepenyiaran  yang berlaku apabila tidak ada unsur pendidikan di dalamnya maka stasiun tersebut akan di bubarkan” Beliau menjelaskan lagi, “kami hanya sekedar mengawasi dan memperingati apabila ada hal yang mengganjal dalam penyiaran”, ujarnya ketika menjawab pertanyaan dari peserta seminar.

 

Kemudian acara di pending sebentar dengan coffee break yang sudah disediakan diluar oleh panitia. Agenda di lanjutkan kembali dengan pembicara kedua selaku direktur Suara Muslim Radio Network Surabaya, Bapak Irwitono Soewito D, M.M.. “Tanpa kita sadari MEA dalam industri broadcasting sebetulnya sudah terjadi sejak dulu, jadi bagi orang broadcasting MEA bukan sesuatu hal yang baru, sudah kuno karena dari dulu perang informasi sudah dilakukan, tutur beliau.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *